Thursday, January 3, 2013

Frankenwinnie (2012)


Holaaaa.... Apakabar semua! Sudah lama tak jumpa. Sorry morry akhir-akhir ini setiap buka laptop berinternet pasti langsung gak fokus, pengennya langsung meluncur di youtube, nonton video idola baru, biasa deh. Nanti deh ya, abis tulisan ini saya posting idola macam apa sih yang mengganggu perhatian saya. But, don’t judge... Idola bisa berganti kok hehehe... Semenjak itu saya lebih bisa menghargai, itulah selera. If you don’t like, just don’t follow. Its simple as like as following people in twitter hahahay... ok, enough the prolog. Suka kepanjangan -__-
***
Yeah! Burton’s movie!! Tim Burton kembali membesut film animasi setelah 9 (2009) dan Corpse Bride (2005). Kali ini film yang Ia sutradarai merupakan cerita asli yang dibuat oleh dirinya sendiri, tokoh Frankenstain merupakan inspirasi dalam menyusun cerita ini. Film ini merupakan remake dari film pendek yang juga di sutradarai oleh Burton dengan judul yang sama pada tahun 1984.

Kisahnya bercerita tentang seorang anak tertutup bernama Viktor Frankenstain (Charlie Tahan) yang ingin menghidupkan kembali anjing kesayangannya, Sparky (Frank Welker). Guru ilmu alamnya, Mr. Rzykruski (Martin Landau), memberikannya ide dengan menghidupkan kembali Sparky dengan kekuatan listrik petir.

Sayangnya eksperimen Viktor ini diketahui oleh teman-teman sekelasnya yang ingin memenangkan perlombaan sains pada Festival Sains di kota mereka. Mereka mencoba eksperimen ini pada mayat-mayat hewan, namun hasilnya di luar yang diharapkan.

Film yang didistributori oleh Walt Disney Pictures ini disajikan dalam gambar hitam putih. Kalau dilihat tipikal tokoh yang di gambarkan, hampir sama seperti pada film Corpse Bride. Mata bulat besar dan penampilan tokohnya yang eksentrik dan misterius. Hampir tak ada ceria nya untuk menjadi film anak-anak. Yah, tapi itulah ciri khas Burton. Gelap, misterius, dan agak imajiner, kadang nyerempet surealis.

Bagi penyuka film horror mungkin sudah tak asing dengan nama-nama seperti Frankenstain atau Van Helsing. Dan memang nama-nama itu digunakan dalam menamai tokoh yang di film ini. Seperti tokoh utama, sangat jelas Mr. Frankenstain (Martin Short) merupakan ayah dari Viktor. Lalu Van Helsing juga dipakai pada nama Elsa van Helsing (Winona Ryder), teman Viktor. Juga seperti nama Persephone, anjing Elsa yang berkawan dengan Sparky, merupakan nama istri dari dewa underworld—Hades. Nama-nama itu seakan menguatkan tema cerita yang gelap. Dan entahlah, mengapa Burton suka sekali dengan nama Viktor, karena pada Corpse Bride pun tokoh utamanya bernama Viktor, yah yah...
 
Tidak ada nama Jhonny Depp ataupun Helena Bonham-Carter pada daftar pengisi suara, yang biasanya setia menghiasi layar pada setiap karya-karya Burton. Tapi, siapa yang ingat lawan main Jhonny Depp di  Edward Scissorhand. Ya, suara Winona Ryder kali ini ikut serta dalam mengisi film ini. 

Meskipun gelap, banyak menampilkan setting pemakaman, dan sebagainya, tetap saja film ini diperuntukan untuk anak-anak. Burton berhasil menahan diri—setidaknya—untuk tidak menampilkan efek darah, bahkan cipratan darah, dan adegan adegan sadis lainnya yang memuluskan film ini lulus sensor dengan hasil PG (Parental Guidance suggested). Dan seperti halnya kebanyakan film anak, akhir cerita cukup membuat penonton bernafas lega setelah beberapa saat di buat waswas.

Frankenweenie (1984)
Sekedar info tambahan, Frankenweenie ini dinyatakan Fresh oleh situs film Amerika, Rotten Tomatoes, dengan rating 89%. Banyak kritikus dan penonton setianya yang berpendapat, akhirnya Burton kembali melahirkan karya yang ‘wow’ setelah beberapa waktu yang lalu tidak ‘wow’ hehehe...
Tapi menurut saya, Burton selalu berhasil pada film-film animasi. Corpse Bride dan 9, dua film yang menambah rasa pukau pada diri saya terhadap film animasi.

Ok. Selamat berimajianasi ria. Dan mungkin anak kecil jaman dulu lebih pemberani  ya, hmm...
***








Film Details

Gendre: Horror-Comedy
Running time: 87 minutes
Director: Tim Burton 
Producer: Tim Burton, Allison Abbate
Starring: Charlie Tahan, Frank Welker, Martin Short, Catherine O'Hara, Martin Landau, Atticus Shaffer, Winona Ryder, James Hiroyuki Liao, Robbert Capron.
Music by: Danny Elfman
Cinematography: Peter Sorg
Distributor: Walt Disney Pictures



Image Sources:
aceshowbiz.com
imdb.com
 fanpop.com 
en.wikipedia.org  

Wednesday, October 24, 2012

Perjudian

Saya pernah berpikir waktu itu. Jangan-jangan hidup ini adalah perjudian besar. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, di detik selanjutnya. Tapi toh seperti perjudian, selalu punya strategi dan peluang. Meski kita tak tahu dimana roda rulet itu berhenti. Tapi pada setiap jarum yang berhenti di suatu keputusan, manusia selalu punya spekulasi.

Mungkin itu, karena itu. Tuhan melarang manusia berjudi. Karena hidup mereka pun sudah merupakan sebuah perjudian. 

Mungkin... 

Ngomong-ngomong senangnya blog ini mulai terisi lagi :)

Generasi Terluka

Kami ini generasi baby boom. Generasi bingung yang terjebak dalam pusaran arus transisi tradisi. Generasi yang terseok-seok dipaksa memimpin periode saklek. Ya... Kami sudah terseok-seok, lelah dengan pengalaman traumatik. Atau kami jangan-jangan punya trauma, kami terluka. Tradisi menuntut untuk bertahan, tapi keegoisan waktu meninggalkan kami sehingga kami harus menyeret berat tradisi yang tak mau dinamis. 

Kemudian, aku lagi-lagi berdoa. Doa yang sama dalam setiap dekapan dilema. Semoga ini semua tidak sia-sia. Apa yang kami lakukan tidak sia-sia...

Tuesday, October 16, 2012

Penggores

Aku sudah terbuka
Tidak ada lagi dendam
Tidak ada lagi kecewa
Kini terbuka
Lebih tepatnya hampa
Lebih tepatnya tak peduli
Lebih tepatnya tak merasa
Bertemu sisa-sisa penggores hati
Tapi kau tahu, seperti luka yang masih gatal
Sudah kering namun masih mudah terkelupas lagi
Dan aku lupa dengan penggores itu
Menyayat lagi dengan sangat halus, sampai aku merasa tak terluka
Dan baru disadari beberapa saat kemudian
Ketika darah menjejak di tanah
Aku lupa mereka adalah penggores
Penggores yang manis
Padahal aku berdoa dan berusaha menumpulkan penggores itu
Tapi nyatanya aku tak tahu kapan pengores itu akan tumpul
Butuh waktu lama nampaknya

Friday, October 12, 2012

Key. (Judul ini Arbitrer)

Iseng sedikit. Jarang-jarang punya waktu seluang ini buat ngisi blog. Gak ada yang spesial buat di tulis sih sebenarnya, tapi ini saya isi dari sekelumit buku harian saja ya. Gak usah dipikirin terlalu jauh ya abis bacanya. Gak mungkin juga saya mengumbar kehidupan pribadi di blog, emang Nazar dan Musdalifah apa hahaha...

Key
Begini rasanya senang dan sedih datang secara bersamaan.
Seperti ditampar ketika sedang tidur.
Kaget. Pusing.
Aku tidak tahu bagaimana harus berekspresi.
Seperti berada pada lapisan stratosfer, udara menipis, membuat sesak sedangkan keindahan angkasa masih dapat dilihat.

Suara kanan-kiri memang bising, tapi aku tak tahu apa yang mereka bicarakan.
Aku seperti tak kenal lagi bahasa mereka.
Yang aku mengerti hanya kata-kata dari dalam pikiranku tentang kondisi ini.
Sesaat. Sejenak. Kemudian dia lewat.
Tanganku yang tak mau diam ini terhenti sejenak.
Mataku tak bisa bohong. Aku rindu sosoknya.
Tapi pada detik yang sama harapan itu pula runtuh.
Dia bukan realita untukku. (Jatinangor, 10-10-12)
Sudah... blog ini sudah terisi kembali, hehehe...

Tuesday, June 26, 2012

Melepas Imajinasi

Beberapa minggu yang lalu saya masih terdampar di lembah Jatinangor. Masih ada sedikit urusan yang harus diselesaikan. Sedikit memang, tapi mengganjal luar biasa. Ketika banyak dari teman-teman saya sudah ber-"say hello-bye bye-happy holiday" saya masih berkutat di kampus. Kayaknya pusaran hidup saya terus berputar kencang disekitar situ saja. Hal ini kadang membuat saya menjauhi sosialisasi. Ruwet. Saya sedang ingin berpikir ringan.

Angin lalu membawa saya ke sebuah ruangan yang berisi buku-buku dari jurusan kuliah saya. Letak ruangan itu agak masuk kedalam lorong yang berisi jejeran ruangan kantor jurusan dan ruang administrasi. Lorong yang sedang dipulihkan demi tercapainya jenjang akreditasi. Oke.. oke.. Ruangan itu, yang penuh buku-buku itu, perpustakaan.

Yaa.. semenjak salah satu teman saya jadi penjaga perpus, saya juga jadi sering "main" ke perpus. Biasanya perpus itu ramai di hari aktif perkuliahan. Tapi masa-masa begini, dimana kuliah sudah selesai, perpustakaan melongok sepi menunggu ada yang datang. Buku-buku berkertas kuning senyap, bosan berdempetan di rak sempit itu.

Ah, iya... Biar begitu, perpustakaan ini cukup menarik. Sangat menarik karena saya menemukan banyak musik instrumental di komputer perpustakaan. Hihihi... kapan lagi ngotak-ngatik komputer perpustakaan ini. Benda tercanggih dan teranyar di ruangan perpustakaan. Bagi saya musik instrumental itu aneh. Mengalirkan makna tanpa lirik. Makna bisa berkembang kemana saja, menjadi apa saja. Ini salah satu musik instrumental yang berhasil saya maknai. Baru, generasi masa kini, ringan, dan sederhana. Coba nih dengerin....



Depapepe, grup musik insrtumental asal Jepang. Sebentar ya, saya cari dulu identitas mereka...

"DEPAPEPE (デパペペ) adalah grup musik berasal dari Jepang yang kedua personilnya memainkan gitar akustik. Nama DEPAPEPE sendiri berasal dari gabungan kedua nama pendek dari kedua personilnya. Yakni dengan menggabungkan kata overbite (artinya tonggos dalam bahasa Indonesia) dalam bahasa Jepang adalah Deppa, dan nama dari band Takuoka sebelumnya yaitu Derupepe. Dibentuk tahun 2002, mereka sempat mengeluarkan 3 album indie sebelum akhirnya mereka bergabung dengan label Sony Music. Mereka berhasil membuat debut major pada tahun 2005 dengan album mereka Let's Go! yang menempati urutan di 10 urutan teratas pada Oricon’s Instrumental Artist Debut Chart. Pada kenyataannya, mereka berdua tidak bersaudara, berbeda sekali dengan pendapat sebagian besar fans mereka. Dengan lagu yang mudah diingat, mahir memetik ritme dan penuh gaya semangat, lagu-lagu mereka kelihatannya populer di semua jenis kalangan. Dengan permainan yang cepat, bermain secara mulus, melodi solo, iringan yang energik dan cemerlang tanpa vokal, lagu malah terasa sudah lengkap. Depapepe mempunyai tingkat nada teknik gitar yang sangat lengkap dan kadang-kadang mereka memakai alat musik yang sangat mendasar seperti harmonika, dan lainnya yang dikomposisikan secara pas untuk menambah warna lagu. Lagu mereka secara teknis sulit tetapi kedua orang tersebut dapat memainkannya dengan sangat baik." -Wikipedia-







Saya menyebut ini, musik melepas imajinasi...

Sunday, May 27, 2012

Medley (03)

Jatuh Terhormat

Saya menangis. Benar. Sesaknya seperti isak tangis. Berderai bersamaan dengan turunnya hujan. Mungkinairmata sudah diwakilkan oleh rinai. Tapi nafas tak berbohong. Isak semu yang menyekat tenggorokan memanksaku jujur. jujur pada hati dan diri sendiri. Bahwa kali ini saya kalah...

Saya tahu, rasa bukan soal kalah dan menang, tapi soal diterima atau tidak. Mungkin saya terlalu sederhana melihat rasa. Terlalu naif. Ah, sudahlah... Kebanyakan omong bisa bikin airmata beneran tumpah ruah.

Dan saya tak mau itu terjadi. Saya tetap tidak mau terlihat kalah. Biarkan saya jatuh dengan terhormat.

***
Perempuan Merindu
Perempuan-perempuan merindu. Selamat malam. Jangan simpan rindu ini sendirian. Lepaskanlah. Terbangkanlah ke angkasa. Biar langit malam ini penuh dengan kasih sayang. Sampai meledakan bunga-bunga jiwa yang mengisi sela-sela kehidupan. Biar malam terasa hangat. Hangatnya menyentuh hati.

Aku juga sedang merindu. Tak apa. Rindu itu semacam manisan hati. Asal kau tahu komposisinya, kau takkan terserang batuk...

***
Sebelum

Bocah. Kelakuan mu itu.
Yasudahlah... Nikmatilah, bocah tua.
Sebelum tangan-tangan keras kehidupan menggenggammu.
Sebelum kelakuanmu kini menjadi terlarang bagimu nanti.
Nikmatilah, sebelum kelakuanmu kini dianggap sudah tak pantas untukmu lagi.
Sebelum nilai mengikatmu secara paksa.
Sebelum... Sebelum...

08 Mei 2012

***
Masterpiece

Pernahkah kau berpikir bahwa manusia adalah sebuah karya masterpiece Tuhan.
Manusia dapat berpikir.
Ia dapat menentukan hidupnya sendiri.
Ia bisa memilih menjadi egois atau bijak.
Padahal ia begitu kecil.
Tapi mempunyai kendali didalam kendali.
Luar biasa...