Tuesday, August 23, 2011

(Buku) The Untold Stories

Tadi siang iseng gue ke toko buku. Sambil pilah pilih, di deretan buku baru ada buku biografi yang cukup tebal dan berat (berat disini dalam artian sebenarnya, lumayan bikin tangan pegel tuh buku). Hmm… another biography of Soeharto. Judulnya, Pak Harto: The Untold Stories. Harganya bisa dibilang mahal untuk yang “hanya” ingin sekedar tau tentang mantan Presiden ini (sebenernya gak etis ya pake “mantan”, tapi gue kekurangan kosakata nih), 300ribu bow…

Dan komentar gue, sekilas tentang buku ini. Hmm… cukup membuat penasaran kalo harganya gak semantap itu. Dan, yah, bapak yang satu ini memang misterius. Ibaratnya penuh dengan kamuflase senyum. Senyum misterius terselubung berbagai makna. Senyum seorang The Godfather


Image Source: rumahmimpi.net

Thursday, July 14, 2011

Inspirasi

Aku mau cerita. Sekedar buat sharing aja. Yah, ini sih itungannya tulisan iseng. gak serius-serius amat.

Jadi begini ya cara kerja otak aku dalam menilai usaha, effort. Awal aku sangat menghargai usaha ketika aku tes Universitas negeri yang oke banget ituloh, hehe... UI maksudnya. Tapi gak pernah masuk. Kacau deh. Kayaknya hancur rencana aku. Oke. Aku kemudian membangun harapan. Mungkin aku memang tidak punya cukup keberuntungan tapi aku masih punya banyak tenaga untuk berusaha. Usahalah aku disitu. Ikut bimbel lah, tambahan di sekolah, dan berdoa yang banyak. Loh manusia bolehkan berusaha. Berusaha artinya punya optimisme. Aku tau realitasnya, aku sulit masuk di Universitas itu. Tapi aku punya kepercayaan, sedikit, bisa masuk. Tapi nasib ternyata membawaku ke jalur yang lain. Oke. Aku ikuti maunya nasib. Tapi nasib hanya memberikan pilihan bukan eksekusinya. Kita tetap harus memilih. Nah, soal ini nanti kita bicarakan lagi, kalo aku gak lupa ya hehehe

Ya itu hasil ya. Tapi ternyata ketika aku berpikir, dari dulu memang aku kerjaannya disuruh usaha mulu, hehehe.... Jadi, ya agak gak anehlah aku kadang suka agak maksa tentang sesuatu karena dalam alam pikir aku, hasil akan sebanding dengan usaha. Meskipun hasilnya tidak selalu yang kita rencanakan. Dulu ya, waktu aku SD. Masuk SD itu aku belom bisa baca dan tulis. Aku gak TK. Baru pulang dari Jepang. Otomatis gagap bahasa Indonesia. Mamah aku maen nyemplungin aku di SD negeri itu. Hoooahhh.... nangis mulu aku kerjaannya dikelas. Maunya keluar kelas mulu. Mamah sih ada nemenin aku yang masih kelas 1 SD itu, tapi gak ikut nongol-nongol kayak ibu-ibu yang lain di jendela kelas. Aku sering panik itu. Tapi lama-lama mulai tenang di kelas. Jadi aku mulai belajar yang namanya adaptasi di lingkungan yang cukup ekstreem itu.

Waktu kelas satu itu, aku nulisnya lamaaaaaa banget. Kalau nulis soal pr dipapan tulis, sampe keringetan, sampe bel pulang bunyi, sampe gurunya bete kali nunggu, sampe tukang sapu kelas nge-skip kelas aku sementara. Tapi aku seneng dan gak peduli. Ibu-ibu lain udah pada gak sabar dengan anaknya masing-masing yang punya masalah sama denganku. Mereka nyerobot masuk kelas, nulisin pr anak-anaknya. Lalu mamah, nunggu diluar. Paling sesekali ngecek kedalem kelas aku udah kelar atau belum. Kalau belum, dia membiarkan aku melanjutkannya, tenang, ditungguin kok, pasti ngomong gitu. Aku yang ngerasa ada backingan, cukup tenang karena melihat anak-anak lain yang udah selesai duluan dengan tulisan tangan yang berbeda.

Setelah selesai nulis. Hoaaah!! senengnya. Itu mungkin pencapaian pertama aku di SD. Dengan usaha yang maksimal, to the max banget. Hasilnya, aku yang blah bloh ini diawal caturwulan, yah cukuplah dengan rangking 10. Bisa baca tanpa ngeja, oiya, waktu itu aku gak suka baca pake ngeja, soalnya kalo lagi baca buku cerita, mamah suka males bacain jadi mending baca sendiri. Nah, kalo sambil ngeja gak asik. Berisik. Ceritanya jadi gak spektakuler. Jadi gini, misal tulisannya IBU BUDI, bacanya gini "iii...buuu.. Buuu.. diii" pelan-pelan. Bukan gini "I. Be U Bu. Ibu. Be U. Bu. De I Di. Budi" aaah berisik itu, gak sabar aku hahaha...

Lalu aku ini punya turunan asma. Nah, mamah aku itu gak mau aku nantinya jadi tergantung sama inhaler. Makanya aku di les in berenang. Astaga, itu les renang aja bercucuran airmata aku. Saking susahnya menaklukan air. Ngapung di air aja susah banget deh. Terus mamah melow-melow? nooo waaay.... Di cuekinlah. Meskipun kalo renang tetep di temenin sih. Anak bocah belajar renang itu usahanyaaaaa...... Sampe hasilnya sekarang aku kalo udah ketemu kolam renang, bawaannya pengen nyebur mulu. Enak badan enteng hihihi....

Nah ini dia usaha tiada akhir ini mah hahaha.... Jadi aku memang agak lemah sama matematika dan segala hitung-hitungan. wuuw... mmm, dan itu terbukti di SMA aku masuk IPS karena kalah di Fisika. Kacau balau deh. Akhirnya dimasukin lah ke suatu tempat les. Kumon, tau kan. Awalnya asik. Lama-lama jenuh. Lama-lama muak. hahaha.... Ya siapa yang gak bete 7 tahun loh lesnya. Dari kelas 5 SD sampe lulus SMA. Hebring pisan lah. Itu ya di kelas lesnya, aku sampe kenal sama pembantunya pembimbing aku, sampe merasakan gonta-ganti asisten pembimbing, gonta-ganti ruangan, gonta-ganti cat ruang, gonta-ganti murid, hadeeeh.... Dan itu berlangsung penuh pertikaian dengan mamah. Aku sempet mau keluar, dan gak boleh sama mamah. Katanya gak ada yang ngajarin aku matematika, mamah sama ayah juga dari FISIP soalnya, sama-sama gak mudeng matematika. Then, I was finishing the program, yiihaa!!. Finally!! Itu usahanya luar biasa deh bener. Mantep. Tapi aku seneng. Bukan dari segi matematikanya, tapi dari mental aku. Aku jadi lebih cenderung berusaha untuk beradaptasi dulu dengan lingkungan yang tidak nyaman, dan yaaah lakukan yang terbaik yang bisa kita lakukanlah. Gak muluk-muluk. Tapi percaya kalo didalam kondisi yang tidak enak ini ada ujungnya, siapa tau cukup terang kan. :)

Jadi, semangat aja ya you you guys!!! Temukan inspirasi mu

Saturday, July 9, 2011

Terracota Army

Terracotta Army (encyclopedia-gue.blogspot.com)
Terakota merupakan pahatan yang terbuat dari tanah liat. Pasukan Terakota dalam hal ini merupakan sepasukan patung-patung yang dipercaya menjaga makam kaisar Qin Shi Huang atau Qin Huang Di sebagai kaisar pertama pada dinasti Qin. Dinasti besar yang membangun Tembok Besar Cina.

Qin Shi Huang dikenal sebagi kaisar bertangan besi yang menaklukan 6 negara dan membangun Tembok Besar Cina sebagai pertahanan wilayahnya. Ia juga pemuja keabadian, sehingga sampai pada akhir hayatnya Ia tetap ingin menjadi penguasa di alam baka, maka dibangunlah Pasukan Terakota sebagai tentara yang menjaga makamnya.

trekearth.com
Tentara Terakota pertama kali ditemukan pada 1974 oleh beberapa petani setempat di dekat Xi'an, Provinsi Shaanxi. Jumlah patung-patung itu diperkirakan lebih dari 8.000 prajurit, 130 kereta dengan 520 kuda dan 150 kuda kavaleri, yang sebagian besar masih terkubur di banyak lubang. Para arkeolog percaya bahwa ada banyak lubang yang masih menunggu untuk ditemukan.
Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/history/2038526-terracotta-army-kisah-misterius-pasukan/#ixzz1RgW2Pwts
Ukuran patung seukuran dengan aslinya (vogueweddingdress.com)  


Mini Note: Banyak makam-makam yang dikisahkan mempunyai "penjaga" si-empu-nya. Salah satunya makam Pharaoh pada cerita-cerita Mesir Kuno.
Nanti saya ceritain kalo udah dapet kisah menariknya okee..

Saturday, June 18, 2011

Patok

Setelah sekian lama berlalu akhirnya saya mengunjungi Pekan Raya Jakarta lagi tahun ini. Saya pernah ke PRJ namun dulu, waktu SD. Hmm... ngomong-ngomong SD, saya nonton di tv. Yah bagi saya menonton tv itu menjadi kegiatan mahal sekarang. Bukan apa-apa, tapi di kosan saya di Jatinangor memang tidak ada tv nya. Jadi harap maklum kalau info yang saya dengar setengah-setengah. Membaca koran pun saya jarang, ya positifnya tanpa tv saya harus lebih rajin membaca. Oke, balik ke berita yang saya tonton. Tentang contekan dan nilai kejujuran di dunia pendidikan. Seorang anak SD mengadukan contekan masal malah dikucilkan dilingkungannya.

Ya ampun mbak... Anak SD itu pikirannya masih bening. Yang Ia pelajari disekolah adalah tidak boleh mencontek dan sekarang ketika berbicara soal pelajaran yang didapat di sekolahnya itu malah disalahkan. Itu dia! yang membuat kebingungan dikalangan pelajar muda itu. Antara yang benar dan salah tidak konsekuen. Ya memang kemudian saya belajar bahwa norma itu sifatnya tidak mutlak alias relatif, tapi kalau di suatu masyarakat sampai terjadi ketidakjelasan norma itu yang kacau. Berarti ada sesuatu yang yang tidak seimbang.

Saya jadi ingat waktu SD, ini gara-gara saya nonton ketika warga kampung si anak yang melaporkan contekan itu menyuruhnya pergi, saya jarang respek sama ibu-ibu yang suka kumpul-kumpul di SD saya. Apa ya, pengaruh... Kadang mereka terlalu mau tau urusan orang. Dan saya suka miris ngeliat ibu-ibu yang mangut-mangut ngedengerin ocehan si biangnya. Yaaa.... percaya aja bu... Kadang ada beberapa ibu-ibu yang saking penasarannya bertanya hal-hal yang saya pikir tidak relevan ditanyakan ke seorang anak SD. Dan saya selalu menjawab hal yang berlawanan dengan jawaban yang mereka harapkan. Kayaknya suka saya pengen teriakin, salah nanya ya bu!

Okey... sebenernya bukan itu yang saya pengen ceritain. Di prolog udah diceritain saya ke PRJ minggu lalu. PRJ itu berlokasi di Kemayoran. Tempat itu adalah lokasi yang asing untuk saya, meskipun hampir 19 tahun tinggal di Jakarta saya ini buta arah. Paling bisa ke Ancol atau Kota tapi menggunakan pertolongan Transjakarta. Ya itulah salah satu kegunaan Transjakarta, menolong orang yang linglung jalan seperti saya ini.

Pulang dari PRJ saya memutuskan naik taksi menuju rumah kakek saya di daerah Kalibata. Dan ternyata eh ternyata supir taksinya sama-sama linglung jalan. Saya makin tidak kenal jalannya. Lama... lama... Saya selalu perhatikan plang nama jalan, petunjuk arah dan hal-hal yang bisa menunjukan arah dan tempat agar saya tau kapan harus bertindak. Lama.. lama... masih saya biarkan. Tak lama sebuah plang membuat saya cukup lega. BLOK M. Waaah..... tempat itu. Tak lama mulai muncul nama-nama tempat yang membuat saya makin lega.

Jakarta ini luas bung... Kemana pun saya kembali dari bepergian di Jakarta ini kadang secara tidak sadar saya mematok tempat itu. BLOK M. Karena setelah sampai ditempat itu saya merasa lebih kenal jalan pulang. Ya! mau lewat Mayestik, bisa. Mau lewat, Pondok Indah, bisa. Mau lewat Blok A, bisa.

Dan kamu? adakah tempat yang seperti itu untuk dirimu? hohoho...

Thursday, June 16, 2011

Pasta Quote

Guru: "nah, kamu kesini"


Yoo Kyung: " ya chef-nya chef."


Guru: "ini resep siapa yang kamu bikin?"

Yoo Kyung: "resep Chef Hyun Wook. Tapi aku merubah sedikit resep itu, karena bagaimanapun rasa gingsengnya tetap pahit, untuk menghilangkan pahit itu aku rebus dengan susu. Maafkan aku.. Maaf.. Maaf.. Maaf.."


Guru: "berhentilah meminta maaf! Dan lanjutkan resep mu itu!"


Yoo Kyung: "....."


Guru: "Kalau resep itu tidak lezat, ubahlah..."



From Korean TV Series "PASTA"

Saturday, June 11, 2011

Berputar

Awalnya saya membuat pertanyaan.
Mending mana: 1. Niat untuk berusaha. 2. Berusaha untuk niat

Setelah dipikir-pikir. Mengisi waktu luang di dalam bis. Ah, kedua pernyataan itu mempunyai tekad.
Pertama, niat untuk berusaha, sudah jelas terlihat tekad didalamnya.
Pernyataan kedua yang bermasalah. Berusaha untuk niat. Awalnya terdengar seperti apatis, tidak ada harapan, dan... yah sebagainya. Tapi toh sudah ada usaha disitu untuk memunculkan suatu 'niat'. Bukankah berarti ada tekad juga didalamnya.

Kemudian aku berhenti mengolah pernyataan tersebut. Inilah yang disebut Difinien Definiendum, begitu yang pernah aku dengar di matakuliah filsafat. Atau gampangnya, Lingkaran Setan, kata temannku ketika UTS waktu itu. Semua berputar didalam satu lingkaran penjelasan yang sama.

Berputar.. berputar... Tidak menemukan ujungnya.

Gedung Itu dan (mungkin) Kenaifan

Lihat kan gedung itu
Penuh skandal dan kontroversi
Sumber: indonesiagoldenera2045.blogspot.com
Entah apa yang menyebabkannya begitu
Orang-orang yang bernaung didalamnya kah
Mungkin...
Bentuk gedungnya yang miring-miring itukah
Hmm, mungkin secara kosmik...
Atau yin dan yan nya yang tidak seimbang
Hah, secara fengsui lagi...

Tapi aku percaya
Hampir sebagian dari orang-orang di kampusku ingin ikut bernaung dibawah gedung itu, dan aku mungkin, hahaha...
Negatif?
Hoo... sangat tidak
Jadikanlah lebih baik
Dan biar kata-kata menjadi harapan
yang didekap oleh jiwa-jiwa penghuni semesta

Sawangan, 11 Juni 2011