I'm 26 years old now! wah!
Baiklah, saya akan bercerita sedikit bagaimana 2018 secara garis besar memberikan banyak tantangan.
Tahun ini saya banyak bergulat dengan kesabaran. Perihal menekan ego dalam-dalam secara terus menerus menumbuk diri saya. Dengan berbagai macam kejadian, situasi, macam-macam lah. Hal pertama yang paling kentara terjadi pada diri saya, secara memaksa, saya harus keluar dari zona nyaman. Dimana waktu itu mungkin beberapa saat, saya seperti kehilangan diri saya. Tidak ada passion, tidak ada semangat, tidak tahu tujuan. Benar-benar seperti tidak kenal diri saya sendiri. Pilihannya waktu itu, sepertinya saya harus keluar dari situasi ini. Berpikir panjang, sambil berdoa semoga Allah mengijinkan saya mengambil langkah ini. Tapi justru setelah doa-doa panjang, pilihannya malah membuat saya menarik keputusan awal, dan belajar untuk bertahan, untuk sementara. Iya, belajar, bukan mencoba.
Bertahan ini yang menyadarkan saya soal kesabaran. Sambil berpikir bahwa saya tidak bisa lagi hidup suka-suka saya. Tapi mungkin ini yang dipersiapkan semesta menjelang ulang tahun saya hahaha... kado semesta ini ya diri saya sendiri.
Selain urusan sabar ini, sepertinya saya sudah menemukan resolusi untuk 2019. More respect please... and caring. Respek dan peduli, itu resolusi untuk 2019. Lebih banyak mendengar, banyak baca. Dan tidak lupa, bringing back my passion!
Soal jodoh gimana? Perkara jodoh kan bukan setelah menikah lalu selesai. Saya saja belum beres dengan diri sendiri, gimana nanti tiba-tiba ada orang lain masuk, bahkan jadi bagian dari diri saya.
Hehe...
Yah begitulah...
Selamat berlibur kalo begitu...
Showing posts with label Dear Diary. Show all posts
Showing posts with label Dear Diary. Show all posts
Monday, December 24, 2018
Tuesday, June 13, 2017
Masa SMA, Masa yang Puitis
Hello!
Gue mau nulis kilat aja nih, soalnya harus segera mandi dan berangkat les.
Sudah lama tidak mengisi blog ini karena beberapa waktu fokus banget mengurus blog film. Akhirnya tulisan pertama di 2017 gue isi dengan kumpulan puisi yang bisa dibaca pada post di bawah post ini.
Sambil mulai menulis kembali, gue iseng membuka kembali post-post lama yang sudah ancient hahaha...
Dan ternyata pada masa-masa SMA gue lumayan puitis ye. Gue merasa saat ini justru gue sedang kehilangan irama dalam berpuisi, yang artinya (gue artikan sendiri sih wkwk...) mungkin sekarang ini gue jadi kurang peka. Jadi terlalu reaktif di dunia yang serba digital, serba terkoneksi, serba kilat ini. Karena dalam berpuisi itu kan butuh "merasa" (setidaknya menurut gue), butuh berpikir, butuh mengolah kata. Gak asal jeplak ala twitter.
Yap! selalu asyik memang membuka post-post lama. Seperti menelusuri ingatan-ingatan masa lalu yang mungkin kini gue lupa pernah seperti itu :)
Oke deh, see you next time ya.
Gue mau nulis kilat aja nih, soalnya harus segera mandi dan berangkat les.
Sudah lama tidak mengisi blog ini karena beberapa waktu fokus banget mengurus blog film. Akhirnya tulisan pertama di 2017 gue isi dengan kumpulan puisi yang bisa dibaca pada post di bawah post ini.
Sambil mulai menulis kembali, gue iseng membuka kembali post-post lama yang sudah ancient hahaha...
Dan ternyata pada masa-masa SMA gue lumayan puitis ye. Gue merasa saat ini justru gue sedang kehilangan irama dalam berpuisi, yang artinya (gue artikan sendiri sih wkwk...) mungkin sekarang ini gue jadi kurang peka. Jadi terlalu reaktif di dunia yang serba digital, serba terkoneksi, serba kilat ini. Karena dalam berpuisi itu kan butuh "merasa" (setidaknya menurut gue), butuh berpikir, butuh mengolah kata. Gak asal jeplak ala twitter.
Yap! selalu asyik memang membuka post-post lama. Seperti menelusuri ingatan-ingatan masa lalu yang mungkin kini gue lupa pernah seperti itu :)
Oke deh, see you next time ya.
Thursday, December 24, 2015
Antara Skripsi dan Film
Yippie... baru beres nonton Star Wars yang baru. Biar begitu gue bukan yang ngikutin ceritanya, jadi harus dijelasin dulu soal Starwars universe sama adek gue. Hmm maklum deh anak 90-an abal-abal hahaha...
Tapi bukan soal Starwars yang mau gue tulis disini. Soal Starwars nanti aja di blog review.
Sekarang tahun 2015 sudah mau habis dan akan beralih ke 2016. Tapi skripsi gue tetap aja belum selesai. Banyak hal sih, tapi kebanyakan karena males ngetik hehe... Iya males ngetik. Kalau gue gak malas ngetik, bukan skripsi aja yang cepet selesai, tapi dua blog gue juga gak akan terbengkalai gini. Sampai tulisan ini diturunkan, blog gue yang satu lagi malah belum di-update. Parah betul ini malas...
Kadang kalau lagi mikirin soal skripsi, entah kenapa gue suka mengibaratkan nyusun skripsi ini seperti bikin film. Yah, walaupun secara teknis gue sama sekali tidak mengerti cara bikin film. Kebanyakan hasil gue baca-baca artikel dan semacamnya aja. Gak tau kenapa ya, mungkin karena hobi gue yang gampang banget lari ke bioskop. Apalagi di Jatinangor, bioskopnya dekat kostan dan lumayan terjangkau sih.
Gue mulai mengibaratkan bikin skripsi ini seperti bikin film itu sejak gue mulai nyusun kerangka pemikiran untuk di usulan penelitian. Berkali-kali direvisi gara-gara kata dosen pembimbing gue, latar belakang dan kerangka pemikiran gue masih gak nyambung. Belum jelas apa yang mau diteliti. Wadaw... Lagi mumet mikir cara nyambungin itu semua, gue iseng-iseng buka artikel tentang film-film di internet, sambil update film baru yang asyik dan juga kepo soal berita-berita industri diluar sana. Macam-macam berita keluar. Dari mulai rilis film terbaru sampai gosip-gosip dibalik pembuatan film. Tentang film yang bocor ke publik, tentang film yang gagal dipasaran, tentang film yang jadwal rilisnya mundur, tentang gonta-ganti kru, dan lain-lainlah...
Sambil ngelamun, gue pikir bikin film hampir serupa ya sama bikin skripsi.
Kayak bikin skripsi, film juga pasti punya tema awal. Tema yang nantinya dikembangin jadi cerita, karakter, alur, dan sebagainya. Dulu, waktu gue ngajuin tema skripsi, gak terlalu sulit. Lolos aja. Kerepotan mulai muncul pas bikin latar belakang dan kerangka pemikiran. Pokoknya hal-hal di bab satu yang sangat essensial, tapi teknikal. Mamam gak tuh... Essensial, semacam kenapa ngambil topik ini, apa menariknya, apa pentingnya. Belum kerangka pemikiran, harus runut. Kalau enggak, balik lagi, revisi lagi. Ditambah persoalan teknik metode penelitian, mau dibuat seperti apa skripsi ini, metodenya mau kualitatif atau kuantitatif.
Gara-gara ngerjain skripsi ini, kemudian gue menyadari kenapa ada skenario film yang sampe makan waktu satu tahun atau lebih. Setidaknya itu sering banget gue denger beritanya. Hmm... Kalau liat di film Saving Mr. Banks, itu bisa tergambar gimana merancang satu cerita. Dibikin dulu alur ceritanya, digambarin tiap karakter mau seperti apa, belum kalau ada silang pendapat, antara mau dibuat film musikal atau tidak.
Seriously, alur cerita di film itu ternyata penting loh. Bukan cuma alur sih, tapi isinya juga. Kadang-kadang ada film yang spektakuler tapi dari segi cerita dan alur gak oke. Kalau udah gini, jangan liat komennya para kritikus deh, nyakitin :(.
Lalu sama seperti skripsi, film juga punya jadwal. Jadwal syuting dan jadwal rilis. Wah kalo ini, ibaratnya film, skripsi gue tuh kayak serial Sherlock yang jadwal rilisnya mundur terus.
Jadi begitu lah, gara-gara ini gue jadi berpikir bahwa film itu ternyata cukup terstruktur juga ya. Proses kreatif yang terstruktur? bisa gak kalau dibilang gitu? Berarti bikin skripsi juga proses kreatif yang terstruktur juga? Haaaah... kagak deh kayaknya hahaha...
Ooh satu lagi, entah ya, gue suka mengibaratkan dosen pembimbing gue tuh seperti eksekutif produser hahaha... Yang tandatangan acc-nya penuh arti. Ibaratnya nih, gue bikin skenario (cerita, karakter, alur, teknik gambar, dll), nah dospem gue tuh bagian yang acc-nya, setuju atau enggak ini skenario jalan hehehe... Yah gue gak mau aja, berakhir macam Fantastic Four-nya Josh Trank yang kacau gara-gara miskomunikasi antara sutradara dan produser :p.
Jadi begitulah. Yah, gue sih gak pengen bikin skripsi sekelas Interstellar yang amat sangat matang, atau Starwars yang spektakuler. Atau seperti Fight Club atau Memento yang hasil akhirnya unpredictable. Tema skripsi gue juga gak nge-pop layaknya saga Hunger Games. Cukuplah di titik aman macem film-filmnya Nicholas Cage atau Steven Seagal. :)
So, kalau diibaratin film, skripsi mu ini film apa?
Tapi bukan soal Starwars yang mau gue tulis disini. Soal Starwars nanti aja di blog review.
Sekarang tahun 2015 sudah mau habis dan akan beralih ke 2016. Tapi skripsi gue tetap aja belum selesai. Banyak hal sih, tapi kebanyakan karena males ngetik hehe... Iya males ngetik. Kalau gue gak malas ngetik, bukan skripsi aja yang cepet selesai, tapi dua blog gue juga gak akan terbengkalai gini. Sampai tulisan ini diturunkan, blog gue yang satu lagi malah belum di-update. Parah betul ini malas...
Kadang kalau lagi mikirin soal skripsi, entah kenapa gue suka mengibaratkan nyusun skripsi ini seperti bikin film. Yah, walaupun secara teknis gue sama sekali tidak mengerti cara bikin film. Kebanyakan hasil gue baca-baca artikel dan semacamnya aja. Gak tau kenapa ya, mungkin karena hobi gue yang gampang banget lari ke bioskop. Apalagi di Jatinangor, bioskopnya dekat kostan dan lumayan terjangkau sih.
Gue mulai mengibaratkan bikin skripsi ini seperti bikin film itu sejak gue mulai nyusun kerangka pemikiran untuk di usulan penelitian. Berkali-kali direvisi gara-gara kata dosen pembimbing gue, latar belakang dan kerangka pemikiran gue masih gak nyambung. Belum jelas apa yang mau diteliti. Wadaw... Lagi mumet mikir cara nyambungin itu semua, gue iseng-iseng buka artikel tentang film-film di internet, sambil update film baru yang asyik dan juga kepo soal berita-berita industri diluar sana. Macam-macam berita keluar. Dari mulai rilis film terbaru sampai gosip-gosip dibalik pembuatan film. Tentang film yang bocor ke publik, tentang film yang gagal dipasaran, tentang film yang jadwal rilisnya mundur, tentang gonta-ganti kru, dan lain-lainlah...
Sambil ngelamun, gue pikir bikin film hampir serupa ya sama bikin skripsi.
Kayak bikin skripsi, film juga pasti punya tema awal. Tema yang nantinya dikembangin jadi cerita, karakter, alur, dan sebagainya. Dulu, waktu gue ngajuin tema skripsi, gak terlalu sulit. Lolos aja. Kerepotan mulai muncul pas bikin latar belakang dan kerangka pemikiran. Pokoknya hal-hal di bab satu yang sangat essensial, tapi teknikal. Mamam gak tuh... Essensial, semacam kenapa ngambil topik ini, apa menariknya, apa pentingnya. Belum kerangka pemikiran, harus runut. Kalau enggak, balik lagi, revisi lagi. Ditambah persoalan teknik metode penelitian, mau dibuat seperti apa skripsi ini, metodenya mau kualitatif atau kuantitatif.
Gara-gara ngerjain skripsi ini, kemudian gue menyadari kenapa ada skenario film yang sampe makan waktu satu tahun atau lebih. Setidaknya itu sering banget gue denger beritanya. Hmm... Kalau liat di film Saving Mr. Banks, itu bisa tergambar gimana merancang satu cerita. Dibikin dulu alur ceritanya, digambarin tiap karakter mau seperti apa, belum kalau ada silang pendapat, antara mau dibuat film musikal atau tidak.
Seriously, alur cerita di film itu ternyata penting loh. Bukan cuma alur sih, tapi isinya juga. Kadang-kadang ada film yang spektakuler tapi dari segi cerita dan alur gak oke. Kalau udah gini, jangan liat komennya para kritikus deh, nyakitin :(.
Lalu sama seperti skripsi, film juga punya jadwal. Jadwal syuting dan jadwal rilis. Wah kalo ini, ibaratnya film, skripsi gue tuh kayak serial Sherlock yang jadwal rilisnya mundur terus.
Jadi begitu lah, gara-gara ini gue jadi berpikir bahwa film itu ternyata cukup terstruktur juga ya. Proses kreatif yang terstruktur? bisa gak kalau dibilang gitu? Berarti bikin skripsi juga proses kreatif yang terstruktur juga? Haaaah... kagak deh kayaknya hahaha...
Ooh satu lagi, entah ya, gue suka mengibaratkan dosen pembimbing gue tuh seperti eksekutif produser hahaha... Yang tandatangan acc-nya penuh arti. Ibaratnya nih, gue bikin skenario (cerita, karakter, alur, teknik gambar, dll), nah dospem gue tuh bagian yang acc-nya, setuju atau enggak ini skenario jalan hehehe... Yah gue gak mau aja, berakhir macam Fantastic Four-nya Josh Trank yang kacau gara-gara miskomunikasi antara sutradara dan produser :p.
Jadi begitulah. Yah, gue sih gak pengen bikin skripsi sekelas Interstellar yang amat sangat matang, atau Starwars yang spektakuler. Atau seperti Fight Club atau Memento yang hasil akhirnya unpredictable. Tema skripsi gue juga gak nge-pop layaknya saga Hunger Games. Cukuplah di titik aman macem film-filmnya Nicholas Cage atau Steven Seagal. :)
So, kalau diibaratin film, skripsi mu ini film apa?
Monday, August 24, 2015
Kids Story and Indonesian Tale
Tulisan ini sudah lama pasang surut dipikiran saya. Apalagi sebagai penggemar dan penikmat dongeng, seringkali muncul harapan seperti ini.
Awalnya saya berencana bikin review tentang film Inside Out (2015) yang baru tayang sekitar seminggu ini. Tapi kelihatannya saya lebih bergairah untuk menulis di blog pribadi dulu. Jadi tadi, lagi-lagi Pixar mengeluarkan sebuah film animasi yang menarik--dan menyentuh sebenarnya. Kali ini ia bekerjasama lagi dengan Disney setelah film Brave (2012). Kali ini saya gak akan cerita soal sinopsis dan seluk-beluk film ini, itu nanti aja di blog sebelah, hehe...
Gak dipungkiri Inside Out seperti mampu menaikan image Pixar. Iya, bahkan beberapa film Pixar masuk dalam daftar "Film Favorite" saya, kayak Monster Inc. (2001), Up (2009), dan Brave. Meski, khususnya film semacam Up dan Brave tidak se-hits Monster Inc. Baiklah sekarang saya mencoba sharing soal ide ceritanya. Film Monster Inc. misalnya bercerita tentang dunia monster yang mana teranyata tidak semenyeramkan seperti stereotipnya. Bahkan dalam film ini intens sekali menyorot hubungan saling menyayangi antara Sully dan Boo. Lalu pada film Up, ini lebih membumi lagi, tentang kakek Frederick dan Russel yang berpetualang untuk mencari air terjun Falls Paradise untuk memenuhi janji Frederick pada alm. Istrinya (review Up bisa dilihat disini).
Yang menjadi sorotan utama saya dari dua contoh film tadi adalah ide ceritanya yang sederhana namun matang. Yah, anggap aja ini semacam kekesalan saya terhadap film Indonesia. Jadi begini, beberapa kali, setelah Laskar Pelangi (2008) yang booming itu, saya melihat beberapa kali ada film anak-anak yang coba dibuat. Namun kemudian tipe cerita, gaya mengharu-birunya mirip sekali dengan film pendahulunya. Kemudian ada gebrakan baru lagi di film anak-anak Garuda Di Dadaku (2009), namun setelah itu hilang saja yang namanya film anak. Mungkin ada beberapa lagi, kalo kita flashback ke awal 2000, saat itu ada Petualangan Sherina (2000) dan Denias: Senandung Diatas Awan (2006).
Pernah suatu ketika saya nonton film anak yang saya lupa judulnya (sebenarnya yang saya masuk film anak disini kalau dilihat dari kategori penonton adalah semua umur dan 13th keatas), buset, penuh sama yang namanya glorifikasi kesedihan dan kesusahan. Mungkin boleh saja sih ada cerita macem begitu, bagus juga untuk mengingatkan anak-anak Indonesia tentang orang-orang yang kurang mampu dan agar mereka bisa lebih semangat belajar. Tapi lebaynya ituloh yang gak nahan. Biasanya kalo film lebay begini tujuannya memang untuk membuat penonton terharu, tapi seringkali film begini justru malah kehilangan tujuan ceritanya, alur ceritanya. Beneran, saya sering banget bete kalau nonton film yang seperti maksa penonton untuk nangis, tapi bahkan saya gak dapet sama sekali jalan ceritanya dan maksud ceritanya.
Kadang film anak itu emang bukan cuma untuk anak-anak, kayak Brave, itukan salah satu kisah princess dari Disney. Meskipun begitu toh inti film itu bukan bagaimana menjadi putri yang baik, tapi cerita bagaimana ibu dan anak bisa mendengar satu sama lain. Atau cerita Finding Nemo (2003), yang bukan cuma cerita tentang petulangan Marlin yang mencari anaknya, tapi juga cerita bagaimana ketika seorang ayah harus mulai percaya untuk melepas anaknya ke dunia luar. Kisah yang lebih sederhana lagi, Toys Story (1995), cerita tentang mainannya Andy, dan lebih jauh lagi film ini mengisahkan tentang bagaimana Andy menyayangi mainannya--meski hanya mainan. Bahkan di film terakhirnya, saya terharu ketika bagaimana Andy harus memberikan mainan-mainan kesayangannya itu pada anak lain, dengan tujuan agar mainannya itu tidak terbengkalai. Cerita anak yang di nikmati semua kalangan usia. Tentunya dengan tidak kehilangan feeling utama cerita.
Lalu apa hubungannya dengan Indonesian Tale? kok saya cantumin di judul? Jadi gini, sering gak sih kalian nonton film anak yang didasarkan dari kisah-kisah folklor? khususnya Disney, sering banget ngankat cerita itu. Baiklah kita runut dari princess Disney, darimana saja mereka. Setau saya, Cinderella itu dari Inggris, Belle dari Prancis, Mulan dari Jepang, Jasmine asal Baghdad, Pocahontas dari suku Indian, Esmeralda dari keturunan Gipsy, Merida dari suku Nordik, dan Elsa dari Rusia.
So, sadarkan kalau folklor itu paling mudah untuk dijadikan dan disesuaikan untuk film anak. Folklor itu semacam cerita rakyat, bisa cerita legenda atau sekedar mitos (koreksi ya kalau salah). Dan folklor Indonesia itu buanyak banget. Tapi sayang, kebanyakan dari folklor ini seringkali malah berakhir di film horor. Emang folklor lebih cocok untuk film horor? hmm... sebenarnya bukan begitu, setiap folklor selalu punya banyak versi. Taukan cerita Gadis Bejubah Merah? itu cerita anak loh, tapi kalau kau baca another story nya, itu horor banget.
Jadi begitulah unek-unek saya setelah di hipnotis oleh Uya Kuya (loh? hahahaha). Oiya, sebelum film Inside Out mulai tadi, ada film pendeknya dulu. Bagus deh, ceritanya tentang gunung api. Dan yang terlintas dipikiran saya adalah, kita yang hidup dikelilingi gunung api kok kepikiran ya tentang cerita begini. Tapi yasudahlah. Ini ada lagunya, selamat menikmati :)
Awalnya saya berencana bikin review tentang film Inside Out (2015) yang baru tayang sekitar seminggu ini. Tapi kelihatannya saya lebih bergairah untuk menulis di blog pribadi dulu. Jadi tadi, lagi-lagi Pixar mengeluarkan sebuah film animasi yang menarik--dan menyentuh sebenarnya. Kali ini ia bekerjasama lagi dengan Disney setelah film Brave (2012). Kali ini saya gak akan cerita soal sinopsis dan seluk-beluk film ini, itu nanti aja di blog sebelah, hehe...
Gak dipungkiri Inside Out seperti mampu menaikan image Pixar. Iya, bahkan beberapa film Pixar masuk dalam daftar "Film Favorite" saya, kayak Monster Inc. (2001), Up (2009), dan Brave. Meski, khususnya film semacam Up dan Brave tidak se-hits Monster Inc. Baiklah sekarang saya mencoba sharing soal ide ceritanya. Film Monster Inc. misalnya bercerita tentang dunia monster yang mana teranyata tidak semenyeramkan seperti stereotipnya. Bahkan dalam film ini intens sekali menyorot hubungan saling menyayangi antara Sully dan Boo. Lalu pada film Up, ini lebih membumi lagi, tentang kakek Frederick dan Russel yang berpetualang untuk mencari air terjun Falls Paradise untuk memenuhi janji Frederick pada alm. Istrinya (review Up bisa dilihat disini).
Yang menjadi sorotan utama saya dari dua contoh film tadi adalah ide ceritanya yang sederhana namun matang. Yah, anggap aja ini semacam kekesalan saya terhadap film Indonesia. Jadi begini, beberapa kali, setelah Laskar Pelangi (2008) yang booming itu, saya melihat beberapa kali ada film anak-anak yang coba dibuat. Namun kemudian tipe cerita, gaya mengharu-birunya mirip sekali dengan film pendahulunya. Kemudian ada gebrakan baru lagi di film anak-anak Garuda Di Dadaku (2009), namun setelah itu hilang saja yang namanya film anak. Mungkin ada beberapa lagi, kalo kita flashback ke awal 2000, saat itu ada Petualangan Sherina (2000) dan Denias: Senandung Diatas Awan (2006).
Pernah suatu ketika saya nonton film anak yang saya lupa judulnya (sebenarnya yang saya masuk film anak disini kalau dilihat dari kategori penonton adalah semua umur dan 13th keatas), buset, penuh sama yang namanya glorifikasi kesedihan dan kesusahan. Mungkin boleh saja sih ada cerita macem begitu, bagus juga untuk mengingatkan anak-anak Indonesia tentang orang-orang yang kurang mampu dan agar mereka bisa lebih semangat belajar. Tapi lebaynya ituloh yang gak nahan. Biasanya kalo film lebay begini tujuannya memang untuk membuat penonton terharu, tapi seringkali film begini justru malah kehilangan tujuan ceritanya, alur ceritanya. Beneran, saya sering banget bete kalau nonton film yang seperti maksa penonton untuk nangis, tapi bahkan saya gak dapet sama sekali jalan ceritanya dan maksud ceritanya.
Kadang film anak itu emang bukan cuma untuk anak-anak, kayak Brave, itukan salah satu kisah princess dari Disney. Meskipun begitu toh inti film itu bukan bagaimana menjadi putri yang baik, tapi cerita bagaimana ibu dan anak bisa mendengar satu sama lain. Atau cerita Finding Nemo (2003), yang bukan cuma cerita tentang petulangan Marlin yang mencari anaknya, tapi juga cerita bagaimana ketika seorang ayah harus mulai percaya untuk melepas anaknya ke dunia luar. Kisah yang lebih sederhana lagi, Toys Story (1995), cerita tentang mainannya Andy, dan lebih jauh lagi film ini mengisahkan tentang bagaimana Andy menyayangi mainannya--meski hanya mainan. Bahkan di film terakhirnya, saya terharu ketika bagaimana Andy harus memberikan mainan-mainan kesayangannya itu pada anak lain, dengan tujuan agar mainannya itu tidak terbengkalai. Cerita anak yang di nikmati semua kalangan usia. Tentunya dengan tidak kehilangan feeling utama cerita.
Lalu apa hubungannya dengan Indonesian Tale? kok saya cantumin di judul? Jadi gini, sering gak sih kalian nonton film anak yang didasarkan dari kisah-kisah folklor? khususnya Disney, sering banget ngankat cerita itu. Baiklah kita runut dari princess Disney, darimana saja mereka. Setau saya, Cinderella itu dari Inggris, Belle dari Prancis, Mulan dari Jepang, Jasmine asal Baghdad, Pocahontas dari suku Indian, Esmeralda dari keturunan Gipsy, Merida dari suku Nordik, dan Elsa dari Rusia.
So, sadarkan kalau folklor itu paling mudah untuk dijadikan dan disesuaikan untuk film anak. Folklor itu semacam cerita rakyat, bisa cerita legenda atau sekedar mitos (koreksi ya kalau salah). Dan folklor Indonesia itu buanyak banget. Tapi sayang, kebanyakan dari folklor ini seringkali malah berakhir di film horor. Emang folklor lebih cocok untuk film horor? hmm... sebenarnya bukan begitu, setiap folklor selalu punya banyak versi. Taukan cerita Gadis Bejubah Merah? itu cerita anak loh, tapi kalau kau baca another story nya, itu horor banget.
Jadi begitulah unek-unek saya setelah di hipnotis oleh Uya Kuya (loh? hahahaha). Oiya, sebelum film Inside Out mulai tadi, ada film pendeknya dulu. Bagus deh, ceritanya tentang gunung api. Dan yang terlintas dipikiran saya adalah, kita yang hidup dikelilingi gunung api kok kepikiran ya tentang cerita begini. Tapi yasudahlah. Ini ada lagunya, selamat menikmati :)
Sunday, August 2, 2015
The Questions of Life
Waw sudah berapa lama ya saya gak nulis di blog ini. Oiya, fyi saya telah membuat satu blog baru yang isinya khusus tulisan mengenai review film. Kenapa akhirnya saya split menjadi blog lain, tujuannya agar fokus aja. Jadi blog yang ini biar jadi kumpulan tulisan bebas saya. Jadi blog yang satunya lagi itu, yang megang masih tetap saya, ibaratnya adminnya masih saya. Tapi diisi oleh tulisan saya dan adik saya. Kenapa begitu, karena awalnya saya berpikir, lucu juga ya kalo obrolan saya dan adik saya tentang dunia film dituturkan dalam sebuah blog. Itung-itung meramaikan gaung perfilman di Indonesia juga sih hehehe...
Ini blognya, silahkan mampir > Kata Penonton
Sudah informasinya. Mari kita masuk ke cerita.
Beberapa minggu lalu, saya pulang dari Bandung setelah mudik Lebaran, naik travel ke Jakarta. Perjalanan di travel selalu membosankan. Karena lupa bawa headset, akhirnya saya menguatkan diri ditengah kebosanan dan kesunyian travel di siang itu. Di mobilnya juga enggak diputer lagu atau apa kek gitu. Sunyi, penumpang lain pada tidur.
Biasa, kalau lagi diem begitu, gak aneh kalau ada pikiran-pikiran bebas yang bersliweran. Salah satunya, tentang pertanyaan yang selalu muncul kalau kita lagi kumpul keluarga. "kapan lulus?", "mau kerja dimana?"," atau langsung jebret "atau mau nikah dulu?". Alamak! skripsi saya saja masih nunggak. Sebenenarnya ini isu klasik yang sering dihadapi mahasiswa tingkat akhir seperti saya ini. Udah biasa, harusnya. Tiap tahun, pasti selain menyiapkan baju untuk menginap di rumah saudara, juga jawaban-jawaban pamungkas untuk serangan pertanyaan ini.
Tapi dipikir-pikir, memangnya salah kalau ada pertanyaan seperti itu. Toh, saya sendiri juga sering bertanya soal, "udah kelas berapa?", "mau launjut sekolah kemana?", ke saudara-saudara saya yang lebih kecil dari saya. Dan pada masanya, saya pun akan termasuk orang akan melemparkan pertanyaan "kuliahnya sudah sampe mana?", "mau lanjut kerja atau S2?" pada saudara-saudara saya tadi. So, sebenernya harusnya pertanyaan itu sudah tidak aneh.
Kemudian yang saya pikirkan adalah kenapa muncul pertanyaan seperti itu? kenapa lebih terasa enggan menjawab pertanyaan seperti itu pada usia saya yang sekarang? kenapa dulu santai saja kalau ditanya sama saudara-saudara? Bukan berarti saya keberatan ya, sama sekali tidak. Ini cuma pemikiran dikala travel begitu membosankan. Hehehe...
Akhirnya saya sampai pada satu jawaban, kenapa pertanyaan-pertanyaan seperti itu muncul? Itu karena society (saya pikir kata "society" cukup pas menggambarkan masyarakat yang saya maksud) mulai menagih peran kita di kehidupan bermasyarakat. Mengingat saat saya menerima pertanyaan-pertanyaan ini usia saya sudah 23 tahun. Mungkin society merasa pada usia saya tersebut sudah cukup untuk mulai berperan di masyarakat. Ibaratnya, kamu sudah kuliah, sebentar lagi selesai, udah saatnya kamu mulai cari uang untuk keluarga, atau setidaknya dirimu sendiri. Kita mulai ditarik pada kehidupan bermasyarakat yang sesuai dengan aturan, seideal mungkin.
Pertanyaan itu tak pernah selesai selama kita belum 'ideal'. Contoh, kalau kamu sudah berusia 29 tahun dan belum menikah, tau dong pertanyaan apa yang akan muncul? hehehe... Karena menurut society hal tersebut tidak ideal.
Tapi tenang, pertanyaan itu kelihatannya bisa selesai juga, pada usia yang dianggap sudah cukup atau telah selesai menunaikan perannya di masyarakat (telah ideal ataupun tidak ya). Kayak umur-umur nenek ku gitu. Pertanyaan yang keluar adalah "sehat bu?", "cucunya berapa bu?", bukan pertanyaan menuntut lagi.
Jadi, bagi saya, masa-masa penuh tuntutan ini sebenarnya seru juga kalau dinikmati. No, setiap masa (part of your life) itu layak untuk dinikmati. Oh bukan lagi, bukan dinikmati bahasanya, layak untuk disyukuri dan diikhlaskan.
Ini blognya, silahkan mampir > Kata Penonton
Sudah informasinya. Mari kita masuk ke cerita.
Beberapa minggu lalu, saya pulang dari Bandung setelah mudik Lebaran, naik travel ke Jakarta. Perjalanan di travel selalu membosankan. Karena lupa bawa headset, akhirnya saya menguatkan diri ditengah kebosanan dan kesunyian travel di siang itu. Di mobilnya juga enggak diputer lagu atau apa kek gitu. Sunyi, penumpang lain pada tidur.
Biasa, kalau lagi diem begitu, gak aneh kalau ada pikiran-pikiran bebas yang bersliweran. Salah satunya, tentang pertanyaan yang selalu muncul kalau kita lagi kumpul keluarga. "kapan lulus?", "mau kerja dimana?"," atau langsung jebret "atau mau nikah dulu?". Alamak! skripsi saya saja masih nunggak. Sebenenarnya ini isu klasik yang sering dihadapi mahasiswa tingkat akhir seperti saya ini. Udah biasa, harusnya. Tiap tahun, pasti selain menyiapkan baju untuk menginap di rumah saudara, juga jawaban-jawaban pamungkas untuk serangan pertanyaan ini.
Tapi dipikir-pikir, memangnya salah kalau ada pertanyaan seperti itu. Toh, saya sendiri juga sering bertanya soal, "udah kelas berapa?", "mau launjut sekolah kemana?", ke saudara-saudara saya yang lebih kecil dari saya. Dan pada masanya, saya pun akan termasuk orang akan melemparkan pertanyaan "kuliahnya sudah sampe mana?", "mau lanjut kerja atau S2?" pada saudara-saudara saya tadi. So, sebenernya harusnya pertanyaan itu sudah tidak aneh.
Kemudian yang saya pikirkan adalah kenapa muncul pertanyaan seperti itu? kenapa lebih terasa enggan menjawab pertanyaan seperti itu pada usia saya yang sekarang? kenapa dulu santai saja kalau ditanya sama saudara-saudara? Bukan berarti saya keberatan ya, sama sekali tidak. Ini cuma pemikiran dikala travel begitu membosankan. Hehehe...
Akhirnya saya sampai pada satu jawaban, kenapa pertanyaan-pertanyaan seperti itu muncul? Itu karena society (saya pikir kata "society" cukup pas menggambarkan masyarakat yang saya maksud) mulai menagih peran kita di kehidupan bermasyarakat. Mengingat saat saya menerima pertanyaan-pertanyaan ini usia saya sudah 23 tahun. Mungkin society merasa pada usia saya tersebut sudah cukup untuk mulai berperan di masyarakat. Ibaratnya, kamu sudah kuliah, sebentar lagi selesai, udah saatnya kamu mulai cari uang untuk keluarga, atau setidaknya dirimu sendiri. Kita mulai ditarik pada kehidupan bermasyarakat yang sesuai dengan aturan, seideal mungkin.
Pertanyaan itu tak pernah selesai selama kita belum 'ideal'. Contoh, kalau kamu sudah berusia 29 tahun dan belum menikah, tau dong pertanyaan apa yang akan muncul? hehehe... Karena menurut society hal tersebut tidak ideal.
Tapi tenang, pertanyaan itu kelihatannya bisa selesai juga, pada usia yang dianggap sudah cukup atau telah selesai menunaikan perannya di masyarakat (telah ideal ataupun tidak ya). Kayak umur-umur nenek ku gitu. Pertanyaan yang keluar adalah "sehat bu?", "cucunya berapa bu?", bukan pertanyaan menuntut lagi.
Jadi, bagi saya, masa-masa penuh tuntutan ini sebenarnya seru juga kalau dinikmati. No, setiap masa (part of your life) itu layak untuk dinikmati. Oh bukan lagi, bukan dinikmati bahasanya, layak untuk disyukuri dan diikhlaskan.
Sunday, December 1, 2013
Ceritanya Kuliah Lapangan dari Semester ke Semester
Enggak kerasa loh ini udah semester ke tujuh. Rincian tagihan rencana skripsi makin sering mengguncang. Well, dan semester ini pula ujung dari kuliah lapangan yang tiap semester rutin dilaksanakan (kecuali semester 2, angkatan gue gak kebagian jatah kuliah lapangan). Setiap kuliah lapangan itu punya ceritanya masing-masing. Susah senangnya masing-masing. Kelompok dan topik masing-masing dengan challange-nya masing-masing.
1. Goa Pawon, Padalarang (2010)
Ini dia kuliah lapangan perdana di semester pertama. Antara antusias dan bingung apa yang mau di bawa ke lapangan. Kuliah lapangan yang satu ini enggak nginep, alias pulang-pergi. Berhubung masuk dalam mata kuliah Arkeologi, jadi intensitas kita berinteraksi dengan orang belum terlalu banyak, maklum mungkin dianggap masih pemula jadi dikasih yang sedikit interaksi dengan orangnya.
Kuliah lapangan kali itu melimpah ruah dengan makanan. Subuh-subuh dikasih sarapan, sampai disana dikasih nasi kotak, belom makan siangnya, makan malam, plus parcel buah misterius penambah vitamin. Oiya, terus satu kelompok dapet satu bis, alamak! Kabarnya sih karena kelebihan dana, soalnya kan gak nginep jadi banyak save uang.
Btw, terjadi insiden ketinggalan bis yang bikin heboh waktu itu. Ceritanya temen se-bis gue sakit perut, kebetulan saat itu bis lagi berenti di tempat makan. Temen gue ini turunlah untuk mencari wc. Gak berapa lama bis kemudian jalan. Kita yang ada di bis itu enggak ngeh sama sekali si doi belum kebawa. Hahaha kocak banget lah! Pas kita sadar langsung rame, pake minta tolong dosen segala buat ngejemput si anak bermasalah ini (dosennya gak mau bantu lagi hadeeeh), dan akhirnya temen gue yang ketinggalan itu naik ojek menuju lokasi goa sambil marah-marah.
2. Haurgeulis, Indramayu (Desember 2011)
Taa daa... ini kali pertama kita mulai penelitian kedalam masyarakat, dalam arti mulai banyak berinteraksi dengan orang. Nah, waktu itu gue kebagian kelompok tentang interaksi masyarakat Batak dengan lingkungan sekitarnya, dan itu susah banget nyari informannya. Kelompok gue emang diarahin ke informan kunci, pendeta di Gereja Pantekosta, Pak Tarigan. Informan kunci gue yang satu ini seneng banget ngobrol (salah satu temen sekelompok gue sampe ada yang jadi temen curhatnya pak Tarigan loh haha...), gak ada abisnya, sampe bingung gimana cara menyudahi pembicaraan dengan bapak yang satu ini.
Waktu nyari informan, kita nanya sama Pak Tarigan tentang orang-orang Batak yang tinggal di wilayah tersebut, tapi pas mau ketemu sama orang-orangnya, ya ampun susah nya minta ampun.Setiap kita datang ke rumah mereka, pasti diliat penuh kecurigaan, yakali bu muka masih imut-imut begini, hahaha...
Tapi enggak aneh sih, kalau dicurigai, wajar aja...
Ngomong-ngomong kuliah lapangan kali itu ada kejadian yang cukup menegangkan. Insiden kemarahan dosen gara-gara anak-anak pada bangun siang dan belum pada siap buat briefing pagi. Walaaah... kacau lah, tapi sebeneranya konyol sih hoho...
3. Cileungsi (Juni 2012)
Sejujurnya gue bete banget pas tau kulap (kuliah lapangan) ke Cileungsi ini. Iyalah, selain bingung apa yang bisa diteliti, tempatnya itu udah semi kota jadi kondisinya udah padat gitu, tapi toh akhirnya di nikmati aja sih. Mmm... Ada apa ya pas kulap ini. Oh, gue keliling-keliling kampung buat nanya tentang masalah kesehatan. Nah, kelompok gue kali itu milih dusun 3 di RW 5 buat jadi titik penelitian. Inget deh waktu itu nyari rumah pak RW, lah si doi sibuk banget, berapa kali ke rumahnya, beliau gak ada dirumah. Tapi wawancaranya gak sesulit pas nyari orang Batak di kulap sebelumnya. Orang-orangnya lebih terbuka, mungkin juga karena pertanyaannya juga enggak sensitif mungkin ya.
Oh iya, gue ke posyandu dan ke peternakan sapi. Bayangin peternakan sapi di kota dengan gang-gang sempit. Hmm... Di rumah bapak peternaknya dikasih makan siang soto lagi kita, jadi pas balik ke penginapan kelompok gue udah kekenyangan.
Di Cileungsi ini kita sempet mampir ke Mall Cileungsi gitu. Ekspetasi udah tinggi tuh, mau numpang ngadem karena Cileungsi panas banget. Dan ternyata yang di maksud Mall oleh orang-orang sekitar situ adalah semacam ITC yang gerrrraaaahhhh.....
Pada akhirnya kita ngadem di ATM (eh enggak deng, cuma gue dan Susi doang -_- ).
1. Goa Pawon, Padalarang (2010)
Ini dia kuliah lapangan perdana di semester pertama. Antara antusias dan bingung apa yang mau di bawa ke lapangan. Kuliah lapangan yang satu ini enggak nginep, alias pulang-pergi. Berhubung masuk dalam mata kuliah Arkeologi, jadi intensitas kita berinteraksi dengan orang belum terlalu banyak, maklum mungkin dianggap masih pemula jadi dikasih yang sedikit interaksi dengan orangnya.
Kuliah lapangan kali itu melimpah ruah dengan makanan. Subuh-subuh dikasih sarapan, sampai disana dikasih nasi kotak, belom makan siangnya, makan malam, plus parcel buah misterius penambah vitamin. Oiya, terus satu kelompok dapet satu bis, alamak! Kabarnya sih karena kelebihan dana, soalnya kan gak nginep jadi banyak save uang.
Btw, terjadi insiden ketinggalan bis yang bikin heboh waktu itu. Ceritanya temen se-bis gue sakit perut, kebetulan saat itu bis lagi berenti di tempat makan. Temen gue ini turunlah untuk mencari wc. Gak berapa lama bis kemudian jalan. Kita yang ada di bis itu enggak ngeh sama sekali si doi belum kebawa. Hahaha kocak banget lah! Pas kita sadar langsung rame, pake minta tolong dosen segala buat ngejemput si anak bermasalah ini (dosennya gak mau bantu lagi hadeeeh), dan akhirnya temen gue yang ketinggalan itu naik ojek menuju lokasi goa sambil marah-marah.
2. Haurgeulis, Indramayu (Desember 2011)
Taa daa... ini kali pertama kita mulai penelitian kedalam masyarakat, dalam arti mulai banyak berinteraksi dengan orang. Nah, waktu itu gue kebagian kelompok tentang interaksi masyarakat Batak dengan lingkungan sekitarnya, dan itu susah banget nyari informannya. Kelompok gue emang diarahin ke informan kunci, pendeta di Gereja Pantekosta, Pak Tarigan. Informan kunci gue yang satu ini seneng banget ngobrol (salah satu temen sekelompok gue sampe ada yang jadi temen curhatnya pak Tarigan loh haha...), gak ada abisnya, sampe bingung gimana cara menyudahi pembicaraan dengan bapak yang satu ini.
Waktu nyari informan, kita nanya sama Pak Tarigan tentang orang-orang Batak yang tinggal di wilayah tersebut, tapi pas mau ketemu sama orang-orangnya, ya ampun susah nya minta ampun.Setiap kita datang ke rumah mereka, pasti diliat penuh kecurigaan, yakali bu muka masih imut-imut begini, hahaha...
Tapi enggak aneh sih, kalau dicurigai, wajar aja...
Ngomong-ngomong kuliah lapangan kali itu ada kejadian yang cukup menegangkan. Insiden kemarahan dosen gara-gara anak-anak pada bangun siang dan belum pada siap buat briefing pagi. Walaaah... kacau lah, tapi sebeneranya konyol sih hoho...
Pose keputusasaan mencari informan. Lokasi: di depan Indomaret
3. Cileungsi (Juni 2012)
Sejujurnya gue bete banget pas tau kulap (kuliah lapangan) ke Cileungsi ini. Iyalah, selain bingung apa yang bisa diteliti, tempatnya itu udah semi kota jadi kondisinya udah padat gitu, tapi toh akhirnya di nikmati aja sih. Mmm... Ada apa ya pas kulap ini. Oh, gue keliling-keliling kampung buat nanya tentang masalah kesehatan. Nah, kelompok gue kali itu milih dusun 3 di RW 5 buat jadi titik penelitian. Inget deh waktu itu nyari rumah pak RW, lah si doi sibuk banget, berapa kali ke rumahnya, beliau gak ada dirumah. Tapi wawancaranya gak sesulit pas nyari orang Batak di kulap sebelumnya. Orang-orangnya lebih terbuka, mungkin juga karena pertanyaannya juga enggak sensitif mungkin ya.
Oh iya, gue ke posyandu dan ke peternakan sapi. Bayangin peternakan sapi di kota dengan gang-gang sempit. Hmm... Di rumah bapak peternaknya dikasih makan siang soto lagi kita, jadi pas balik ke penginapan kelompok gue udah kekenyangan.
Di Cileungsi ini kita sempet mampir ke Mall Cileungsi gitu. Ekspetasi udah tinggi tuh, mau numpang ngadem karena Cileungsi panas banget. Dan ternyata yang di maksud Mall oleh orang-orang sekitar situ adalah semacam ITC yang gerrrraaaahhhh.....
Pada akhirnya kita ngadem di ATM (eh enggak deng, cuma gue dan Susi doang -_- ).
4. Pangandaran (November 2012)
Wiiiih gue happy banget mau ke Pangandaran. Kebayang aja main di pantai, asyik banget deh. Tapi terus gue jadi kebingungan mau bawa berapa baju karena kebayang pasti sering gantu baju.
Kulap kali itu kelompok gue berkutat dengan Bakul Ikan. Banyak dari Bakul Ikan itu adalah ibu-ibu (meski ada juga sih yang bapak-bapak). Gue bertemu seorang Bos Bakul, ibu-ibu bergelang-kalung emas banyak dengan tas pinggang berisi uang jutaan rupiah. Kita sekelompok amazing gitu ngeliatnya. Uang merah dan biru udah enggak selembar-selembar lagi, tapi segepok. Jadi pas kita mau ketemu ibu Bos Bakul itu nunggu doi bangun tidur siang dulu, hmmm Bos banget...
Sambil nyari informan kita mampir ke tempat pelelangan ikan. Lumayan dapet udang-udang reject (udang yang kualitasnya dibawah kualitas ekspor, sehingga gagal ekspor) murah terus di masak, lalu kita makan rame-rame asyik deh.
5. Gunung Kawi, Malang (Maret 2013)
SPIRIT ON THE NIGHT!! anggap aja kalimat ini menjadi tagline kulap kali itu, hahahahadeeeeh... Yah, pokoknya ini kulap paling memorable. Banyak yang terjadi, yang menyebalkan tapi kalau diceritakan ulang jadi kocak banget. Kulap kali itu pula yang bikin twitter ramai, pada bertanya-tanya apa yang sedang terjadi di kulap angkatan 2010 ini. Kalau ada yang nanya kenapa sih? pokoknya ada deh hahaha...
Perjalanan menuju Gunung Kawi mencapai 30 jam. Gue gak tau jarak tempuh aslinya berapa jam, yang jelas kali itu kita berangkat jam 2 subuh dari kampus dan sampai satu hari kemudian. Kaki sampai pada bengkak karena posisi duduk yang ngatung, muka berminyak, rambut berminyak, bau udah enggak karuan. Rasanya ketemu penginapan itu bahagia banget hahaha... Kabarnya ternyata bis yang kita tumpangi nyasar ke kediri sampai dua kali putaran, eh buset deh... Temen bis gue sampe rajin banget liat peta yang didapat dari restoran tempat kita singgah makan, gue yakin lama-lama dia hafal tuh peta buta pulau Jawa.
Kali itu kelompok gue berkecimpung dalam urusan Vihara. Di sana juga ada Ciam Si, jadi semacam ramalan peruntungan gitu. Yang dateng ke Ciam Si itu juga bukan orang Tionghoa aja, tapi juga orang-orang yang percaya akan hal-hal tersebut. Vihara tersebut satu komplek dengan makam Eyang Djugo alias Kyai Zakaria. Agak-agak mistis suasana disana, sampai-sampai sebelum berangkat ibu ku nasehatin biar gue selalu baca ayat kursi sehabis sholat, iya iya...
Entahlah, mungkin kita sedikit depresi sampai muncul lelucon konyol macam ini...
6. Plered, Purwakarta (November 2013)
Ini dia penutupan kulap karena di semester depan angkatan gue udah gak dapet kulap lagi. Ini kulap tersantai bagi gue. Barang-barang yang gue bawa pun makin ringkes, dengan tanpa bawa jas almamater yang biasanya rutin gue bawa tiap kulap. Kulap kali ini pun mulai gak se-hectic kulap-kulap sebelumnya gue rasa (atau gue doang yang ngerasa gitu hehe...), mungkin faktor kita juga makin ngerti gimana kebiasaan kuliah lapangan (aturan-aturan dan sebagainya).
Disini gue ketemu orang dari UPTD Litbang keramik yang berapi-api banget dah. Yang kalo ngomong huruf P jadi F, tapi bapak itu pede nya minta ampun, sampai-sampai gue dan Abey menjulukinya bapak You Know Who saking fenomenalnya. Soal penginapan kali ini agak kontroversial ya, sampai ada satu penginapan anak cowok yang disebut Hutan Amajon sama Ray (saking rimbunnya jadi disebut Amajon tanpa Z).
Kali ini dokumentasi gue agak kurang, salah satu faktornya hape gue ngambek jadi agak ribet kalau mau foto-foto, nyebelin yah.
Gitu ceritanya.... Tapi overall gue selalu coba menikmati tiap kulap karena sebenernya kocak-kocak kalau diceritain ulang.
Hehe... See you guys :)
Subscribe to:
Posts (Atom)












































