Sunday, August 12, 2018

Alive

Aku berjalan di atas bara
Menuju setapak yang berkerikil
Tanpa alas kaki
Tajam yang menghujam
Kukira tak sanggup melihat berdarah-darah
Tapi sampai kini, menginjak luka adalah pilihan paling rasional
Aku masih bernafas
Mungkin nafas ini juga yang memompa kekuatan
Berkat dari Yang Maha Kuasa
Menanggalkan perasaan yang dulu, yang penuh ragu


Sawangan, 12 Agustus 2018
23:35



Wednesday, July 19, 2017

Transportation from Lebak Bulus to Monumen Nasional (Monas)

Firstly I would tell you that I write this post to practice my English writing skill. So, if you feel weird when read this, pardon me. But, I hope you can understand what I say.

Ok, I know it's hard to new people in Jakarta to traveling around this city by a public transportation. This matter happen because a lack of information about a tranportation direction (even when you at the bus station). Also, a lack of direction sign at the streets. So, it's more comfortable to see or search a streets sign (name of the street) from Google Map or Waze.

Here I tried to tell you how to get to Monumen Nasional (Monas) by a public transportation. And I will tell you a transportation to get there from Lebak Bulus Station.

To go to Monas you will ride two different bus from Lebak Bulus. First, you take bus from Lebak Bulus Station to Senen (you will see the direction sign at the front of bus "LEBAK BULUS - SENEN") and transit at SMK 57 Shelter. From there, you take bus again to Monas (take bus with "RAGUNAN - MONAS" sign) and get off the bus at Monas Shelter.

FYI, you will see two bus that has same destination but different route to Monas at SMK 57 Shelter ("RAGUNAN - MONAS via KUNINGAN" and "RAGUNAN - MONAS via SEMANGGI). Don't be confuse because they are same destination, you can take one of them.

The Route of "LEBAK BULUS-SENEN" Bus



The Route of "RAGUNAN - MONAS via SEMANGGI" Bus



The Route of "RAGUNAN - MONAS via KUNINGAN" Bus




Where is Lebak Bulus Station?

Maybe you a little bit confuse the location of Lebak Bulus Station. That is at South Jakarta, and it takes about 2 hours to get to Monas.

Lebak Bulus - Monas Map




Happy explore Jakarta. Be tough in the traffic :D

Wednesday, June 21, 2017

Doa

Doa

Apakah doa itu merambat
Seperti halnya cahaya dan suara
Ia merambat melalui bilur-bilur udara
Bersama saat dihembuskannya bisikan hati
Kemudian di-amin-i oleh tanah, air, dedaunan, burung-burung yang terbang, semesta...
Membumbung tinggi melewati teras para malaikat
Apa udara ini dipenuhi rapalan doa-doa yang dihembuskan
Tuhan Maha Tahu
Kubiarkan ini terbang ke dalam misteri
Karena ini melampaui semesta pengetahuan para makhluk-Nya


Sawangan, 20 Juni 2017


***

Hening

Hening
Dalam khusyuk
Arus pikiran meluap
Ombaknya menderu tinggi
Hening
Dalam khusyuk
Diri meredakan air yang meluap itu
Hingga alirannya lebih tenang
Hingga dapat menatap ke dalam lubuk kesadaran
Arus pikiran adalah arus yang liar
Ia mengerti celah lengah
Dalam roka'at-roka'at, arus itu pasang-surut
Hening
Adalah sungai untuk arus yang bertanya, juga kejernihan cermin diri


Sawangan, 18 Juni 2017

Sunday, June 18, 2017

Si Penawar Hati

Si Penawar Hati

Kisah tentang si penawar hati
Memikat siapa saja untuk mencari
Segala dongeng tentangnya
Menjadi angan setiap insan yang bercinta
Candu
Candu si penawar hati


Sawangan, 14 Juni 2017

Tuesday, June 13, 2017

Masa SMA, Masa yang Puitis

Hello!

Gue mau nulis kilat aja nih, soalnya harus segera mandi dan berangkat les.
Sudah lama tidak mengisi blog ini karena beberapa waktu fokus banget mengurus blog film. Akhirnya tulisan pertama di 2017 gue isi dengan kumpulan puisi yang bisa dibaca pada post di bawah post ini.

Sambil mulai menulis kembali, gue iseng membuka kembali post-post lama yang sudah ancient hahaha...
Dan ternyata pada masa-masa SMA gue lumayan puitis ye. Gue merasa saat ini justru gue sedang kehilangan irama dalam berpuisi, yang artinya (gue artikan sendiri sih wkwk...) mungkin sekarang ini gue jadi kurang peka. Jadi terlalu reaktif di dunia yang serba digital, serba terkoneksi, serba kilat ini. Karena dalam berpuisi itu kan butuh "merasa" (setidaknya menurut gue), butuh berpikir, butuh mengolah kata. Gak asal jeplak ala twitter.

Yap! selalu asyik memang membuka post-post lama. Seperti menelusuri ingatan-ingatan masa lalu yang mungkin kini gue lupa pernah seperti itu :)

Oke deh, see you next time ya.

Kumpulan Puisi: Bunga Hati

Kata Yang Memenjara

Kata-kata yang memenjara perempuan
Begitu halus
Begitu indah
Begitu menekan
Mengaburkan makna atas segala yang diikat
Agar tak mengganggu, tak merubah
Tak merusak apa yang dipercaya sudah garisnya
Tapi...
Tafsir manusia tak pernah mutlak


Sawangan, 13 Juni 2017

***

Bunga Hati

Hati ini mencari keadilan
Untuk rasa yang terpenjara norma
Mencari pintu, membebaskan bunga-bunga yang mekar
Mungkin hati ini sudah seperti hutan
Setiap bunga yang mekar tersimpan dalam museum ingatan
Aku mengingat setiap detailnya
Bunga dengan kelopak besar berwarna merah
Juga bunga-bunga yang membeku
Sampai bunga-bunga itu menyatu menjadi diriku


Sawangan, 12 Juni 2017

***

Siapa Peduli?

Jakarta dan keheningan yang bising
Orang-orang berkutat dengan pikirannya sendiri
Orang-orang yang berlari mengejar apa saja
Hujan tak kenal lelah membasahi udara yang abu-abu
Kukatakan ini hening
Memangnya kita masih peduli dengan kebisingan?
Biarlah...
Kota ini memelukku dengan gemerlapnya
Berkata tidak apa-apa. Masih ada harapan
Kota yang ahli dalam membangun harapan
Meski tak peduli sebanyak apa yang kemudian patah hati
Dan memangnya aku peduli?


Jakarta, 27 April 2017

***

Dalam Gelap

Apa yang orang-orang harapkan dari dirimu?
Apa yang kamu harapkan dari dirimu?
Apa yang kamu harapkan dari Tuhan?
Apa yang kamu harapkan terhadap hidup?
Saat gelembung-gelembung harapan menggembung dalam hatimu
Saat pikiran menampar-nampar akan realitas
Mereka saling berbantahan
Dirimu terdiam
Berdiri jauh di dasar sumur
Atau lorong? Entah...
Yang jelas gelap
Hanya tangan dan intuisi yang meraba
Kamu keras kepala untuk bertahan
Aku harus keras kepala
Seolah setitik keteguhan dalam nurani bahwa ada sesuatu di depan sana. Di atas sana
Meski, apa yang bisa kamu harapkan dalam gelap?


Sawangan, 27 Maret 2017

***

Karena kembali bukan bakar tapi kedewasaan


Jatinangor, 30 Maret 2015



Thursday, December 24, 2015

Antara Skripsi dan Film

Yippie... baru beres nonton Star Wars yang baru. Biar begitu gue bukan yang ngikutin ceritanya, jadi harus dijelasin dulu soal Starwars universe sama adek gue. Hmm maklum deh anak 90-an abal-abal hahaha...
Tapi bukan soal Starwars yang mau gue tulis disini. Soal Starwars nanti aja di blog review.

Sekarang tahun 2015 sudah mau habis dan akan beralih ke 2016. Tapi skripsi gue tetap aja belum selesai. Banyak hal sih, tapi kebanyakan karena males ngetik hehe... Iya males ngetik. Kalau gue gak malas ngetik, bukan skripsi aja yang cepet selesai, tapi dua blog gue juga gak akan terbengkalai gini. Sampai tulisan ini diturunkan, blog gue yang satu lagi malah belum di-update. Parah betul ini malas...

Kadang kalau lagi mikirin soal skripsi, entah kenapa gue suka mengibaratkan nyusun skripsi ini seperti bikin film. Yah, walaupun secara teknis gue sama sekali tidak mengerti cara bikin film. Kebanyakan hasil gue baca-baca artikel dan semacamnya aja. Gak tau kenapa ya, mungkin karena hobi gue yang gampang banget lari ke bioskop. Apalagi di Jatinangor, bioskopnya dekat kostan dan lumayan terjangkau sih.

Gue mulai mengibaratkan bikin skripsi ini seperti bikin film itu sejak gue mulai nyusun kerangka pemikiran untuk di usulan penelitian. Berkali-kali direvisi gara-gara kata dosen pembimbing gue, latar belakang dan kerangka pemikiran gue masih gak nyambung. Belum jelas apa yang mau diteliti. Wadaw... Lagi mumet mikir cara nyambungin itu semua, gue iseng-iseng buka artikel tentang film-film di internet, sambil update film baru yang asyik dan juga kepo soal berita-berita industri diluar sana. Macam-macam berita keluar. Dari mulai rilis film terbaru sampai gosip-gosip dibalik pembuatan film. Tentang film yang bocor ke publik, tentang film yang gagal dipasaran, tentang film yang jadwal rilisnya mundur, tentang gonta-ganti kru, dan lain-lainlah...

Sambil ngelamun, gue pikir bikin film hampir serupa ya sama bikin skripsi.
Kayak bikin skripsi, film juga pasti punya tema awal. Tema yang nantinya dikembangin jadi cerita, karakter, alur, dan sebagainya. Dulu, waktu gue ngajuin tema skripsi, gak terlalu sulit. Lolos aja. Kerepotan mulai muncul pas bikin latar belakang dan kerangka pemikiran. Pokoknya hal-hal di bab satu yang sangat essensial, tapi teknikal. Mamam gak tuh... Essensial, semacam kenapa ngambil topik ini, apa menariknya, apa pentingnya. Belum kerangka pemikiran, harus runut. Kalau enggak, balik lagi, revisi lagi. Ditambah persoalan teknik metode penelitian, mau dibuat seperti apa skripsi ini, metodenya mau kualitatif atau kuantitatif.
Gara-gara ngerjain skripsi ini, kemudian gue menyadari kenapa ada skenario film yang sampe makan waktu satu tahun atau lebih. Setidaknya itu sering banget gue denger beritanya. Hmm... Kalau liat di film Saving Mr. Banks, itu bisa tergambar gimana merancang satu cerita. Dibikin dulu alur ceritanya, digambarin tiap karakter mau seperti apa, belum kalau ada silang pendapat, antara mau dibuat film musikal atau tidak.
Seriously, alur cerita di film itu ternyata penting loh. Bukan cuma alur sih, tapi isinya juga. Kadang-kadang ada film yang spektakuler tapi dari segi cerita dan alur gak oke. Kalau udah gini, jangan liat komennya para kritikus deh, nyakitin :(.

Lalu sama seperti skripsi, film juga punya jadwal. Jadwal syuting dan jadwal rilis. Wah kalo ini, ibaratnya film, skripsi gue tuh kayak serial Sherlock yang jadwal rilisnya mundur terus.
Jadi begitu lah, gara-gara ini gue jadi berpikir bahwa film itu ternyata cukup terstruktur juga ya. Proses kreatif yang terstruktur? bisa gak kalau dibilang gitu? Berarti bikin skripsi juga proses kreatif yang terstruktur juga? Haaaah... kagak deh kayaknya hahaha...

Ooh satu lagi, entah ya, gue suka mengibaratkan dosen pembimbing gue tuh seperti eksekutif produser hahaha... Yang tandatangan acc-nya penuh arti. Ibaratnya nih, gue bikin skenario (cerita, karakter, alur, teknik gambar, dll), nah dospem gue tuh bagian yang acc-nya, setuju atau enggak ini skenario jalan hehehe... Yah gue gak mau aja, berakhir macam Fantastic Four-nya Josh Trank yang kacau gara-gara miskomunikasi antara sutradara dan produser :p.

Jadi begitulah. Yah, gue sih gak pengen bikin skripsi sekelas Interstellar yang amat sangat matang, atau Starwars yang spektakuler. Atau seperti Fight Club atau Memento yang hasil akhirnya unpredictable. Tema skripsi gue juga gak nge-pop layaknya saga Hunger Games. Cukuplah di titik aman macem film-filmnya Nicholas Cage atau Steven Seagal. :)


So, kalau diibaratin film, skripsi mu ini film apa?