Tuesday, May 16, 2023

Ruang Gelap Dunia Maya

Photo by George Becker: https://www.pexels.com/photo/close-up-of-blue-candle-against-black-background-333513/


Aku cat gelap kuku-ku

Kupotong ujung-ujung rambutku

Kupakai baju-baju yang tak mungkin

Atau setidaknya tidak berani kupakai saat muda dulu

Dalam ruang-ruang gelap dunia maya

Aku menyelinap masuk

Bertemu dengan mereka-mereka yang juga tersamar

Kami saling waspada, tapi juga saling melempar umpan

Mencoba riak sambil berharap tak tenggelam

Ruang gelap dunia maya mempunyai gelompangnya sendiri

Setiap gelombang memanggil siapa saja yang sesuai 

Entah mengisi kekosongan, mencari harapan, bahkan mengisi kantong-kantong uang

Ruang gelap ini memiliki pusaran 

Ku bilang tadi, kami saling waspada

Pusaran bisa merenggut siapa saja yang lengah dan hanyut terlalu pada gelombang

Kita saling menatap dalam layar

Tidak harus mata dengan mata 

Sambil terus menggumamkan niat dalam hati; "suatu saat ini harus berhenti"

Tapi gelombang tahu betul caranya menyelinap dalam kosong

Memberikan sinar dan wangi dalam putus asa

Memberi kedipan pada kantong-kantong lusuh yang perlu diisi


Dalam ruang gelap yang riuh ini, aku kadang mengobservasi

Siapa saja yang bertandang?

Sedang apa mereka?

Seringkali aku mengernyitkan dahi

Atau kapan waktu, penuh kekagetan

Jangan lagi dihitung tiap-tiap pikiran yang membuatku tak habis pikir

Ruang gelap yang pengap

Apak dan lembab

Yang setiap sapa hampir tak ada bedanya untukku

Ruang gelap dunia maya, membekukan perasaan

Menyarukan intuisi, disaat yang sama tak ada habisnya curiga

Sampai tiba saatnya kau merasa hatimu beku, tak bergeming, keruh

Persepsimu menjadi sama

Apatis, pragmatis


Jakarta, 25 November 2022


Monday, April 17, 2023

Puisi Kesedihan Jadi-jadian

Photo by James Wheeler: https://www.pexels.com/photo/lake-pebbles-under-body-of-water-1574181/

Menyusuri sungai dan ngarai

Sambil dengan seksama menegaskan suara angin

Dan bau-bauan tumbuhan yang menguar di udara

Kesedihan tak beralasan, membawa pada lamunan yang tumpang tindih

Memori me-rewind banyak cerita

Semakin panjang pula catatanku akan pertanyaan pada diri sendiri

Entah sejak kapan mulainya aku kembali menulis puisi

Dibersamai lagu yang itu lagi-itu lagi

Puisi tanpa rima, tanpa kedalaman konteks, hingga sedikit lagi dianggap puisi jadi-jadian

Kesedihan kali ini menumbuhkan rasa-rasa pahit dalam hati

Rasa pahitnya seperti sisa-sisa pahit puyer di ujung lidah

Yang sudah diguyur air pun, kau masih bisa merasakan pahitnya

Aku takut kesedihan ini menggelinding, makin besar, dan jadi bola liar

Kepada sungai dan ngarai, kubenturkan lamunanku

Kutenggelamkan kesedihanku

Sekejap

Meski tak kan hilang begitu saja.


Jakarta, 17 November 2022


Monday, March 27, 2023

Bisik Malam

Photo by Mhmd Sedky: https://www.pexels.com/photo/silhouette-photo-of-house-3286807/
Photo by Mhmd Sedky: https://www.pexels.com/photo/silhouette-photo-of-house-3286807/























Aku tahu malam bersinar dalam temaram bulan di luar

Malam tidaklah sunyi

Penuh bebunyian, gemersik, dan sahut-sahutan yang lirih bersama semilir angin

Kusibak sedikit dari jendela

Sambil takut-takut menatap malam

Aku sudah 30 tahun. Tapi puisiku masih saja seperti tulisan perempuan kecil berusia 10 tahun

Malam sering menyisakan kesepian

Makin-makin terasa saat usiamu bertambah

Katanya, bukan salahku -- kamu jadi merasa kesepian

Mari-mari, kupeluk dalam temaramku

Dengarkan bebunyian yang selalu kau takutkan

Dapat kau cium wewangian kembang yang hanya mekar saat matahari redup

Malam berkata -- lagi-lagi, kau perlu merasakan sejenak terhadap apa yang kau takutkan

Dikatakannya, aku tahu, kau penggemar rahasiaku

Dan kau tahu, malam adalah penjaga rahasia terbaik

Gelapnya menyerap segala emosi yang beterbangan

Lagi-lagi, malam punya banyak saku untuk menyimpan keluh-kesah, air mata, dan lamunan.


Jakarta, 11 Desember 2022

Sunday, February 16, 2020

Little Women (2019): My First Classic Drama Movie, I think...


Hasil gambar untuk little women 2019

Judul di atas ini sungguh merepresentasikan apa yang saya rasakan, sepertinya Little Women (2019) menjadi film drama klasik pertama saya. Setelah mengingat dengan seksama, ya, rasanya tidak ada film dengan gendre drama klasik yang pernah saya tonton.

Mungkin juga karena saya baru merasakan ambience film seperti ini. Malah, tetiba saya ingat, ambience seperti ini muncul ketika menonton Dead Poet Society (1989), yang filmnya rilis jauh dari Little Women versi 2019. Bukan apa-apa, artinya Little Women ini berhasil mempertahankan ambience otentik dari ceritanya, tidak jatuh nge-pop ala Hollywood masa kini (Hollywood masa kini yang banyak menyisipkan glorifikasi aktivisme, yang seringkali, jatuhnya, klise. Sok tau bgt ye gue...).

Little Women merupakan adaptasi dari novel Louisa May Alcott yang dipublikasikan tahun 1868 dan 1869 (menurut info dari Wikipedia, novelnya dipublikasi dalam 2 volume). Saya kurang tahu mengenai novel-novel yang rilis sekitar tahun tersebut, namun sepertinya, novel Little Women banyak memberikan pengaruh pada pembaca sastra Amerika saat itu, khususnya pada tema idealisme perempuan, yang merupakan barang baru pada masa itu.

Secara singkat, film ini menceritakan tentang March bersaudara - Meg, Jo, Amy, dan Beth - dan kehidupan mereka sebagai perempuan Amerika pada masa Civil War. Meski cerita ini dibuat jauh dari era milenium, menurut saya, tetap memiliki relevansi dengan realita jaman sekarang. Mungkin karena transisi setiap manusia tidak pernah berubah dari jaman ke jaman, transisi dari masa kecil ke kehidupan dewasa. Juga pergulatan perempuan tiap jaman, jangan-jangan selalu memiliki kesamaan, sehingga pergulatan yang muncul dalam cerita ini, nyatanya, kita juga familiar dengan pikiran-pikiran tersebut.

"Amy March: ... So don't sit there and tell me that marriage isn't an economic proposition, because it is. It may not be for you but it most certainly is for me."

Baik, kita obrolin soal filmnya ya...

Saoirse Ronan selalu menjadi favorite ku *love*. Sejak menonton Lovely Bones (2009), saya selalu menganggap Ronan seperti the hidden gems (duileeh...). Bahkan pada scene pembuka saja, saya sudah jatuh hati, gemas ya... Oh, tapi itu sebelum Florence Pugh bersuara pada dialog pertamanya, setelah itu, saya setuju kalau Pugh layak diganjar nominasi Best Supporting Actress pada Oscar 2020 ini.

Belum lagi Timothée Chalamet (monmaap nih, sampai sekarang saya masih bingung nyebut namanya, calamet gitu ya? calamet ulang tahun), yang hype-nya terus menanjak sejak The King  (produksi Netflix, setidaknya itu pertama kali saya tahu Chalamet). Bukan hanya hype, Chalamet ini, good...

Jajaran pemain yang memanjakan mata, ditambah set kostum yang, aduh, bikin senang deh liatnya... 

Untuk plot ceritanya yang maju-mundur, maafkan kelemotan hamba, pada awal-awal cerita tercecer, kebingungan apakah scene ini flashback atau bukan, untung saja cerita nan manis ini mengalun seperti layaknya musik, lama-lama kita paham ritmenya.

Plot maju-mundur ini, saya sadari merupakan cara Greta Gerwig, sang sutradara, menggambarkan transisi kehidupan March bersaudara (sepertinya begitu ya...). Kehidupan masa kanak-kanak yang penuh mimpi, optimisme, kenaifan, ambisi, menuju kehidupan dewasa, dimana mereka kemudian akhirnya harus berkompromi dengan banyak hal.

"Marmee March: I hope you'll do a great deal better than me. There are some natures too noble to curb, too lofty to bend."

Saya suka cara Gerwig mengakhiri cerita ini. Alih-alih menjadikannya "fairy tale", Ia justru, seperti melemparkan pertanyaan balik pada penonton, "ending seperti apa yang kalian inginkan?".
Seperti halnya kita pada titik balik kedewasaan, "kehidupan macam apa yang ingin kita jalani?"


Score: 4/5


Monday, January 6, 2020

NKCTHI (2020): Film Pembuka 2020, Berdamai dengan Keluarga



Oooo aku rindu sekali dengan blog ini...

Hai apakabar semuanya? :)

Tulisan 2020 saya buka dengan review film saja. Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI), judul film yang sulit diucapkan dalam satu tarikan nafas, pun singkatannya, saya agak terbata-bata ketika menyebutkannya di depan mba loket tiket.

Saya tidak menghitung ini film keberapa Visinema yang sejak 2019 sudah ditonton, yang jelas setidaknya 2 tahun kebelakang, rumah produksi milik Angga Sasongko ini aktif memproduksi film. Film yang rilis pun secara kualitas OK.

Hasil gambar untuk nanti kita cerita tentang hari ini poster

Bercerita tentang keluarga Narendra (Donny Damara) dan dinamika persaudaraan Angkasa (Rio Dewanto), Aurora (Sheila Dara), dan Awan (Rachel Amanda). Menonton film ini seperti merefleksi diri di dalam keluarga sendiri. Ya mungkin keluarga kita tidak setipe dengan keluarga Narendra di film ini, tapi setidak kita (atau saya deh..) mungkin saja ada di posisi yang sama dengan Angkasa, si anak pertama. Atau Aurora, si anak kedua. Atau Ajeng (Susan Bachtiar), ibu yang lebih banyak diam dan memperhatikan. Hal-hal reflektif ini, sukses menyentuh sisi sensitif penonton. Entah menyentuh memori sedih, perasaan nostalgic, atau sekedar rasa kesamaan dengan posisi si tokoh.

Saya belum pernah membaca bukunya, tapi penceritaan yang back and forth di film ini memang tepat untuk memantik letupan-letupan emosi penonton. Memori, apalagi tentang ingatan-ingatan yang "belum selesai" memang sentimentil, karena memori-memori itu sedikit banyak membentuk diri kita.

Seperti kata ibu saya yang berkomentar beberapa saat setelah keluar bioskop, "tumben ada film Indonesia begini, kayak film Korea." Still don't get it? Ya, film ini bukanlah film yang naratif. Hampir setiap momentnya tidak hanya dibangun lewat dialog, tapi juga detail-detail lain.

Musik menjadi salah satu hal yang saya apresiasi di film ini. Musik dalam film ini benar membangun suasana di tiap momennya. Oh ya, bahkan dari awal pembuka film.

Yah intinya sih, keluarga itu punya jalannya masing-masing dan akan menemukan jalannya masing-masing. Kayak kata Ian Malcolm di Jurassic Park "life finds the way". Keluarga mungkin tidak ideal, untuk menerima sesuatu yang tidak ideal itu butuh proses, dan yah... ada jalannya.

Score: 3.5/5


Monday, December 24, 2018

26 Tahun!

I'm 26 years old now! wah!

Baiklah, saya akan bercerita sedikit bagaimana 2018 secara garis besar memberikan banyak tantangan.
Tahun ini saya banyak bergulat dengan kesabaran. Perihal menekan ego dalam-dalam secara terus menerus menumbuk diri saya. Dengan berbagai macam kejadian, situasi, macam-macam lah. Hal pertama yang paling kentara terjadi pada diri saya, secara memaksa, saya harus keluar dari zona nyaman. Dimana waktu itu mungkin beberapa saat, saya seperti kehilangan diri saya. Tidak ada passion, tidak ada semangat, tidak tahu tujuan. Benar-benar seperti tidak kenal diri saya sendiri. Pilihannya waktu itu, sepertinya saya harus keluar dari situasi ini. Berpikir panjang, sambil berdoa semoga Allah mengijinkan saya mengambil langkah ini. Tapi justru setelah doa-doa panjang, pilihannya malah membuat saya menarik keputusan awal, dan belajar untuk bertahan, untuk sementara. Iya, belajar, bukan mencoba.

Bertahan ini yang menyadarkan saya soal kesabaran. Sambil berpikir bahwa saya tidak bisa lagi hidup suka-suka saya. Tapi mungkin ini yang dipersiapkan semesta menjelang ulang tahun saya hahaha... kado semesta ini ya diri saya sendiri.

Selain urusan sabar ini, sepertinya saya sudah menemukan resolusi untuk 2019. More respect please... and caring. Respek dan peduli, itu resolusi untuk 2019. Lebih banyak mendengar, banyak baca. Dan tidak lupa, bringing back my passion!

Soal jodoh gimana? Perkara jodoh kan bukan setelah menikah lalu selesai. Saya saja belum beres dengan diri sendiri, gimana nanti tiba-tiba ada orang lain masuk, bahkan jadi bagian dari diri saya.
Hehe...

Yah begitulah...

Selamat berlibur kalo begitu...

Sunday, December 2, 2018

Prosa Jakarta


Menjalin hubungan dengan Jakarta.
Capek.
Riuh.
Tidak romantis.
Hangat.
Tidakkah itu sangat manis.
Mencium hangatnya ketika hujan turun.
Atau memeluk malam yang tak berbintang diantara lampu-lampu gedung.
Atau menatap wajahnya kala embun belum saja menguap.
Ia hampir tak pernah tidur.
Menatap dengan matanya yang lelah, yang di bawahnya sudah melingkar garis kurang tidur.
Seraya berkata, mari jalani sehari lagi bersamaku.
Kau pasti bisa.


Sawangan, 2 Desember 2018




Sebanyak apa aku tak mengerti.
Berkali-kali ku lempar dadu.
Berjudi akan jawaban yang terucap.
berkali-kali aku kalah.
Kuhitung langkah.
Tapi semesta mu tak pernah bisa ku masuki.
Aku terbakar jadi abu.


Jakarta, 26 November 2018




Aku jadi ingin membawamu keliling kota ini.
Sambil bercerita tentang apa saja.
Tentang imajinasimu, mimpimu, kekhawatiranmu.
Biarkan aku mendengarkannya.
Ijinkan aku ikut merekamnya dalam memoriku.
Atau, agar aku dapat mengamini setiap doamu.
Kau mungkin tak suka dengan kota ini.
Padat, bising, kasar.
Suatu saat akan kutunjukan, bagaimana kau akan rindu kota ini.
Mungkin bukan karena kota ini semata, tapi karena ini bagian dari semestaku.
Iya, membawamu ke kota ini seperti memperkenalkan pada semestaku.
Tapi itu angan-angan saja, saat hatiku sedang begitu lembut.



Jakarta, 19 November 2018





Kudengar bisikan air yang mengalir di kaca-kaca gedung.
Mereka cerewet sekali.
Bercerita kisa-kisah dari langit.
Mereka berbisik, semua akan baik-baik saja.
Kubilang, tidak, ini hidupku. 
mereka menatapku seraya meluncur ke tanah.
Diucapkannya sampai jumpa.
Katanya, mereka menyimpan ceritaku untuk dibawa ke langit.



Jakarta, 15 November 2018

Sunday, August 12, 2018

Alive

Aku berjalan di atas bara
Menuju setapak yang berkerikil
Tanpa alas kaki
Tajam yang menghujam
Kukira tak sanggup melihat berdarah-darah
Tapi sampai kini, menginjak luka adalah pilihan paling rasional
Aku masih bernafas
Mungkin nafas ini juga yang memompa kekuatan
Berkat dari Yang Maha Kuasa
Menanggalkan perasaan yang dulu, yang penuh ragu


Sawangan, 12 Agustus 2018
23:35



Wednesday, July 19, 2017

Transportation from Lebak Bulus to Monumen Nasional (Monas)

Firstly I would tell you that I write this post to practice my English writing skill. So, if you feel weird when read this, pardon me. But, I hope you can understand what I say.

Ok, I know it's hard to new people in Jakarta to traveling around this city by a public transportation. This matter happen because a lack of information about a tranportation direction (even when you at the bus station). Also, a lack of direction sign at the streets. So, it's more comfortable to see or search a streets sign (name of the street) from Google Map or Waze.

Here I tried to tell you how to get to Monumen Nasional (Monas) by a public transportation. And I will tell you a transportation to get there from Lebak Bulus Station.

To go to Monas you will ride two different bus from Lebak Bulus. First, you take bus from Lebak Bulus Station to Senen (you will see the direction sign at the front of bus "LEBAK BULUS - SENEN") and transit at SMK 57 Shelter. From there, you take bus again to Monas (take bus with "RAGUNAN - MONAS" sign) and get off the bus at Monas Shelter.

FYI, you will see two bus that has same destination but different route to Monas at SMK 57 Shelter ("RAGUNAN - MONAS via KUNINGAN" and "RAGUNAN - MONAS via SEMANGGI). Don't be confuse because they are same destination, you can take one of them.

The Route of "LEBAK BULUS-SENEN" Bus



The Route of "RAGUNAN - MONAS via SEMANGGI" Bus



The Route of "RAGUNAN - MONAS via KUNINGAN" Bus




Where is Lebak Bulus Station?

Maybe you a little bit confuse the location of Lebak Bulus Station. That is at South Jakarta, and it takes about 2 hours to get to Monas.

Lebak Bulus - Monas Map




Happy explore Jakarta. Be tough in the traffic :D

Wednesday, June 21, 2017

Doa

Doa

Apakah doa itu merambat
Seperti halnya cahaya dan suara
Ia merambat melalui bilur-bilur udara
Bersama saat dihembuskannya bisikan hati
Kemudian di-amin-i oleh tanah, air, dedaunan, burung-burung yang terbang, semesta...
Membumbung tinggi melewati teras para malaikat
Apa udara ini dipenuhi rapalan doa-doa yang dihembuskan
Tuhan Maha Tahu
Kubiarkan ini terbang ke dalam misteri
Karena ini melampaui semesta pengetahuan para makhluk-Nya


Sawangan, 20 Juni 2017


***

Hening

Hening
Dalam khusyuk
Arus pikiran meluap
Ombaknya menderu tinggi
Hening
Dalam khusyuk
Diri meredakan air yang meluap itu
Hingga alirannya lebih tenang
Hingga dapat menatap ke dalam lubuk kesadaran
Arus pikiran adalah arus yang liar
Ia mengerti celah lengah
Dalam roka'at-roka'at, arus itu pasang-surut
Hening
Adalah sungai untuk arus yang bertanya, juga kejernihan cermin diri


Sawangan, 18 Juni 2017

Sunday, June 18, 2017

Si Penawar Hati

Si Penawar Hati

Kisah tentang si penawar hati
Memikat siapa saja untuk mencari
Segala dongeng tentangnya
Menjadi angan setiap insan yang bercinta
Candu
Candu si penawar hati


Sawangan, 14 Juni 2017

Tuesday, June 13, 2017

Masa SMA, Masa yang Puitis

Hello!

Gue mau nulis kilat aja nih, soalnya harus segera mandi dan berangkat les.
Sudah lama tidak mengisi blog ini karena beberapa waktu fokus banget mengurus blog film. Akhirnya tulisan pertama di 2017 gue isi dengan kumpulan puisi yang bisa dibaca pada post di bawah post ini.

Sambil mulai menulis kembali, gue iseng membuka kembali post-post lama yang sudah ancient hahaha...
Dan ternyata pada masa-masa SMA gue lumayan puitis ye. Gue merasa saat ini justru gue sedang kehilangan irama dalam berpuisi, yang artinya (gue artikan sendiri sih wkwk...) mungkin sekarang ini gue jadi kurang peka. Jadi terlalu reaktif di dunia yang serba digital, serba terkoneksi, serba kilat ini. Karena dalam berpuisi itu kan butuh "merasa" (setidaknya menurut gue), butuh berpikir, butuh mengolah kata. Gak asal jeplak ala twitter.

Yap! selalu asyik memang membuka post-post lama. Seperti menelusuri ingatan-ingatan masa lalu yang mungkin kini gue lupa pernah seperti itu :)

Oke deh, see you next time ya.

Kumpulan Puisi: Bunga Hati

Kata Yang Memenjara

Kata-kata yang memenjara perempuan
Begitu halus
Begitu indah
Begitu menekan
Mengaburkan makna atas segala yang diikat
Agar tak mengganggu, tak merubah
Tak merusak apa yang dipercaya sudah garisnya
Tapi...
Tafsir manusia tak pernah mutlak


Sawangan, 13 Juni 2017

***

Bunga Hati

Hati ini mencari keadilan
Untuk rasa yang terpenjara norma
Mencari pintu, membebaskan bunga-bunga yang mekar
Mungkin hati ini sudah seperti hutan
Setiap bunga yang mekar tersimpan dalam museum ingatan
Aku mengingat setiap detailnya
Bunga dengan kelopak besar berwarna merah
Juga bunga-bunga yang membeku
Sampai bunga-bunga itu menyatu menjadi diriku


Sawangan, 12 Juni 2017

***

Siapa Peduli?

Jakarta dan keheningan yang bising
Orang-orang berkutat dengan pikirannya sendiri
Orang-orang yang berlari mengejar apa saja
Hujan tak kenal lelah membasahi udara yang abu-abu
Kukatakan ini hening
Memangnya kita masih peduli dengan kebisingan?
Biarlah...
Kota ini memelukku dengan gemerlapnya
Berkata tidak apa-apa. Masih ada harapan
Kota yang ahli dalam membangun harapan
Meski tak peduli sebanyak apa yang kemudian patah hati
Dan memangnya aku peduli?


Jakarta, 27 April 2017

***

Dalam Gelap

Apa yang orang-orang harapkan dari dirimu?
Apa yang kamu harapkan dari dirimu?
Apa yang kamu harapkan dari Tuhan?
Apa yang kamu harapkan terhadap hidup?
Saat gelembung-gelembung harapan menggembung dalam hatimu
Saat pikiran menampar-nampar akan realitas
Mereka saling berbantahan
Dirimu terdiam
Berdiri jauh di dasar sumur
Atau lorong? Entah...
Yang jelas gelap
Hanya tangan dan intuisi yang meraba
Kamu keras kepala untuk bertahan
Aku harus keras kepala
Seolah setitik keteguhan dalam nurani bahwa ada sesuatu di depan sana. Di atas sana
Meski, apa yang bisa kamu harapkan dalam gelap?


Sawangan, 27 Maret 2017

***

Karena kembali bukan bakar tapi kedewasaan


Jatinangor, 30 Maret 2015



Thursday, December 24, 2015

Antara Skripsi dan Film

Yippie... baru beres nonton Star Wars yang baru. Biar begitu gue bukan yang ngikutin ceritanya, jadi harus dijelasin dulu soal Starwars universe sama adek gue. Hmm maklum deh anak 90-an abal-abal hahaha...
Tapi bukan soal Starwars yang mau gue tulis disini. Soal Starwars nanti aja di blog review.

Sekarang tahun 2015 sudah mau habis dan akan beralih ke 2016. Tapi skripsi gue tetap aja belum selesai. Banyak hal sih, tapi kebanyakan karena males ngetik hehe... Iya males ngetik. Kalau gue gak malas ngetik, bukan skripsi aja yang cepet selesai, tapi dua blog gue juga gak akan terbengkalai gini. Sampai tulisan ini diturunkan, blog gue yang satu lagi malah belum di-update. Parah betul ini malas...

Kadang kalau lagi mikirin soal skripsi, entah kenapa gue suka mengibaratkan nyusun skripsi ini seperti bikin film. Yah, walaupun secara teknis gue sama sekali tidak mengerti cara bikin film. Kebanyakan hasil gue baca-baca artikel dan semacamnya aja. Gak tau kenapa ya, mungkin karena hobi gue yang gampang banget lari ke bioskop. Apalagi di Jatinangor, bioskopnya dekat kostan dan lumayan terjangkau sih.

Gue mulai mengibaratkan bikin skripsi ini seperti bikin film itu sejak gue mulai nyusun kerangka pemikiran untuk di usulan penelitian. Berkali-kali direvisi gara-gara kata dosen pembimbing gue, latar belakang dan kerangka pemikiran gue masih gak nyambung. Belum jelas apa yang mau diteliti. Wadaw... Lagi mumet mikir cara nyambungin itu semua, gue iseng-iseng buka artikel tentang film-film di internet, sambil update film baru yang asyik dan juga kepo soal berita-berita industri diluar sana. Macam-macam berita keluar. Dari mulai rilis film terbaru sampai gosip-gosip dibalik pembuatan film. Tentang film yang bocor ke publik, tentang film yang gagal dipasaran, tentang film yang jadwal rilisnya mundur, tentang gonta-ganti kru, dan lain-lainlah...

Sambil ngelamun, gue pikir bikin film hampir serupa ya sama bikin skripsi.
Kayak bikin skripsi, film juga pasti punya tema awal. Tema yang nantinya dikembangin jadi cerita, karakter, alur, dan sebagainya. Dulu, waktu gue ngajuin tema skripsi, gak terlalu sulit. Lolos aja. Kerepotan mulai muncul pas bikin latar belakang dan kerangka pemikiran. Pokoknya hal-hal di bab satu yang sangat essensial, tapi teknikal. Mamam gak tuh... Essensial, semacam kenapa ngambil topik ini, apa menariknya, apa pentingnya. Belum kerangka pemikiran, harus runut. Kalau enggak, balik lagi, revisi lagi. Ditambah persoalan teknik metode penelitian, mau dibuat seperti apa skripsi ini, metodenya mau kualitatif atau kuantitatif.
Gara-gara ngerjain skripsi ini, kemudian gue menyadari kenapa ada skenario film yang sampe makan waktu satu tahun atau lebih. Setidaknya itu sering banget gue denger beritanya. Hmm... Kalau liat di film Saving Mr. Banks, itu bisa tergambar gimana merancang satu cerita. Dibikin dulu alur ceritanya, digambarin tiap karakter mau seperti apa, belum kalau ada silang pendapat, antara mau dibuat film musikal atau tidak.
Seriously, alur cerita di film itu ternyata penting loh. Bukan cuma alur sih, tapi isinya juga. Kadang-kadang ada film yang spektakuler tapi dari segi cerita dan alur gak oke. Kalau udah gini, jangan liat komennya para kritikus deh, nyakitin :(.

Lalu sama seperti skripsi, film juga punya jadwal. Jadwal syuting dan jadwal rilis. Wah kalo ini, ibaratnya film, skripsi gue tuh kayak serial Sherlock yang jadwal rilisnya mundur terus.
Jadi begitu lah, gara-gara ini gue jadi berpikir bahwa film itu ternyata cukup terstruktur juga ya. Proses kreatif yang terstruktur? bisa gak kalau dibilang gitu? Berarti bikin skripsi juga proses kreatif yang terstruktur juga? Haaaah... kagak deh kayaknya hahaha...

Ooh satu lagi, entah ya, gue suka mengibaratkan dosen pembimbing gue tuh seperti eksekutif produser hahaha... Yang tandatangan acc-nya penuh arti. Ibaratnya nih, gue bikin skenario (cerita, karakter, alur, teknik gambar, dll), nah dospem gue tuh bagian yang acc-nya, setuju atau enggak ini skenario jalan hehehe... Yah gue gak mau aja, berakhir macam Fantastic Four-nya Josh Trank yang kacau gara-gara miskomunikasi antara sutradara dan produser :p.

Jadi begitulah. Yah, gue sih gak pengen bikin skripsi sekelas Interstellar yang amat sangat matang, atau Starwars yang spektakuler. Atau seperti Fight Club atau Memento yang hasil akhirnya unpredictable. Tema skripsi gue juga gak nge-pop layaknya saga Hunger Games. Cukuplah di titik aman macem film-filmnya Nicholas Cage atau Steven Seagal. :)


So, kalau diibaratin film, skripsi mu ini film apa?

Monday, August 24, 2015

Kids Story and Indonesian Tale

Tulisan ini sudah lama pasang surut dipikiran saya. Apalagi sebagai penggemar dan penikmat dongeng, seringkali muncul harapan seperti ini.

Awalnya saya berencana bikin review tentang film Inside Out (2015) yang baru tayang sekitar seminggu ini. Tapi kelihatannya saya lebih bergairah untuk menulis di blog pribadi dulu. Jadi tadi, lagi-lagi Pixar mengeluarkan sebuah film animasi yang menarik--dan menyentuh sebenarnya. Kali ini ia bekerjasama lagi dengan Disney setelah film Brave (2012). Kali ini saya gak akan cerita soal sinopsis dan seluk-beluk film ini, itu nanti aja di blog sebelah, hehe...

Gak dipungkiri Inside Out seperti mampu menaikan image Pixar. Iya, bahkan beberapa film Pixar masuk dalam daftar "Film Favorite" saya, kayak Monster Inc. (2001), Up (2009), dan Brave. Meski, khususnya film semacam Up dan Brave tidak se-hits Monster Inc. Baiklah sekarang saya mencoba sharing soal ide ceritanya. Film Monster Inc. misalnya bercerita tentang dunia monster yang mana teranyata tidak semenyeramkan seperti stereotipnya. Bahkan dalam film ini intens sekali menyorot hubungan saling menyayangi antara Sully dan Boo. Lalu pada film Up, ini lebih membumi lagi, tentang kakek Frederick dan Russel yang berpetualang untuk mencari air terjun Falls Paradise untuk memenuhi janji Frederick pada alm. Istrinya (review Up bisa dilihat disini).

Yang menjadi sorotan utama saya dari dua contoh film tadi adalah ide ceritanya yang sederhana namun matang. Yah, anggap aja ini semacam kekesalan saya terhadap film Indonesia. Jadi begini, beberapa kali, setelah Laskar Pelangi (2008) yang booming itu, saya melihat beberapa kali ada film anak-anak yang coba dibuat. Namun kemudian tipe cerita, gaya mengharu-birunya mirip sekali dengan film pendahulunya. Kemudian ada gebrakan baru lagi di film anak-anak Garuda Di Dadaku (2009), namun setelah itu hilang saja yang namanya film anak. Mungkin ada beberapa lagi, kalo kita flashback ke awal 2000, saat itu ada Petualangan Sherina (2000) dan Denias: Senandung Diatas Awan (2006).

Pernah suatu ketika saya nonton film anak yang saya lupa judulnya (sebenarnya yang saya masuk film anak disini kalau dilihat dari kategori penonton adalah semua umur dan 13th keatas), buset, penuh sama yang namanya glorifikasi kesedihan dan kesusahan. Mungkin boleh saja sih ada cerita macem begitu, bagus juga untuk mengingatkan anak-anak Indonesia tentang orang-orang yang kurang mampu dan agar mereka bisa lebih semangat belajar. Tapi lebaynya ituloh yang gak nahan. Biasanya kalo film lebay begini tujuannya memang untuk membuat penonton terharu, tapi seringkali film begini justru malah kehilangan tujuan ceritanya, alur ceritanya. Beneran, saya sering banget bete kalau nonton film yang seperti maksa penonton untuk nangis, tapi bahkan saya gak dapet sama sekali jalan ceritanya dan maksud ceritanya.

Kadang film anak itu emang bukan cuma untuk anak-anak, kayak Brave, itukan salah satu kisah princess dari Disney. Meskipun begitu toh inti film itu bukan bagaimana menjadi putri yang baik, tapi cerita bagaimana ibu dan anak bisa mendengar satu sama lain. Atau cerita Finding Nemo (2003), yang bukan cuma cerita tentang petulangan Marlin yang mencari anaknya, tapi juga cerita bagaimana ketika seorang ayah harus mulai percaya untuk melepas anaknya ke dunia luar. Kisah yang lebih sederhana lagi, Toys Story (1995), cerita tentang mainannya Andy, dan lebih jauh lagi film ini mengisahkan tentang bagaimana Andy menyayangi mainannya--meski hanya mainan. Bahkan di film terakhirnya, saya terharu ketika bagaimana Andy harus memberikan mainan-mainan kesayangannya itu pada anak lain, dengan tujuan agar mainannya itu tidak terbengkalai. Cerita anak yang di nikmati semua kalangan usia. Tentunya dengan tidak kehilangan feeling utama cerita.

Lalu apa hubungannya dengan Indonesian Tale? kok saya cantumin di judul? Jadi gini, sering gak sih kalian nonton film anak yang didasarkan dari kisah-kisah folklor? khususnya Disney, sering banget ngankat cerita itu. Baiklah kita runut dari princess Disney, darimana saja mereka. Setau saya, Cinderella itu dari Inggris, Belle dari Prancis, Mulan dari Jepang, Jasmine asal Baghdad, Pocahontas dari suku Indian, Esmeralda dari keturunan Gipsy, Merida dari suku Nordik, dan Elsa dari Rusia.
So, sadarkan kalau folklor itu paling mudah untuk dijadikan dan disesuaikan untuk film anak. Folklor itu semacam cerita rakyat, bisa cerita legenda atau sekedar mitos (koreksi ya kalau salah). Dan folklor Indonesia itu buanyak banget. Tapi sayang, kebanyakan dari folklor ini seringkali malah berakhir di film horor. Emang folklor lebih cocok untuk film horor? hmm... sebenarnya bukan begitu, setiap folklor selalu punya banyak versi. Taukan cerita Gadis Bejubah Merah? itu cerita anak loh, tapi kalau kau baca another story nya, itu horor banget.

Jadi begitulah unek-unek saya setelah di hipnotis oleh Uya Kuya (loh? hahahaha). Oiya, sebelum film Inside Out mulai tadi, ada film pendeknya dulu. Bagus deh, ceritanya tentang gunung api. Dan yang terlintas dipikiran saya adalah, kita yang hidup dikelilingi gunung api kok kepikiran ya tentang cerita begini. Tapi yasudahlah. Ini ada lagunya, selamat menikmati :)




Monday, August 17, 2015

Pura-pura Tenang

Samudra berdesir
Menghantarkan harum garam
Beberapa orang senang duduk di tepian
Katanya harum garam itu menenangkan mereka
Juga buih-buih yang timbul tenggelam di sela-sela kaki mereka.
Sebenarnya mereka adalah pikiranku
Pura-pura tenang

Sunday, August 2, 2015

"The wound is the place where The Light enters you"


-- Rumi

The Questions of Life

Waw sudah berapa lama ya saya gak nulis di blog ini. Oiya, fyi saya telah membuat satu blog baru yang isinya khusus tulisan mengenai review film. Kenapa akhirnya saya split menjadi blog lain, tujuannya agar fokus aja. Jadi blog yang ini biar jadi kumpulan tulisan bebas saya. Jadi blog yang satunya lagi itu, yang megang masih tetap saya, ibaratnya adminnya masih saya. Tapi diisi oleh tulisan saya dan adik saya. Kenapa begitu, karena awalnya saya berpikir, lucu juga ya kalo obrolan saya dan adik saya tentang dunia film dituturkan dalam sebuah blog. Itung-itung meramaikan gaung perfilman di Indonesia juga sih hehehe...

Ini blognya, silahkan mampir > Kata Penonton

Sudah informasinya. Mari kita masuk ke cerita.
Beberapa minggu lalu, saya pulang dari Bandung setelah mudik Lebaran, naik travel ke Jakarta. Perjalanan di travel selalu membosankan. Karena lupa bawa headset, akhirnya saya menguatkan diri ditengah kebosanan dan kesunyian travel di siang itu. Di mobilnya juga enggak diputer lagu atau apa kek gitu. Sunyi, penumpang lain pada tidur.

Biasa, kalau lagi diem begitu, gak aneh kalau ada pikiran-pikiran bebas yang bersliweran. Salah satunya, tentang pertanyaan yang selalu muncul kalau kita lagi kumpul keluarga. "kapan lulus?", "mau kerja dimana?"," atau langsung jebret "atau mau nikah dulu?". Alamak! skripsi saya saja masih nunggak. Sebenenarnya ini isu klasik yang sering dihadapi mahasiswa tingkat akhir seperti saya ini. Udah biasa, harusnya. Tiap tahun, pasti selain menyiapkan baju untuk menginap di rumah saudara, juga jawaban-jawaban pamungkas untuk serangan pertanyaan ini.

Tapi dipikir-pikir, memangnya salah kalau ada pertanyaan seperti itu. Toh, saya sendiri juga sering bertanya soal, "udah kelas berapa?", "mau launjut sekolah kemana?", ke saudara-saudara saya yang lebih kecil dari saya. Dan pada masanya, saya pun akan termasuk orang akan melemparkan pertanyaan "kuliahnya sudah sampe mana?", "mau lanjut kerja atau S2?" pada saudara-saudara saya tadi. So, sebenernya harusnya pertanyaan itu sudah tidak aneh.

Kemudian yang saya pikirkan adalah kenapa muncul pertanyaan seperti itu? kenapa lebih terasa enggan menjawab pertanyaan seperti itu pada usia saya yang sekarang? kenapa dulu santai saja kalau ditanya sama saudara-saudara? Bukan berarti saya keberatan ya, sama sekali tidak. Ini cuma pemikiran dikala travel begitu membosankan. Hehehe...

Akhirnya saya sampai pada satu jawaban, kenapa pertanyaan-pertanyaan seperti itu muncul? Itu karena society (saya pikir kata "society" cukup pas menggambarkan masyarakat yang saya maksud) mulai menagih peran kita di kehidupan bermasyarakat. Mengingat saat saya menerima pertanyaan-pertanyaan ini usia saya sudah 23 tahun. Mungkin society merasa pada usia saya tersebut sudah cukup untuk mulai berperan di masyarakat. Ibaratnya, kamu sudah kuliah, sebentar lagi selesai, udah saatnya kamu mulai cari uang untuk keluarga, atau setidaknya dirimu sendiri. Kita mulai ditarik pada kehidupan bermasyarakat yang sesuai dengan aturan, seideal mungkin.
Pertanyaan itu tak pernah selesai selama kita belum 'ideal'. Contoh, kalau kamu sudah berusia 29 tahun dan belum menikah, tau dong pertanyaan apa yang akan muncul? hehehe... Karena menurut society hal tersebut tidak ideal.

Tapi tenang, pertanyaan itu kelihatannya bisa selesai juga, pada usia yang dianggap sudah cukup atau telah selesai menunaikan perannya di masyarakat (telah ideal ataupun tidak ya). Kayak umur-umur nenek ku gitu. Pertanyaan yang keluar adalah "sehat bu?", "cucunya berapa bu?", bukan pertanyaan menuntut lagi.

Jadi, bagi saya, masa-masa penuh tuntutan ini sebenarnya seru juga kalau dinikmati. No, setiap masa (part of your life) itu layak untuk dinikmati. Oh bukan lagi, bukan dinikmati bahasanya, layak untuk disyukuri dan diikhlaskan.

Friday, August 22, 2014

Serangan Bollywood

HALOOOOHAAA.... Sebenarnya saya pengen banget ngebahas soal serangan serial-serial Bollywood yang menerjang tiap malam hehe, khususnya salah satu serial yang lagi rame-rame nya, itu tuh serial yang diangkat dari kitab Mahabarata itu... Tapi berhubung serialnya aja belom beres saya tonton, jadi kayaknya kalau saya bahas sekarang kurang oke, karena saya juga belum tau akhirnya gimana, apa tetap bagus dan seru sampai akhir atau gimana (dan sepertinya serialnya masih lama beresnya di Indonesia, tapi kalo di India mungkin udah mau abis ya).

Jadi, saya cuma mau nempelin lagu soundtrack nya aja kali ini


Terjemahan Lagu:

This is the story of a struggle.
For the good of the world.
Righteousness, Unrighteousness, Guidance, Pleasure.
Truth, Lies, Conflict, Stigma.
This is the unselfish story of God.
There is Strength, there is Devotion.
The salvation from the cycle of births.
This is complete purpose of life.
From the Yugas, to Particles.
In an Universe of Reflector.
Veda's stories are limitless.
Here is act's verses.
Here is deity's language Sanskrit.
Millennium history's evidence.
The Glory of Krishna.
The Importance of the Gita.
It is the foremost of all scriptures.
Mahabharat...
Mahabharat...
Mahabharat...
Mahabharat. 
(sumber: youtube)
Setidaknya, serial ini berhasil membuat saya dan beberapa teman saya jadi ngobrolin tentang cerita Mahabarata. Kadang ngomongin soal tokohnya, soal aktornya yang keker2 (hahahaha....), soal cerita aslinya menurut sumber sejarah dan cerita-cerita yang kita dapet di internet, kadang ngomongin hal-hal konyol soal gaya filmnya, atau malah ngomongin soal respon lingkungan sekitar tentang serial ini (kayak tetangga teman saya, yang ngaku ada yang kurang kalau belum nonton Mahabarata, ckckck).

Sebenarnya dari awal ada iklannya di Antv saya udah penasaran sama serial ini, tapi baru berhasil ngikutin dari tengah cerita. Uh, susah juga ngikutin cerita epic begini. Jadi, sampai sekarang saya nonton, baru kemarin saya tau Bhisma itu siapanya Satyawati, kenapa Bhisma jadi mengabdi untuk Hastinapura, dan hubungan Bhisma dengan Dewi Gangga (ngomong-ngomong yang jadi Dewi Gangga, mukanya blasteran gitu. Hehe sorry out of topic). Serius, buat ngerti ceritanya kayak lagi bikin genealogi (jadi kayak ngerunut hubungan kekerabatan gitu). Hmm... Dan banyak cerita-cerita yang kelewat (sehingga menghasilkan kebingungan di tengah-tengah cerita) akhirnya saya tambal sama cerita-cerita dan penjelasan di internet.

Jadi, kenapa gak baca di internet aja daripada nonton serialnya? oooh tidak bisa, justru yang bikin menarik dan membuat penasaran itu karena ada serial nya. Hehehe...

Yasudah ya, cukup sekian dulu tulisan saya kali ini. Di sambung lain waktu ya. Selamat malam

Thursday, May 8, 2014

Spirited Away (2001)

Lagi beres-beres dvd, saya menemukan dvd yang udah berdebu dan rasanya belum pernah di tonton. Malam itu iseng lah saya nonton.

Spirit Away merupakan salah satu film karya Hayao Miyazaki. Miyazaki sendiri terkenal dengan film-film animasi yang kualitasnya sudah tidak di ragukan lagi. Film ini berjudul asli Sen To Chihiro No Kamikakushi bisa dibilang film Miyazaki ke 3 yang pernah saya tonton. Dari dua film sebelumnya--Totoro dan The Wind Rises--film ini lebih terasa adventure-nya.

Kisahnya mengenai seorang anak perempuan bernama Chihiro (Rumi Hiiragi) yang tiba di sebuah tunel bersama orang tuanya. Ternyata tunel itu menghubungkan jalan yang di lalui keluaga Chihiro ke sebuah perkampungan yang sangat sepi. Tak berapa lama orang tua Chihiro merasa lapar, kemudian mereka mencari restoran di perkampungan itu dan menemukan sebuah restoran tanpa pelayan--ataupun orang. Orang tua Chihiro pun menikmati makanan di restoran tersebut.
Chihiro yang merasa takut dengan perkampungan sepi itu tidak ikut makan, kemudian ia melihat sebuah kuil--setidaknya bentuknya menyerupai kuil--besar. Disana tiba-tiba bertemu seorang anak laki-laki bernama Haku (Miyu Irino) yang menyuruhnya pergi dari kampung tersebut. Namun terlambat, hari sudah semakin sore dan Chihiro menemukan sebuah kenyataan menyeramkan, kedua orang tuanya berubah menjadi babi!.

Chihiro kebingungan, disaat seperti itu Haku datang menolongnya. Ia menyuruh Chihiro menemui Yubaba (Mari Natsuki), kepala tempat pemandian (ternyata kuil besar tadi adalah tempat pemandian) dan memaksanya untuk menjadikan Chihiro pelayan di sana. Hal ini dilakukan untuk menyembunyikan diri Chihiro yang adalah manusia. Ternyata tempat pemandian itu (dan perkampungannya) adalah tempat para dewa dan roh mandi (dan berekreasi). Tempat tersebut terlarang bagi manusia biasa.
Sambil bekerja di tempat pemandian Yubaba, Chihiro mencari cara untuk mengembalikan orang tuanya kembali menjadi manusia dan membawa mereka pergi dari tempat tersebut.



Cerita ini agak menyeramkan ya. Penonton di bawa masuk kedalam dunia yang janggal dan misterius. Film ini pun sarat akan dongeng-dongeng yang mungkin familiar di masyarakat Jepang. Tipikal animasi klasik (yang sejujurnya saya rindukan juga, diantara animasi-animasi canggih yang sedang mewabah di dunia). Meski klasik (dan non-american style :p), film ini tidak jadi membosankan. Penonton seperti diajak lesap dalam dongeng-dongeng masa lalu. Dan kesukaan saya di film ini, Miyazaki tidak "menganakkecilkan" tokoh utama, sehingga film ini bisa di terima secara pas bagi semua umur.

Sekedar info, Spirited Away merupakan film anime pertama yang mendapatkan piala Oscar pada kategori Film Animasi Terbaik tahun 2002.


"Dunia Lain"
Ngomong-ngomong ini kayak makurokurosuke yang di Tororo ya :3
Kisah tentang seseorang yang terdampar di "dunia lain" bukanlah barang baru. Memang cerita pengelanaan seseorang di dunia yang janggal bagi nya merupakan salah satu cerita yang menarik. Mungkin karena manusia sering berkhayal bahwa ada sesuatu yang lain di luar sana. Meki begitu, butuh kemampuan yang baik untuk mengolah cerita sehingga lebih memorable.

berikut beberapa cerita terkenal tentang pengelanaan seseorang di "dunia lain"
- Alice in Wonderland
- The Wonderfull Oz
- The Chronicles of Narnia
- apa lagi ya? ada yang ingat?




Detail

Genre: Adventure, Animasi
Rate (MPAA): PG
Durasi: 125 menit
Bahasa: Jepang
Tayang: 20 Juli 2001

Produksi: Studio Ghibli
Produser: Toshio Suzuki
Sutradara: Hayao Miyazaki
Penulis: Hayao Miyazaki
Pemeran: Rumi Hiiragi, Miyu Irino, Mari Natsuki, Bunta Sugawara, Takashi Naito, Yasuko Sawaguchi, Akio Nakamura, Yumi Tamai
Editor: Takeshi Seyama
Musik: Joe Hisaishi
Cinematography: Atsushi Okui