Monday, January 6, 2020

NKCTHI (2020): Film Pembuka 2020, Berdamai dengan Keluarga



Oooo aku rindu sekali dengan blog ini...

Hai apakabar semuanya? :)

Tulisan 2020 saya buka dengan review film saja. Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI), judul film yang sulit diucapkan dalam satu tarikan nafas, pun singkatannya, saya agak terbata-bata ketika menyebutkannya di depan mba loket tiket.

Saya tidak menghitung ini film keberapa Visinema yang sejak 2019 sudah ditonton, yang jelas setidaknya 2 tahun kebelakang, rumah produksi milik Angga Sasongko ini aktif memproduksi film. Film yang rilis pun secara kualitas OK.

Hasil gambar untuk nanti kita cerita tentang hari ini poster

Bercerita tentang keluarga Narendra (Donny Damara) dan dinamika persaudaraan Angkasa (Rio Dewanto), Aurora (Sheila Dara), dan Awan (Rachel Amanda). Menonton film ini seperti merefleksi diri di dalam keluarga sendiri. Ya mungkin keluarga kita tidak setipe dengan keluarga Narendra di film ini, tapi setidak kita (atau saya deh..) mungkin saja ada di posisi yang sama dengan Angkasa, si anak pertama. Atau Aurora, si anak kedua. Atau Ajeng (Susan Bachtiar), ibu yang lebih banyak diam dan memperhatikan. Hal-hal reflektif ini, sukses menyentuh sisi sensitif penonton. Entah menyentuh memori sedih, perasaan nostalgic, atau sekedar rasa kesamaan dengan posisi si tokoh.

Saya belum pernah membaca bukunya, tapi penceritaan yang back and forth di film ini memang tepat untuk memantik letupan-letupan emosi penonton. Memori, apalagi tentang ingatan-ingatan yang "belum selesai" memang sentimentil, karena memori-memori itu sedikit banyak membentuk diri kita.

Seperti kata ibu saya yang berkomentar beberapa saat setelah keluar bioskop, "tumben ada film Indonesia begini, kayak film Korea." Still don't get it? Ya, film ini bukanlah film yang naratif. Hampir setiap momentnya tidak hanya dibangun lewat dialog, tapi juga detail-detail lain.

Musik menjadi salah satu hal yang saya apresiasi di film ini. Musik dalam film ini benar membangun suasana di tiap momennya. Oh ya, bahkan dari awal pembuka film.

Yah intinya sih, keluarga itu punya jalannya masing-masing dan akan menemukan jalannya masing-masing. Kayak kata Ian Malcolm di Jurassic Park "life finds the way". Keluarga mungkin tidak ideal, untuk menerima sesuatu yang tidak ideal itu butuh proses, dan yah... ada jalannya.

Score: 3.5/5


Monday, December 24, 2018

26 Tahun!

I'm 26 years old now! wah!

Baiklah, saya akan bercerita sedikit bagaimana 2018 secara garis besar memberikan banyak tantangan.
Tahun ini saya banyak bergulat dengan kesabaran. Perihal menekan ego dalam-dalam secara terus menerus menumbuk diri saya. Dengan berbagai macam kejadian, situasi, macam-macam lah. Hal pertama yang paling kentara terjadi pada diri saya, secara memaksa, saya harus keluar dari zona nyaman. Dimana waktu itu mungkin beberapa saat, saya seperti kehilangan diri saya. Tidak ada passion, tidak ada semangat, tidak tahu tujuan. Benar-benar seperti tidak kenal diri saya sendiri. Pilihannya waktu itu, sepertinya saya harus keluar dari situasi ini. Berpikir panjang, sambil berdoa semoga Allah mengijinkan saya mengambil langkah ini. Tapi justru setelah doa-doa panjang, pilihannya malah membuat saya menarik keputusan awal, dan belajar untuk bertahan, untuk sementara. Iya, belajar, bukan mencoba.

Bertahan ini yang menyadarkan saya soal kesabaran. Sambil berpikir bahwa saya tidak bisa lagi hidup suka-suka saya. Tapi mungkin ini yang dipersiapkan semesta menjelang ulang tahun saya hahaha... kado semesta ini ya diri saya sendiri.

Selain urusan sabar ini, sepertinya saya sudah menemukan resolusi untuk 2019. More respect please... and caring. Respek dan peduli, itu resolusi untuk 2019. Lebih banyak mendengar, banyak baca. Dan tidak lupa, bringing back my passion!

Soal jodoh gimana? Perkara jodoh kan bukan setelah menikah lalu selesai. Saya saja belum beres dengan diri sendiri, gimana nanti tiba-tiba ada orang lain masuk, bahkan jadi bagian dari diri saya.
Hehe...

Yah begitulah...

Selamat berlibur kalo begitu...

Sunday, December 2, 2018

Prosa Jakarta


Menjalin hubungan dengan Jakarta.
Capek.
Riuh.
Tidak romantis.
Hangat.
Tidakkah itu sangat manis.
Mencium hangatnya ketika hujan turun.
Atau memeluk malam yang tak berbintang diantara lampu-lampu gedung.
Atau menatap wajahnya kala embun belum saja menguap.
Ia hampir tak pernah tidur.
Menatap dengan matanya yang lelah, yang di bawahnya sudah melingkar garis kurang tidur.
Seraya berkata, mari jalani sehari lagi bersamaku.
Kau pasti bisa.


Sawangan, 2 Desember 2018




Sebanyak apa aku tak mengerti.
Berkali-kali ku lempar dadu.
Berjudi akan jawaban yang terucap.
berkali-kali aku kalah.
Kuhitung langkah.
Tapi semesta mu tak pernah bisa ku masuki.
Aku terbakar jadi abu.


Jakarta, 26 November 2018




Aku jadi ingin membawamu keliling kota ini.
Sambil bercerita tentang apa saja.
Tentang imajinasimu, mimpimu, kekhawatiranmu.
Biarkan aku mendengarkannya.
Ijinkan aku ikut merekamnya dalam memoriku.
Atau, agar aku dapat mengamini setiap doamu.
Kau mungkin tak suka dengan kota ini.
Padat, bising, kasar.
Suatu saat akan kutunjukan, bagaimana kau akan rindu kota ini.
Mungkin bukan karena kota ini semata, tapi karena ini bagian dari semestaku.
Iya, membawamu ke kota ini seperti memperkenalkan pada semestaku.
Tapi itu angan-angan saja, saat hatiku sedang begitu lembut.



Jakarta, 19 November 2018





Kudengar bisikan air yang mengalir di kaca-kaca gedung.
Mereka cerewet sekali.
Bercerita kisa-kisah dari langit.
Mereka berbisik, semua akan baik-baik saja.
Kubilang, tidak, ini hidupku. 
mereka menatapku seraya meluncur ke tanah.
Diucapkannya sampai jumpa.
Katanya, mereka menyimpan ceritaku untuk dibawa ke langit.



Jakarta, 15 November 2018

Sunday, August 12, 2018

Alive

Aku berjalan di atas bara
Menuju setapak yang berkerikil
Tanpa alas kaki
Tajam yang menghujam
Kukira tak sanggup melihat berdarah-darah
Tapi sampai kini, menginjak luka adalah pilihan paling rasional
Aku masih bernafas
Mungkin nafas ini juga yang memompa kekuatan
Berkat dari Yang Maha Kuasa
Menanggalkan perasaan yang dulu, yang penuh ragu


Sawangan, 12 Agustus 2018
23:35



Wednesday, July 19, 2017

Transportation from Lebak Bulus to Monumen Nasional (Monas)

Firstly I would tell you that I write this post to practice my English writing skill. So, if you feel weird when read this, pardon me. But, I hope you can understand what I say.

Ok, I know it's hard to new people in Jakarta to traveling around this city by a public transportation. This matter happen because a lack of information about a tranportation direction (even when you at the bus station). Also, a lack of direction sign at the streets. So, it's more comfortable to see or search a streets sign (name of the street) from Google Map or Waze.

Here I tried to tell you how to get to Monumen Nasional (Monas) by a public transportation. And I will tell you a transportation to get there from Lebak Bulus Station.

To go to Monas you will ride two different bus from Lebak Bulus. First, you take bus from Lebak Bulus Station to Senen (you will see the direction sign at the front of bus "LEBAK BULUS - SENEN") and transit at SMK 57 Shelter. From there, you take bus again to Monas (take bus with "RAGUNAN - MONAS" sign) and get off the bus at Monas Shelter.

FYI, you will see two bus that has same destination but different route to Monas at SMK 57 Shelter ("RAGUNAN - MONAS via KUNINGAN" and "RAGUNAN - MONAS via SEMANGGI). Don't be confuse because they are same destination, you can take one of them.

The Route of "LEBAK BULUS-SENEN" Bus



The Route of "RAGUNAN - MONAS via SEMANGGI" Bus



The Route of "RAGUNAN - MONAS via KUNINGAN" Bus




Where is Lebak Bulus Station?

Maybe you a little bit confuse the location of Lebak Bulus Station. That is at South Jakarta, and it takes about 2 hours to get to Monas.

Lebak Bulus - Monas Map




Happy explore Jakarta. Be tough in the traffic :D

Wednesday, June 21, 2017

Doa

Doa

Apakah doa itu merambat
Seperti halnya cahaya dan suara
Ia merambat melalui bilur-bilur udara
Bersama saat dihembuskannya bisikan hati
Kemudian di-amin-i oleh tanah, air, dedaunan, burung-burung yang terbang, semesta...
Membumbung tinggi melewati teras para malaikat
Apa udara ini dipenuhi rapalan doa-doa yang dihembuskan
Tuhan Maha Tahu
Kubiarkan ini terbang ke dalam misteri
Karena ini melampaui semesta pengetahuan para makhluk-Nya


Sawangan, 20 Juni 2017


***

Hening

Hening
Dalam khusyuk
Arus pikiran meluap
Ombaknya menderu tinggi
Hening
Dalam khusyuk
Diri meredakan air yang meluap itu
Hingga alirannya lebih tenang
Hingga dapat menatap ke dalam lubuk kesadaran
Arus pikiran adalah arus yang liar
Ia mengerti celah lengah
Dalam roka'at-roka'at, arus itu pasang-surut
Hening
Adalah sungai untuk arus yang bertanya, juga kejernihan cermin diri


Sawangan, 18 Juni 2017

Sunday, June 18, 2017

Si Penawar Hati

Si Penawar Hati

Kisah tentang si penawar hati
Memikat siapa saja untuk mencari
Segala dongeng tentangnya
Menjadi angan setiap insan yang bercinta
Candu
Candu si penawar hati


Sawangan, 14 Juni 2017