Sunday, March 22, 2009

Penikmat Gelap

Gia bingung apa yang mau Ia tulis. Darimana Ia harus mulai dan bagaimana endingnya nanti. Ending? Itu bukan bahasa Indonesia. Agak menyesal Ia memakai kata tersebut. Tapi tak ada kata yang lebih anggun dari kata itu.

Dunia itu terdiri dari siang dan malam. Dan malam adalah waktu untuk beristirahat. Tapi dunia juga seperti roda. Berputar. Sampai kadang membuat pusing makhluk didalamnya. Hari mempunyai tujuh plot untuk manusia membaginya menjadi bagian-bagian kecil kehidupan. Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, Sabtu, dan Minggu. Bagi mereka yang percaya, setiap hari mempunyai makna sendiri sehingga mempengaruhi karakter bayi yang dilahirkan pada hari tertentu. Senin adalah bunga dan Minggu adalah awan, itu segelintir yang Gia tahu.

Gia cinta dengan hari Jum’at. ‘Thank’s God tomorrow is Friday’, kalimat Ibu Guru yang sangat disetuji Gia, meskipun kembali Gia menyesal mengapa bukan bahasa Indonesia. Sekali lagi, Gia cinta hari Jum’at. Karena Gia tak perlu menyalakan lampu kecil remang-remangnya karena Ia tak harus melihat jam wekernya subuh-subuh. Mata Gia sudah terlalu lelah untuk seminggu penuh. Dalam gelap Gia bisa men-istirahatkan matanya. Dalam gelap angan Gia bisa melambung jauh sekali. Dalam gelap Gia bisa bertemu teman-temannya. Dalam gelap kehidupan lain bisa terbentuk hampir sempurna.

Sesekali kilat cahaya lewat menembus kaca. Yang Gia tahu itu adalah pantulan lampu mobil yang lewat didepan rumahnya, Tapi mungkin itu adalah cahaya lain. Dalam kamarnya yang kini gelap, Gia biasa menikmati suasana malam lebih lekat. Bunyi daun ‘krasak krusuk’ tertiup angin, suara ‘ting…ting…ting’ yang Gia kira adalah satpam memukul mukul tiang listrik, kadang kalau musim hujan tiba bunyi ‘ngok..ngok..’ tanda si kecebong telah tumbuh dewasa pun bersahut sahutan.

Direbahkannya tubuh diatas kasur dan kepalanya diatas bantal bulu angsa yang mahal itu. Ditariknya selimut untuk menutupi tubuhnya dan Gia mulai mengkerut dibalik selimutnya.

“Pergi!!” teriak Gia pada teman alam bawah sadarnya.
Temannya hanya menatapnya tajam kemudian berubah menjadi terlalu lirih dan Ia menghilang meninggalkan Gia. Gia sebel dengannya. Temannya itu hanya perhatian padanya disini saja. Namun begitu kini Gia sendiri di alam bawah sadarnya. Gia terduduk hingga tak berapa lama ada lampu sorot yang mengarah padanya. Kini Ia seperti mister Bean yang baru jatuh dari lampu sorot.

Gia menjatuhkan air matanya. Tiba-tiba dekapan halus mengikat tubuhnya. Ibu mengajaknya pergi dari bawah lampu sorot itu. Tak lama tubuhnya menjadi lebih hangat.

Angin meraung raung marah diluar rumah Gia. Hujan menyipratkan semburannya dengan liar. Daun bergoyang disko kesana kesini. Namun Gia semakin terlelap dalam kegelapan kamarnya yang semakin sejuk…

Sawangan, 22 Maret 2009
15:45:03

No comments:

Post a Comment