Showing posts with label info singkat. Show all posts
Showing posts with label info singkat. Show all posts

Wednesday, July 19, 2017

Transportation from Lebak Bulus to Monumen Nasional (Monas)

Firstly I would tell you that I write this post to practice my English writing skill. So, if you feel weird when read this, pardon me. But, I hope you can understand what I say.

Ok, I know it's hard to new people in Jakarta to traveling around this city by a public transportation. This matter happen because a lack of information about a tranportation direction (even when you at the bus station). Also, a lack of direction sign at the streets. So, it's more comfortable to see or search a streets sign (name of the street) from Google Map or Waze.

Here I tried to tell you how to get to Monumen Nasional (Monas) by a public transportation. And I will tell you a transportation to get there from Lebak Bulus Station.

To go to Monas you will ride two different bus from Lebak Bulus. First, you take bus from Lebak Bulus Station to Senen (you will see the direction sign at the front of bus "LEBAK BULUS - SENEN") and transit at SMK 57 Shelter. From there, you take bus again to Monas (take bus with "RAGUNAN - MONAS" sign) and get off the bus at Monas Shelter.

FYI, you will see two bus that has same destination but different route to Monas at SMK 57 Shelter ("RAGUNAN - MONAS via KUNINGAN" and "RAGUNAN - MONAS via SEMANGGI). Don't be confuse because they are same destination, you can take one of them.

The Route of "LEBAK BULUS-SENEN" Bus



The Route of "RAGUNAN - MONAS via SEMANGGI" Bus



The Route of "RAGUNAN - MONAS via KUNINGAN" Bus




Where is Lebak Bulus Station?

Maybe you a little bit confuse the location of Lebak Bulus Station. That is at South Jakarta, and it takes about 2 hours to get to Monas.

Lebak Bulus - Monas Map




Happy explore Jakarta. Be tough in the traffic :D

Monday, August 24, 2015

Kids Story and Indonesian Tale

Tulisan ini sudah lama pasang surut dipikiran saya. Apalagi sebagai penggemar dan penikmat dongeng, seringkali muncul harapan seperti ini.

Awalnya saya berencana bikin review tentang film Inside Out (2015) yang baru tayang sekitar seminggu ini. Tapi kelihatannya saya lebih bergairah untuk menulis di blog pribadi dulu. Jadi tadi, lagi-lagi Pixar mengeluarkan sebuah film animasi yang menarik--dan menyentuh sebenarnya. Kali ini ia bekerjasama lagi dengan Disney setelah film Brave (2012). Kali ini saya gak akan cerita soal sinopsis dan seluk-beluk film ini, itu nanti aja di blog sebelah, hehe...

Gak dipungkiri Inside Out seperti mampu menaikan image Pixar. Iya, bahkan beberapa film Pixar masuk dalam daftar "Film Favorite" saya, kayak Monster Inc. (2001), Up (2009), dan Brave. Meski, khususnya film semacam Up dan Brave tidak se-hits Monster Inc. Baiklah sekarang saya mencoba sharing soal ide ceritanya. Film Monster Inc. misalnya bercerita tentang dunia monster yang mana teranyata tidak semenyeramkan seperti stereotipnya. Bahkan dalam film ini intens sekali menyorot hubungan saling menyayangi antara Sully dan Boo. Lalu pada film Up, ini lebih membumi lagi, tentang kakek Frederick dan Russel yang berpetualang untuk mencari air terjun Falls Paradise untuk memenuhi janji Frederick pada alm. Istrinya (review Up bisa dilihat disini).

Yang menjadi sorotan utama saya dari dua contoh film tadi adalah ide ceritanya yang sederhana namun matang. Yah, anggap aja ini semacam kekesalan saya terhadap film Indonesia. Jadi begini, beberapa kali, setelah Laskar Pelangi (2008) yang booming itu, saya melihat beberapa kali ada film anak-anak yang coba dibuat. Namun kemudian tipe cerita, gaya mengharu-birunya mirip sekali dengan film pendahulunya. Kemudian ada gebrakan baru lagi di film anak-anak Garuda Di Dadaku (2009), namun setelah itu hilang saja yang namanya film anak. Mungkin ada beberapa lagi, kalo kita flashback ke awal 2000, saat itu ada Petualangan Sherina (2000) dan Denias: Senandung Diatas Awan (2006).

Pernah suatu ketika saya nonton film anak yang saya lupa judulnya (sebenarnya yang saya masuk film anak disini kalau dilihat dari kategori penonton adalah semua umur dan 13th keatas), buset, penuh sama yang namanya glorifikasi kesedihan dan kesusahan. Mungkin boleh saja sih ada cerita macem begitu, bagus juga untuk mengingatkan anak-anak Indonesia tentang orang-orang yang kurang mampu dan agar mereka bisa lebih semangat belajar. Tapi lebaynya ituloh yang gak nahan. Biasanya kalo film lebay begini tujuannya memang untuk membuat penonton terharu, tapi seringkali film begini justru malah kehilangan tujuan ceritanya, alur ceritanya. Beneran, saya sering banget bete kalau nonton film yang seperti maksa penonton untuk nangis, tapi bahkan saya gak dapet sama sekali jalan ceritanya dan maksud ceritanya.

Kadang film anak itu emang bukan cuma untuk anak-anak, kayak Brave, itukan salah satu kisah princess dari Disney. Meskipun begitu toh inti film itu bukan bagaimana menjadi putri yang baik, tapi cerita bagaimana ibu dan anak bisa mendengar satu sama lain. Atau cerita Finding Nemo (2003), yang bukan cuma cerita tentang petulangan Marlin yang mencari anaknya, tapi juga cerita bagaimana ketika seorang ayah harus mulai percaya untuk melepas anaknya ke dunia luar. Kisah yang lebih sederhana lagi, Toys Story (1995), cerita tentang mainannya Andy, dan lebih jauh lagi film ini mengisahkan tentang bagaimana Andy menyayangi mainannya--meski hanya mainan. Bahkan di film terakhirnya, saya terharu ketika bagaimana Andy harus memberikan mainan-mainan kesayangannya itu pada anak lain, dengan tujuan agar mainannya itu tidak terbengkalai. Cerita anak yang di nikmati semua kalangan usia. Tentunya dengan tidak kehilangan feeling utama cerita.

Lalu apa hubungannya dengan Indonesian Tale? kok saya cantumin di judul? Jadi gini, sering gak sih kalian nonton film anak yang didasarkan dari kisah-kisah folklor? khususnya Disney, sering banget ngankat cerita itu. Baiklah kita runut dari princess Disney, darimana saja mereka. Setau saya, Cinderella itu dari Inggris, Belle dari Prancis, Mulan dari Jepang, Jasmine asal Baghdad, Pocahontas dari suku Indian, Esmeralda dari keturunan Gipsy, Merida dari suku Nordik, dan Elsa dari Rusia.
So, sadarkan kalau folklor itu paling mudah untuk dijadikan dan disesuaikan untuk film anak. Folklor itu semacam cerita rakyat, bisa cerita legenda atau sekedar mitos (koreksi ya kalau salah). Dan folklor Indonesia itu buanyak banget. Tapi sayang, kebanyakan dari folklor ini seringkali malah berakhir di film horor. Emang folklor lebih cocok untuk film horor? hmm... sebenarnya bukan begitu, setiap folklor selalu punya banyak versi. Taukan cerita Gadis Bejubah Merah? itu cerita anak loh, tapi kalau kau baca another story nya, itu horor banget.

Jadi begitulah unek-unek saya setelah di hipnotis oleh Uya Kuya (loh? hahahaha). Oiya, sebelum film Inside Out mulai tadi, ada film pendeknya dulu. Bagus deh, ceritanya tentang gunung api. Dan yang terlintas dipikiran saya adalah, kita yang hidup dikelilingi gunung api kok kepikiran ya tentang cerita begini. Tapi yasudahlah. Ini ada lagunya, selamat menikmati :)




Friday, November 8, 2013

Sokola Rimba (book)

Hmm... mulai darimana ya? Saya juga bingung harus mulai darimana karena terlalu banyak yang bisa diceritain. Tapi mungkin kalau diceritain semua akan nyampur sama sisi emosional saya ketika baca buku ini, hehe... maklum deh, suka kelewat melankolis.

Oke...

Buku ini pertama kali diterbitkan tahun 1997 oleh Insistpress, Yogyakarta. Kemudian kembali dicetak oleh Penerbit Buku Kompas pada Mei 2013. Buku ini juga udah ada versi Inggrisnya, dengan judul Jungle School. Hmm... sebenarnya saya sudah lama tau mengenai Sokola Rimba ini semenjak kuliah. Yah, berhubung jurusan kuliah saya sama dengan tema kegiatan ini.

Memang kegiatan. Sokola Rimba ini bisa dibilang merupakan upaya pendidikan untuk Masyarakat Rimba di Bukit Dua Belas, Jambi. Saya juga awalnya tau cuma sekelebat doang, dan enggak tertarik. Sampai beberapa minggu lalu ada seminar yang diselenggarakan Palawa Unpad, temanya Perempuan dan Petualangan. Salah satu pembicara nya, ya, Butet Manurung ini. Entahlah, di seminar kali ini Butet bercerita lebih gamblang, ketimbang waktu saya ketemu beliau di Pembukaan Inisiasi (semacam ospek jurusan gitu) dua tahun yang lalu. Lalu saya memutuskan untuk beli bukunya di seminar kali itu.
Hehe... Ke makan omongan yak gue :p.

Buku ini bercerita tentang perjalanan Butet Manurung di komunitas Orang Rimba. Kala itu beliau merupakan staf pengajar dari sebuah LSM konservasi di daerah Jambi. Butet menjelaskan awalnya fokus utama upaya literasi (baca-tulis-hitung) kepada Orang Rimba adalah bagian dari upaya konservasi hutan Bukit Dua Belas. Saya suka cara ceritanya, tidak berusaha untuk terlihat intelek, dan itu segar sekali. Diceritakan awalnya beliau sampai di hutan, kehidupan dihutan, sampai pada pemikiran-pemikirannya tentang hakikat pendidikan untuk Orang Rimba yang sebenarnya.

Butet Manurung mengutip kata-kata Parsudi Suparlan tentang pendidikan untuk masyarakat adat,
"Mengubah dan mengarahkan kehidupan suatu masyarakat tidak mungkin berhasil jika mereka tidak mersakan keuntungan dari perubahan tersebut" -- Parsudi Suparlan
Jadi, bagi Butet cara-cara belajar yang sesuai untuk anak-anak Rimba adalah yang dapat berefek langsung pada kehidupan sehari-hari mereka. Misalnya, awal nya anak-anak itu diajar cara baca-tulis-hitung. Namun kemudian ketika dirasa perlu mereka mengetahui tentang geografi, seperti untuk mengetahui luas tanah mereka, maka diajarkanlah itu. Dan kebutuhan pelajaran di tiap rombong (kelompok Orang Rimba) itu berbeda-beda, ada yang lebih intens cara menghitung, baca, dan sebagainya. Tergantung kebutuhan tiap rombong tersebut. Ini menarik, ketika belajar bukanlah mejadi suatu keharusan melainkan menjadi suatu kebutuhan hihi... Ya kita mungkin terbiasa dengan konsep harus belajar bukan butuh belajar. Dari SD sampai tua begini saya juga familiar dengan konsep pendidikan yang legek begitu.

Selain cerita tentang urusan belajar, di buku ini juga menceritakan tentang kehidupan Orang Rimba. Bagaimana pola hidup mereka, adaptasi mereka dengan orang terang (sebutan Orang Rimba untuk orang kota), interaksi mereka dengan para transmigran, dan situasi disekitar Bukit Dua Belas yang bisa dibilang cukup politis ya. Jadi, di sekitar Bukit Dua Belas ini banyak terjadi illegal loging yang gerakannya halus sekali. Juga tentang status Bukit Dua Belas sebagai Cagar Biosfer dan tetek bengeknya. Biasa deh, urusan kebimbangan pemerintah. Ada yang menarik tentang pernyataan Butet mengenai posisi perempuan pada Orang Rimba. Penuh aturan dan pamali, namun alih-alih protes atau respon kebanyakan perempuan kini tentang aturan adat, Butet melihat hal ini jauh lebih dari sekedar aturan dan pamali. Baginya, hal semacam ini adalah upaya Orang Rimba untuk menjaga perempuannya. Ya, di salah satu bagian dari buku ini menceritakan tentang tabu untuk menyebutkan nama anak gadis mereka kepada orang asing.

Butet juga mengenalkan murid-muridnya di buku ini. Lucu-lucu deh hehe... Diperkenalkan secara jenaka, lucu, dan hangat tentang karakter masing-masing "aktor" ini. Nah, ternyata belajar baca-tulis-hitung tidak bisa dibatasi sampai situ saja. Dalam buku ini diceritakan tentang kemajuan anak-anak Rimba setelah mengenal huruf dan angka, mereka kemudian mulai bertanya tentang hal-hal yang mungkin saja bisa menohok kita. Misalnya pertanyaan mereka tentang para penebang kayu yang menjadi pemandangan sehari-hari mereka.

"Menjaga hutan memang sulit sekali, orang pemerintah saja tak bisa. Apalagi saya yang baru bisa baca, tulis, hitung..." -- Peniti Benang
Buku ini juga penuh pandangan-pandangan Butet tentang "tesis-antitesis" posisi
Orang Rimba kini. Mereka seperti dikelilingi perubahan yang sering dibilang modern. Diantara berubahnya kondisi sosial, bahkan ekologis, mereka sudah pasti beradaptasi. Misalnya dengan sudah memakai baju atau mempunyai motor (begitu Butet menggambarkannya di buku ini). Namun, apakah salah jika Orang Rimba memiliki motor atau memakai baju? mereka juga bukan "orang susah" seperti yang banyak digambarkan media-media kini. Mereka memang hidup dengan caranya sendiri.

Akhirnya, saripati dari buku ini yang saya terima adalah tentang bagaimana pendidikan bukan saja untuk menjadi pintar tapi untuk berdaya. Pendidikan menjadi alat bagi Orang Rimba yang terperangkap perubahan modern untuk tetap bisa eksis sebagai dirinya sendiri. Selain itu, bagian lain yang lebih menginspirasi saya adalah tentang seorang guru. Sederhana ya...

Disini, di buku ini, jelas, murid-murid yang menjadi hebat ini lahir dari guru yang tangguh. Guru yang tidak memaksa anak-anaknya untuk menjadi apa, tapi ia membuka jalan untuk anak-anaknya. Maka dengan begitu, guru sebenarnya bukan hanya menjadi pengajar atau pendidik, bahkan mereka lebih mulia dari itu.

Udah, hal itu yang bikin saya berkata, WOOOW....

Dimana Hutan Bukit Dua Belas?

Taman Nasional Bukit Duabelas adalah taman nasional yang terletak di Sumatra, Indonesia. Taman ini merupakan taman nasional yang relatif kecil, meliputi wilayah seluas 605 km².
Taman Nasional Bukit Duabelas merupakan perwakilan bagi hutan hujan tropis di provinsi Jambi. Bagian utara taman nasional ini terdiri dari hutan hujan primer, sementara sisanya merupakan hutan sekunder, sebagai akibat dari penebangan hutan.
Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) adalah taman nasional yang terletak di Provinsi Jambi, Indonesia.(wikipedia)

Di-film-kan...

Tadaa... Miles Films itu peka sekali ya sama cerita-cerita semacam ini. Setelah Atambua 39°, kembali mengangkat kisah tentang anak negeri. Rilis pada 21 November 2013. Hmm... menarik ya


Lihat wawancaranya disini


Detail Buku
Judul: Sokola Rimba
Penulis: Butet Manurung
Editor: Tim Sokola
Desain Sampul: Cindy Alif
Foto Samput: Aulia Erlangga
Halaman: xxviii + 348 hal
Tebal Buku: 14 cm x 21 cm
Terbit: Mei 2013
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
ISBN: 978-979-709-711-0

Saturday, March 2, 2013

Django Unchained (2012): "The D is Silent"

Fiuuuh.... Selalu begitu setelah saya beres nonton Tarantino film. Entahlah, film Quentin Tarantino yang masih berbekas diingatan saya itu Inglourious Basterds, dan haduuuh... Ya capek ketawa, capek nutup mata. Kacau deh... Dan komentar saya saat itu hanya, sembarangan! hahaha...

Oke oke, Tarantino kembali merilis film terbarunya pada Desember 2012, meskipun baru diputar di Indonesia pada Februari 2013 ini. Mungkin karena proses impor dan sensornya sulit kali ya hehe...
Kali ini cerita yang diangkat tentang pemburu hadiah berkulit hitam di tanah kering Texas, Amerika Serikat. Django (Jamie Foxx) seorang budak kulit hitam yang kemudian dibeli oleh dokter gigi abal-abal asal Jerman, Dr. King Schultz (Christoph Waltz) yang ternyata adalah seorang pemburu hadiah. Dalam perjalanan mereka menjadi pemburu hadiah, Django bercerita bahwa dirinya akan mencari istrinya, Broomhilda von Schaft (Kerry Washington). Dr. Schultz menyanggupi membantu Django dalam mencari istrinya karena Ia telah banyak membantu Dr. Schultz dalam memburu para buronan.
Diketahui bahwa Broomhilda menjadi budak ditempat seorang tuan tanah, Calvin Candie (Leonardo DiCaprio). Lalu dimulailah taktik untuk menyelamatkan istri Django itu.

Seperti komentar awal saya, fiuuuh... Ceritanya sangat jauh dari melodrama. Sadis dan agak nyeleneh menurut saya, tapi itulah khasnya Quentin Tarantino. Tapi, meskipun nyeleneh, film ini berhasil memenangkan beberapa penghargaan untuk segi cerita, diantaranya piala Oscar untuk Best Writing, Screenplay Writen Directly for the Screen di Academy Award 2013 dan pemenang Original Screenplay di BAFTA 2013.
Cerita ini bersetting di Texas dan Missisipi sebelum perang saudara di Amerika. Ketika itu orang-orang kulit hitam masih dikonotasikan sebagai budak kaum kulit putih. Saya juga baru tahu kebiasaan pada masa itu menamai budak sesuai dengan majikan pertamanya. Seperti pada nama istri Django, Broomhilda von Schaft, itu adalah nama Jerman sesuai dengan majikan dimana Ia dibesarkan.
Untuk cinematografinya sendiri, kalau dilihat seperti sedang menonton film Chuck Norris jaman dulu, hahahaha... Sorry, cuma itu yang bisa saya gambarin.
Dan hmm... Nampaknya Tarantino sedang senang mengeksplorasi karakter orang Jerman, setelah film lalunya tentang pemburuan Hitler, kini tokoh penyelamat Django dari perbudakan juga orang Jerman.

Django: Django. D-J-A-N-G-O. The D is silent


note: saya sarankan film ini sangat tidak untuk anak-anak ya... karena saya saja nonton sambil ketar-ketir nutup mata. Antara sadis tapi kocak, gimana tuh ya...
***

Detail Film
Gendre: Action, Drama, Western
Durasi: 165 menit
Rate (MPAA): R
Bahasa: Inggris
Sutradara: Quentin Tarantino
Produser: Stacey Sher, Reginald Hudlin, Pilar Savone
Cerita dan Skenario: Quentin Tarantino
Pemeran: Jamie Foxx, Christoph Waltz, Leonardo DiCaprio, Kerry Washington, Samuel L. Jackson
Editor: Fred Raskin
Cinematografi: Robert Richardson
Musik: Elayna Boynton
Distributor: The Weinstein Company, Columbia Pictures

Friday, February 22, 2013

Rectoverso (2013): Antologi tentang Cinta tak Terucap

Rectoverso adalah bentuk atau gambar yang saling terpisah namun sebenarnya saling melengkapi menjadi kesatuan utuh. Nampaknya cukup menggambarkan bentuk film yang diadaptasi dari novel karya Dewi 'Dee' Lestari (2008) ini. Film yang mengambil judul yang sama dengan novelnya ini merupakan film omnibus yang didalamnya berisi lima cerita tentang cinta yang tak terucap.

Cerita yang ada didalam film ini diadaptasi dari beberapa cerita yang ada pada novelnya, diantaranya Malaikat juga Tahu, Firasat, Cicak di Dinding, Curhat buat Sahabat, dan Hanya Isyarat. Kelima film pendek ini di sutradarai oleh lima sutradara wanita.


Sedikit ringkasan cerita dari kelima film pendek tersebut:

Malaikat juga Tahu
Abang (Lukman Sardi), putra tertua Bunda (Dewi Irawan), yang mengalami autism jatuh cinta pada seorang gadis yang tinggal di kost-kostan milik Bunda, Leia (Prisia Nasution). Bunda merasa khawatir dengan keadaan ini mengingat kondisi Abang apalagi kemudian Leia justru memilih adik Abang, Hans (Marcell Domits) sebagai kekasihnya.











Firasat
Senja (Asmirandah) sudah mengikuti Klub Firasat yang didirikan oleh Panca (Dwi Sasono) selama satu tahun. Namun dalam satu tahun itupula Senja tidak pernah berbagi tentang perasaan dan firasat-firasat nya kepada forum klub. Senja takut sesuatu terjadi pada Panca, seperti yang terjadi pada keluarganya dulu.












Cicak di Dinding
Suatu ketika di Bar, Taja (Yama Carlos) duduk sendiri sampai tiba-tiba seorang wanita cantik menghampirinya dan merasa tertarik padanya. Awalnya berjalan manis sampai suatu ketika wanita itu, Laras (Sophia Latjuba), menghilang dari kehidupannya.












Curhat buat Sahabat
Di sebuah kafe dua orang sahabat duduk mengikmati obrolan mereka. Amanda (Acha Septriasa) yang ceria dan bersemangat ini bercerita banyak kepada sahabatnya, Reggie (Indra Birowo) yang dengan senang hati mendengarkan curhat Amanda. Tak pernah ada yang tahu bahwa ada perasaan yang mengalir dari pertemuan dua sahabat tersebut.







  


Hanya Isyarat
Al (Amanda Soekasah) jatuh cinta pada teman milisnya, Raga (Hamish Daud). Namun begitu, Al hanya bisa mengagumi Raga diam-diam. Mengaguminya dari balik punggungnya...













Keunikan film omnibus sendiri adalah plot cerita yang berisi potongan-potongan adegan dari beberapa film pendek yang digabung menjadi satu. Perlu kreatifitas tersendiri dalam menyusun potongan adegan tersebut agar alur cerita dapat berjalan apik dan sampai pada twist dengan tepat. Dan menurut saya perlu kepiawaian penulis skrip dan editor dalam mengolah hal ini.

Rectoverso sendiri, bagi saya, merupakan film yang 'halus' dan ketika saya liat jajaran sutradaranya, saya makin mengamini mengapa film ini menjadi begitu 'halus'.
Diluar perbincangan teknis film, isi dari film ini begitu filosofis saya rasa. Tentang semesta, tentang teori chaos, tentang manusia dan alam...
Kejadian-kejadian pada hidup manusia yang nampaknya tidak saling berkaitan justru sebenarnya saling melengkapi.
Dan kau tahu, tiba-tiba saya berpikir bahwa jangan-jangan kita semua sedang ada pada sebuah plot dalam rectoverso...

***
Detail Film

Tuesday, February 5, 2013

HANNA: Adapt or Die (2011)



Saya mencantumkan tagline film ini karena rasanya menarik ya. Sebelum memulai menulis resensi ini saya meminta maaf karena mungkin akan kurang oke, hehehe.. Maklum, nontonnya gak dari awal.

HANNA, film yang di sutradarai oleh Joe Wright ini bercerita tentang seorang anak perempuan bernama Hanna Heller (Saoirse Ronan) yang tinggal bersama ayahnya, Erik Heller (Eric Bana). Sejak berumur dua tahun, Hanna sudah dilatih sebagai pembunuh oleh ayahnya. Dan ketika Ia berkata siap untuk misinya, ayahnya melepaskannya.
Misi Hanna adalah untuk membunuh Marissa Wiegler (Cate Blanchett), namun Marissa lolos dari pembunuhannya. Dan kemudian dia mencari Hanna yang kabur setelah misinya tersebut.

Usut punya usut ternyata Hanna adalah seorang anak yang diadopsi oleh Eric dari klinik aborsi, kemudian DNA nya dirubah agar menjadi semacam tentara, tentara yang sempurna. Ternyata Hanna tidak sendiri, banyak anak lain yang juga "dijadikan tentara" oleh riset tersebut, namun penelitian itu kemudian ditutup oleh Marissa.


Hanna: What was the research?
Erik: They took fertilized embryo's and made small changes to them to improve them. To reduce the capacity for fear, for pity, to increase muscle strength, heightened senses. Anything to make a better soldier. The perfect soldier. I recruited your mother in an abortion clinic. I recruited twenty women the same way.
Hanna: There were other children?
Erik: Yes. When you were two, Marissa Wiegler, she closed the whole programme and all of this research, it was disposed of. Do you understand?
Erik: I love you, Hanna. You have to know that.
Hanna: Because I'm a freak?
Erik: No. Because you are my child.


Namun yang menarik bagi saya adalah musik didalam film ini. Unik untuk menjadi latar film action, bukan musik yang membuat jantung berdebar, tapi lebih pada musik khas pada film-film drama bahkan cerita dongeng. Tetapi ini yang membuatnya menjadi tragis, karena dibalik musik-musik lembut itu (enggak lembut juga sih, tapi apa ya, klasik mungkin ya bisa dibilang) penonton disuguhkan bagaimana Hanna, yang berumur 16 tahun itu mematikan lawannya. Dan music score yang diaransemen oleh The Chamical Brother ini memang mendapat banyak apresiasi pada beberapa ajang penghargaan film seperti Best Score di Central Ohio Film Critics Association (COFCA Award) pada tahun 2012 dan menjadi salah satu nomine Best Music pada MTV Movie Award di tahun yang sama.

Tidak ketinggalan pemain mudanya, Saoirse Ronan yang juga mendapat apresiasi dalam film ini, salah satunya Best Actress – Film di Irish Film and Television Award 2012 (IFTA Award). Rasanya pernah melihat aktris muda ini? Ya, dia memang pernah muncul juga di The Lovely Bones (2009) dan film anak-anak, City of Ember (2008).


Erik: Music. A combination of sounds, with a view to beauty of form and expression of emotion.

Detail Film
Gendre: Action, Thriller
Rate (MPAA): PG-13
Sutradara: Joe Wright
Produser: Leslie Holleran, Scott Nemes, Marty Adelstain
Screenplay: David Farr, Seth Lochhead
Naskah: Seth Lochhead
Pemeran: Saoirse Ronan, Eric Bana, Vicky Krieps, Cate Blanchett, Jhon Macmillan, Jessica Barden, Tom Hollander
Cinematografi: Alwin H. Küchler
Editor: Paul Tothtill
Musik: The Chemical Brother
Distributor: Focus Features
Durasi: 111 menit
Country: Jerman, UK


Thursday, January 3, 2013

Frankenwinnie (2012)


Holaaaa.... Apakabar semua! Sudah lama tak jumpa. Sorry morry akhir-akhir ini setiap buka laptop berinternet pasti langsung gak fokus, pengennya langsung meluncur di youtube, nonton video idola baru, biasa deh. Nanti deh ya, abis tulisan ini saya posting idola macam apa sih yang mengganggu perhatian saya. But, don’t judge... Idola bisa berganti kok hehehe... Semenjak itu saya lebih bisa menghargai, itulah selera. If you don’t like, just don’t follow. Its simple as like as following people in twitter hahahay... ok, enough the prolog. Suka kepanjangan -__-
***
Yeah! Burton’s movie!! Tim Burton kembali membesut film animasi setelah 9 (2009) dan Corpse Bride (2005). Kali ini film yang Ia sutradarai merupakan cerita asli yang dibuat oleh dirinya sendiri, tokoh Frankenstain merupakan inspirasi dalam menyusun cerita ini. Film ini merupakan remake dari film pendek yang juga di sutradarai oleh Burton dengan judul yang sama pada tahun 1984.

Kisahnya bercerita tentang seorang anak tertutup bernama Viktor Frankenstain (Charlie Tahan) yang ingin menghidupkan kembali anjing kesayangannya, Sparky (Frank Welker). Guru ilmu alamnya, Mr. Rzykruski (Martin Landau), memberikannya ide dengan menghidupkan kembali Sparky dengan kekuatan listrik petir.

Sayangnya eksperimen Viktor ini diketahui oleh teman-teman sekelasnya yang ingin memenangkan perlombaan sains pada Festival Sains di kota mereka. Mereka mencoba eksperimen ini pada mayat-mayat hewan, namun hasilnya di luar yang diharapkan.

Film yang didistributori oleh Walt Disney Pictures ini disajikan dalam gambar hitam putih. Kalau dilihat tipikal tokoh yang di gambarkan, hampir sama seperti pada film Corpse Bride. Mata bulat besar dan penampilan tokohnya yang eksentrik dan misterius. Hampir tak ada ceria nya untuk menjadi film anak-anak. Yah, tapi itulah ciri khas Burton. Gelap, misterius, dan agak imajiner, kadang nyerempet surealis.

Bagi penyuka film horror mungkin sudah tak asing dengan nama-nama seperti Frankenstain atau Van Helsing. Dan memang nama-nama itu digunakan dalam menamai tokoh yang di film ini. Seperti tokoh utama, sangat jelas Mr. Frankenstain (Martin Short) merupakan ayah dari Viktor. Lalu Van Helsing juga dipakai pada nama Elsa van Helsing (Winona Ryder), teman Viktor. Juga seperti nama Persephone, anjing Elsa yang berkawan dengan Sparky, merupakan nama istri dari dewa underworld—Hades. Nama-nama itu seakan menguatkan tema cerita yang gelap. Dan entahlah, mengapa Burton suka sekali dengan nama Viktor, karena pada Corpse Bride pun tokoh utamanya bernama Viktor, yah yah...
 
Tidak ada nama Jhonny Depp ataupun Helena Bonham-Carter pada daftar pengisi suara, yang biasanya setia menghiasi layar pada setiap karya-karya Burton. Tapi, siapa yang ingat lawan main Jhonny Depp di  Edward Scissorhand. Ya, suara Winona Ryder kali ini ikut serta dalam mengisi film ini. 

Meskipun gelap, banyak menampilkan setting pemakaman, dan sebagainya, tetap saja film ini diperuntukan untuk anak-anak. Burton berhasil menahan diri—setidaknya—untuk tidak menampilkan efek darah, bahkan cipratan darah, dan adegan adegan sadis lainnya yang memuluskan film ini lulus sensor dengan hasil PG (Parental Guidance suggested). Dan seperti halnya kebanyakan film anak, akhir cerita cukup membuat penonton bernafas lega setelah beberapa saat di buat waswas.

Frankenweenie (1984)
Sekedar info tambahan, Frankenweenie ini dinyatakan Fresh oleh situs film Amerika, Rotten Tomatoes, dengan rating 89%. Banyak kritikus dan penonton setianya yang berpendapat, akhirnya Burton kembali melahirkan karya yang ‘wow’ setelah beberapa waktu yang lalu tidak ‘wow’ hehehe...
Tapi menurut saya, Burton selalu berhasil pada film-film animasi. Corpse Bride dan 9, dua film yang menambah rasa pukau pada diri saya terhadap film animasi.

Ok. Selamat berimajianasi ria. Dan mungkin anak kecil jaman dulu lebih pemberani  ya, hmm...
***








Film Details

Gendre: Horror-Comedy
Running time: 87 minutes
Director: Tim Burton 
Producer: Tim Burton, Allison Abbate
Starring: Charlie Tahan, Frank Welker, Martin Short, Catherine O'Hara, Martin Landau, Atticus Shaffer, Winona Ryder, James Hiroyuki Liao, Robbert Capron.
Music by: Danny Elfman
Cinematography: Peter Sorg
Distributor: Walt Disney Pictures



Image Sources:
aceshowbiz.com
imdb.com
 fanpop.com 
en.wikipedia.org