Monday, August 17, 2015

Pura-pura Tenang

Samudra berdesir
Menghantarkan harum garam
Beberapa orang senang duduk di tepian
Katanya harum garam itu menenangkan mereka
Juga buih-buih yang timbul tenggelam di sela-sela kaki mereka.
Sebenarnya mereka adalah pikiranku
Pura-pura tenang

Sunday, August 2, 2015

"The wound is the place where The Light enters you"


-- Rumi

The Questions of Life

Waw sudah berapa lama ya saya gak nulis di blog ini. Oiya, fyi saya telah membuat satu blog baru yang isinya khusus tulisan mengenai review film. Kenapa akhirnya saya split menjadi blog lain, tujuannya agar fokus aja. Jadi blog yang ini biar jadi kumpulan tulisan bebas saya. Jadi blog yang satunya lagi itu, yang megang masih tetap saya, ibaratnya adminnya masih saya. Tapi diisi oleh tulisan saya dan adik saya. Kenapa begitu, karena awalnya saya berpikir, lucu juga ya kalo obrolan saya dan adik saya tentang dunia film dituturkan dalam sebuah blog. Itung-itung meramaikan gaung perfilman di Indonesia juga sih hehehe...

Ini blognya, silahkan mampir > Kata Penonton

Sudah informasinya. Mari kita masuk ke cerita.
Beberapa minggu lalu, saya pulang dari Bandung setelah mudik Lebaran, naik travel ke Jakarta. Perjalanan di travel selalu membosankan. Karena lupa bawa headset, akhirnya saya menguatkan diri ditengah kebosanan dan kesunyian travel di siang itu. Di mobilnya juga enggak diputer lagu atau apa kek gitu. Sunyi, penumpang lain pada tidur.

Biasa, kalau lagi diem begitu, gak aneh kalau ada pikiran-pikiran bebas yang bersliweran. Salah satunya, tentang pertanyaan yang selalu muncul kalau kita lagi kumpul keluarga. "kapan lulus?", "mau kerja dimana?"," atau langsung jebret "atau mau nikah dulu?". Alamak! skripsi saya saja masih nunggak. Sebenenarnya ini isu klasik yang sering dihadapi mahasiswa tingkat akhir seperti saya ini. Udah biasa, harusnya. Tiap tahun, pasti selain menyiapkan baju untuk menginap di rumah saudara, juga jawaban-jawaban pamungkas untuk serangan pertanyaan ini.

Tapi dipikir-pikir, memangnya salah kalau ada pertanyaan seperti itu. Toh, saya sendiri juga sering bertanya soal, "udah kelas berapa?", "mau launjut sekolah kemana?", ke saudara-saudara saya yang lebih kecil dari saya. Dan pada masanya, saya pun akan termasuk orang akan melemparkan pertanyaan "kuliahnya sudah sampe mana?", "mau lanjut kerja atau S2?" pada saudara-saudara saya tadi. So, sebenernya harusnya pertanyaan itu sudah tidak aneh.

Kemudian yang saya pikirkan adalah kenapa muncul pertanyaan seperti itu? kenapa lebih terasa enggan menjawab pertanyaan seperti itu pada usia saya yang sekarang? kenapa dulu santai saja kalau ditanya sama saudara-saudara? Bukan berarti saya keberatan ya, sama sekali tidak. Ini cuma pemikiran dikala travel begitu membosankan. Hehehe...

Akhirnya saya sampai pada satu jawaban, kenapa pertanyaan-pertanyaan seperti itu muncul? Itu karena society (saya pikir kata "society" cukup pas menggambarkan masyarakat yang saya maksud) mulai menagih peran kita di kehidupan bermasyarakat. Mengingat saat saya menerima pertanyaan-pertanyaan ini usia saya sudah 23 tahun. Mungkin society merasa pada usia saya tersebut sudah cukup untuk mulai berperan di masyarakat. Ibaratnya, kamu sudah kuliah, sebentar lagi selesai, udah saatnya kamu mulai cari uang untuk keluarga, atau setidaknya dirimu sendiri. Kita mulai ditarik pada kehidupan bermasyarakat yang sesuai dengan aturan, seideal mungkin.
Pertanyaan itu tak pernah selesai selama kita belum 'ideal'. Contoh, kalau kamu sudah berusia 29 tahun dan belum menikah, tau dong pertanyaan apa yang akan muncul? hehehe... Karena menurut society hal tersebut tidak ideal.

Tapi tenang, pertanyaan itu kelihatannya bisa selesai juga, pada usia yang dianggap sudah cukup atau telah selesai menunaikan perannya di masyarakat (telah ideal ataupun tidak ya). Kayak umur-umur nenek ku gitu. Pertanyaan yang keluar adalah "sehat bu?", "cucunya berapa bu?", bukan pertanyaan menuntut lagi.

Jadi, bagi saya, masa-masa penuh tuntutan ini sebenarnya seru juga kalau dinikmati. No, setiap masa (part of your life) itu layak untuk dinikmati. Oh bukan lagi, bukan dinikmati bahasanya, layak untuk disyukuri dan diikhlaskan.

Friday, August 22, 2014

Serangan Bollywood

HALOOOOHAAA.... Sebenarnya saya pengen banget ngebahas soal serangan serial-serial Bollywood yang menerjang tiap malam hehe, khususnya salah satu serial yang lagi rame-rame nya, itu tuh serial yang diangkat dari kitab Mahabarata itu... Tapi berhubung serialnya aja belom beres saya tonton, jadi kayaknya kalau saya bahas sekarang kurang oke, karena saya juga belum tau akhirnya gimana, apa tetap bagus dan seru sampai akhir atau gimana (dan sepertinya serialnya masih lama beresnya di Indonesia, tapi kalo di India mungkin udah mau abis ya).

Jadi, saya cuma mau nempelin lagu soundtrack nya aja kali ini


Terjemahan Lagu:

This is the story of a struggle.
For the good of the world.
Righteousness, Unrighteousness, Guidance, Pleasure.
Truth, Lies, Conflict, Stigma.
This is the unselfish story of God.
There is Strength, there is Devotion.
The salvation from the cycle of births.
This is complete purpose of life.
From the Yugas, to Particles.
In an Universe of Reflector.
Veda's stories are limitless.
Here is act's verses.
Here is deity's language Sanskrit.
Millennium history's evidence.
The Glory of Krishna.
The Importance of the Gita.
It is the foremost of all scriptures.
Mahabharat...
Mahabharat...
Mahabharat...
Mahabharat. 
(sumber: youtube)
Setidaknya, serial ini berhasil membuat saya dan beberapa teman saya jadi ngobrolin tentang cerita Mahabarata. Kadang ngomongin soal tokohnya, soal aktornya yang keker2 (hahahaha....), soal cerita aslinya menurut sumber sejarah dan cerita-cerita yang kita dapet di internet, kadang ngomongin hal-hal konyol soal gaya filmnya, atau malah ngomongin soal respon lingkungan sekitar tentang serial ini (kayak tetangga teman saya, yang ngaku ada yang kurang kalau belum nonton Mahabarata, ckckck).

Sebenarnya dari awal ada iklannya di Antv saya udah penasaran sama serial ini, tapi baru berhasil ngikutin dari tengah cerita. Uh, susah juga ngikutin cerita epic begini. Jadi, sampai sekarang saya nonton, baru kemarin saya tau Bhisma itu siapanya Satyawati, kenapa Bhisma jadi mengabdi untuk Hastinapura, dan hubungan Bhisma dengan Dewi Gangga (ngomong-ngomong yang jadi Dewi Gangga, mukanya blasteran gitu. Hehe sorry out of topic). Serius, buat ngerti ceritanya kayak lagi bikin genealogi (jadi kayak ngerunut hubungan kekerabatan gitu). Hmm... Dan banyak cerita-cerita yang kelewat (sehingga menghasilkan kebingungan di tengah-tengah cerita) akhirnya saya tambal sama cerita-cerita dan penjelasan di internet.

Jadi, kenapa gak baca di internet aja daripada nonton serialnya? oooh tidak bisa, justru yang bikin menarik dan membuat penasaran itu karena ada serial nya. Hehehe...

Yasudah ya, cukup sekian dulu tulisan saya kali ini. Di sambung lain waktu ya. Selamat malam

Thursday, May 8, 2014

Spirited Away (2001)

Lagi beres-beres dvd, saya menemukan dvd yang udah berdebu dan rasanya belum pernah di tonton. Malam itu iseng lah saya nonton.

Spirit Away merupakan salah satu film karya Hayao Miyazaki. Miyazaki sendiri terkenal dengan film-film animasi yang kualitasnya sudah tidak di ragukan lagi. Film ini berjudul asli Sen To Chihiro No Kamikakushi bisa dibilang film Miyazaki ke 3 yang pernah saya tonton. Dari dua film sebelumnya--Totoro dan The Wind Rises--film ini lebih terasa adventure-nya.

Kisahnya mengenai seorang anak perempuan bernama Chihiro (Rumi Hiiragi) yang tiba di sebuah tunel bersama orang tuanya. Ternyata tunel itu menghubungkan jalan yang di lalui keluaga Chihiro ke sebuah perkampungan yang sangat sepi. Tak berapa lama orang tua Chihiro merasa lapar, kemudian mereka mencari restoran di perkampungan itu dan menemukan sebuah restoran tanpa pelayan--ataupun orang. Orang tua Chihiro pun menikmati makanan di restoran tersebut.
Chihiro yang merasa takut dengan perkampungan sepi itu tidak ikut makan, kemudian ia melihat sebuah kuil--setidaknya bentuknya menyerupai kuil--besar. Disana tiba-tiba bertemu seorang anak laki-laki bernama Haku (Miyu Irino) yang menyuruhnya pergi dari kampung tersebut. Namun terlambat, hari sudah semakin sore dan Chihiro menemukan sebuah kenyataan menyeramkan, kedua orang tuanya berubah menjadi babi!.

Chihiro kebingungan, disaat seperti itu Haku datang menolongnya. Ia menyuruh Chihiro menemui Yubaba (Mari Natsuki), kepala tempat pemandian (ternyata kuil besar tadi adalah tempat pemandian) dan memaksanya untuk menjadikan Chihiro pelayan di sana. Hal ini dilakukan untuk menyembunyikan diri Chihiro yang adalah manusia. Ternyata tempat pemandian itu (dan perkampungannya) adalah tempat para dewa dan roh mandi (dan berekreasi). Tempat tersebut terlarang bagi manusia biasa.
Sambil bekerja di tempat pemandian Yubaba, Chihiro mencari cara untuk mengembalikan orang tuanya kembali menjadi manusia dan membawa mereka pergi dari tempat tersebut.



Cerita ini agak menyeramkan ya. Penonton di bawa masuk kedalam dunia yang janggal dan misterius. Film ini pun sarat akan dongeng-dongeng yang mungkin familiar di masyarakat Jepang. Tipikal animasi klasik (yang sejujurnya saya rindukan juga, diantara animasi-animasi canggih yang sedang mewabah di dunia). Meski klasik (dan non-american style :p), film ini tidak jadi membosankan. Penonton seperti diajak lesap dalam dongeng-dongeng masa lalu. Dan kesukaan saya di film ini, Miyazaki tidak "menganakkecilkan" tokoh utama, sehingga film ini bisa di terima secara pas bagi semua umur.

Sekedar info, Spirited Away merupakan film anime pertama yang mendapatkan piala Oscar pada kategori Film Animasi Terbaik tahun 2002.


"Dunia Lain"
Ngomong-ngomong ini kayak makurokurosuke yang di Tororo ya :3
Kisah tentang seseorang yang terdampar di "dunia lain" bukanlah barang baru. Memang cerita pengelanaan seseorang di dunia yang janggal bagi nya merupakan salah satu cerita yang menarik. Mungkin karena manusia sering berkhayal bahwa ada sesuatu yang lain di luar sana. Meki begitu, butuh kemampuan yang baik untuk mengolah cerita sehingga lebih memorable.

berikut beberapa cerita terkenal tentang pengelanaan seseorang di "dunia lain"
- Alice in Wonderland
- The Wonderfull Oz
- The Chronicles of Narnia
- apa lagi ya? ada yang ingat?




Detail

Genre: Adventure, Animasi
Rate (MPAA): PG
Durasi: 125 menit
Bahasa: Jepang
Tayang: 20 Juli 2001

Produksi: Studio Ghibli
Produser: Toshio Suzuki
Sutradara: Hayao Miyazaki
Penulis: Hayao Miyazaki
Pemeran: Rumi Hiiragi, Miyu Irino, Mari Natsuki, Bunta Sugawara, Takashi Naito, Yasuko Sawaguchi, Akio Nakamura, Yumi Tamai
Editor: Takeshi Seyama
Musik: Joe Hisaishi
Cinematography: Atsushi Okui


Tuesday, April 29, 2014

Transcendence (2014)

Wiiw haloooooo.... Ih udah lamanya gak ngisi blog ini. Mumpung internet lagi lancar, langsung saja hahaha...

Saya di kabarin sama temen kosan, katanya ada film Jhonny Depp yang dia nya kayak orang biasa (lah emang biasanya kayak gimana ya? haha). Rasanya saya ini jadi gaptek banget, gak tau info-info terbaru, halah, kayak tinggal di goa yak haha...

Oke. Jujur aja waktu saya nonton film ini, agak gambling juga, gak tau ceritanya dan berita-berita lainnya. Ini juga nonton hanya karena faktor wajah Depp terpampang close up di posternya. Inilah kegunaan poster yang sesungguhnya, menarik penonton-penonton linglung yang butuh hiburan, kayak saya waktu itu.

Film ini bercerita tentang seorang ilmuwan, Dr. Will Caster (Jhonny Depp), yang menemukan sebuah teknologi yang dapat men-transfer sebagian dari kesadaran otak makhluk hidup ke dalam sistem komputer. Dalam hal ini ia telah mencobanya pada monyet. Pada dasarnya, teknologi ini dapat menunjang keterbatasan fisik manusia dengan mengalihkan pemikirannya ke dalam sistem komputer sehingga dapat mencapai titik yang tidak terbatas.
Namun, nyatanya kondisi buruk menimpanya sehingga ia dan istrinya, Evelyn Caster (Rebbeca Hall) memutuskan untuk mencoba men-transfer kesadaran diri Will ke dalam sistem komputer. Masalah pun terjadi ketika Will mulai berkembang dalam sistem komputernya.

Student: So you're trying to create a god? Your own god?
Will Caster: That's a very food question. Um, isn't that what man has always tried to do?

Ide mendasar dari cerita ini adalah pertanyaan mengenai kesadaran diri. Dimana letak dari kesadaran diri manusia? waw, filsafatis sekali bukan. Ya, bayangkan tubuh tanpa pikiran, manusia itu sudah tidak punya kesadaran diri, tapi pikiran tanpa tubuh juga sama menyeramkannya. Ini kayak dapat kuliah filsafat di bioskop.

Lebih jauh dari itu, film ini juga memunculkan tentang kelompok anti terhadap teknologi. Sederhananya, kelompok itu menganalogikan, suatu saat dokter-dokter yang ada di rumah sakit adalah para teknisi bukan lagi para ahli medis. Pernyataan itu hanya ingin menegaskan kekhawatiran mereka tentang pengalihan fungsi teknologi pada berbagai bagian kehidupan. (Kalau di kuliah saya udah di tanya soal batasan teknologi yang dimaksud nih, hadeh. Jadi gini, sederhananya adalah teknologi yang dimaksud berupa teknologi "yang dapat berpikir sendiri"). Salah satu yang menjadi fokus utama dari kelompok ini yaitu penggunaan jaringan internet, diantaranya tentunya pemakaian media sosial. Mereka menganggap adanya sistem internet menghapus ruang-ruang pribadi manusia.

What if a new intelligence was born?

Sebenarnya inti dari cerita film ini cukup menarik dan kekinian. Ya, isu-isu teknologi vs manusia gitu. Awal mulai sampai pertengahan film mungkin penonton akan dibingungkan dengan penjelasan mengenai ini-itu plus segala teori-teori rumitnya. Mungkin film ini butuh penyederhanaan penjelasan alur cerita, meski terlihat beberapa kali akhirnya disederhanakan lewat analogi atau pernyataan-pernyataan singkat.

Pemilihan Depp sebagai Will Caster nampaknya tepat, toh Depp sudah terbiasa menerjemahkan karakter-karakter yang tidak biasa, karena sesungguhnya karakter Will ini cukup unik juga. Sebagai ilmuwan ia tidak memiliki keinginan untuk merubah dunia. Ilmu pengtahuan yang ia kembangkan pun semata-mata hanya untuk "sebagai ilmu saja".

Berjibaku dengan Captain America nampaknya Transcendence cukup terpuruk. Ya, katanya sih secara keuntungan gak begitu memuaskan. Melihat dari IMDb, dari budged $ 100 juta hanya memperoleh keuntungan sekitar $ 18 juta, men tetep aja banyak.

Sebagai penggemar karya-karya Tim Burton, rindu juga ngeliat Jhonny Depp menjelma macam Ichabod Crane atau Mad Hatter hehe..
Dengan demikian, bagi penggemar filsafat sih kayaknya bisa anteng nih nonton film ini. 


Detail
Genre: Drama, Sci-Fi
Runtime: 119 minute
Rating (MPAA): PG-13
Language: English
Release: 10 April 2014 (US)

Production: Alcon Entertainment, DMG Entertainment, Straight Up Films
Producers: Kate Cohen, Broderick Johnson, Andrew A. Kosove, Annie Marter
Director: Wally Pfister
Written by: Jack Paglen
Cast: Jhonny Depp, Rebecca Hall, Paul Bettany, Morgan Freeman, Kate Mara, Cillian Murphy, Clifton Collins Jr.
Editor: David Rosenbloom
Music by: Mychael Danna
Cinematography: Jess Hall
Distributor: Warner Bros Pictures, Summit Entertainment, Entertainment Film Distributors


Sunday, December 15, 2013

Soekarno (2013)

Tadaaa... Dapur Films kembali mengeluarkan satu lagi film biopic yang cukup tendensius ya bisa dibilang hehehe... Setelah beberapa film sebelumnya, Habibie dan Ainun, Sang Pencerah, dan Sang Kyai, nampaknya tipikal cerita salah satu rumah produksi ini mulai terbentuk ya. Hmm... Bukan hal buruk kok. Kali ini Hanung  Brahmantyo, selaku empunya Dapur Films, berkolaborasi dengan Multivision Plus (MVP) Pictures, milik sang raja sinetron Raam Punjabi. Sebenarnya waktu awal menggelegarnya nama Hanung lewat salah satu film masterpiece nya, Ayat-ayat Cinta, Ia pernah juga bekerja sama dengan "adik" MVP, yakni MD Entertainment, kepunyaan Dhamoo dan Manoj Punjabi. Punjabi brother lagi... Yah, gak masalah sih, namanya juga industri, butuh perputaran budget juga ya.

Dan nampaknya para raksasa industri film Indonesia ini mulai sadar soal selera tontonan rakyat Indonesia yang mulai berubah. Cerita cinta masih jadi andalan tapi sudah tidak sesederhana dulu. Butuh yang lebih berisi kini. Jujur aja, kadang saya suka ngebatin dan ngerasa, industri film di Indonesia jauh... Jauh lebih liberal daripada pemerintahan Indonesia sendiri. Hmm... tapi berhubung saya bego soal politik, mari kita tinggalkan topik itu hehe...

Baiklah. Film ini dibuka oleh nyanyian Indonesia Raya. Kalau waktu itu saya gak tau malu, saya mau tuh ikut berdiri sambil nyanyi hehe... Diawal film kita suguhkan cerita tentang seorang anak penyakitan yang nantinya menjadi salah satu tokoh di Indonesia. Cukup detil juga ini film, digambarkan bapak (Sudjiwo Tedjo) dari Soekarno yang waktu itu masih bernama Kusno Sosrodihardjo, sedang repot mengurus sajen dan tidur dibawah ranjang Kusno yang sedang sakit, agar penyakit anaknya itu sembuh. Iya itu, begitulah kehidupan masyarakat Jawa dulu, jujur juga ya ini film. Diawal cerita padat dengan segala hal tentang budaya-budaya bangsawan Jawa dan kehidupan Jawa.

Pada film ini, pengenalan karakter Soekarno (Ario Bayu) dipaparkan dari masa kecil beliau. Gaya flamboyan sudah digambarkan pada Soekarno kecil (Emir Mahira), yang telah memacari gadis Belanda. Kemudian cerita loncat pada masa penahanan Soekarno di penjara Banceuy bersama rekan-rekannya karena dianggap komunis. Yap, Soekarno sudah dekat dengan ideologi itu sejak kecil. Pada salah satu plot diceritakan Soekarno kecil yang sedang mengobrol dengan Musso. Musso, pemimpin PKI pada 1920. Kemudian plot loncat lagi pada saat-saat pembacaan pleidoi terkenalnya Soekarno, "Indonesia Menggugat". Saat itu Soekarno telah beristrikan Inggit Garnasih (Maudy Koesnaedi), kemudian dibuang ke Ende oleh pemerintah Belanda.

Disana Soekarno bertemu seorang gadis muda bernama Fatmawati (Tika Bravani) yang juga merupakan muridnya. Woh, kisah cinta yang rumit ya. Bisa dibilang porsi kisah cinta segitiga ini hampir 50-50 dengan cerita politik Soekarno.

Sampai pada titik kedatangan Jepang di Indonesia, saat itulah Soekarno kemudian bertemu dengan tokoh yang nantinya menjadi sidekick nya, Mohammad Hatta (Lukman Sardi). Hatta digambarkan begitu kaku dan realistis, seperti pada salah satu plot tentang penentuan dasar negara, beliau menyarankan negara federasi sebagai dasar negara karena Indonesia terdiri dari berbagai budaya yang berbeda-beda, meski kemudian Soekarno tidak setuju pada pendapat itu, karena bagi beliau sistem macam itu tidaklah nasionalis. Hmm... Politik...

Seperti ada yang kurang dalam penokohan Soekarno. Entahlah, mungkin karena dari kecil saya sudah terbiasa dengan cerita sejarah tentang Soekarno yang kharismatik, maka pada film ini saya merasa, memang penggambaran kharismatik itu ada, lewat dialog-dialog seperti bagaimana Sutan Sjahrir (Tanta Ginting) tetap membutuhkan sosok Soekarno dalam proklamasi kemerdekaan atau pihak Jepang yang mengakui kemampuan Soekarno dalam menarik massa, namun entah kenapa penggambaran tokoh Soekarno ini berakhir hanya sebagai orator handal yang dielu-elukan rakyat dan dibutuhkan para politisi. Kalau saja ada sesuatu yang lebih ya.

Kemudian tokoh Hatta (salah satu tokoh favorit saya di dunia perpolitikan, diluar film ya hoho...), nampaknya kurang digarap sehingga seperti pelengkap saja. Chemsitry antara Soekarno - Hatta ini memang dimunculkan, namun berakhir begitu saja, tanpa makna atau apa kek.
Nah, ini dia, justru tokoh Sjahrir, yang sejak awal sudah mengenal Hatta dan agak bersebrangan dengan Soekarno ini jadi menonjol. Karakter yang digambarkan menggebu-gebu dan to the point ini menghidupkan cerita patriotisme dalam film ini.
Plot cerita cenderung cepat, tapi untung tiap momennya berhasil digambarkan dengan baik. Sepanjang film saya ngebatin, ini pengambilan gambarnya dimana ya.. keren-keren loh... Dan satu lagi, penataan musik di film ini bagi saya, baguuus... Pokoknya penuh dengan musik-musik tempo dulu, sampe ke musik score nya itu memakai lagu "Wanita" yang kemudian di nyanyikan lagi oleh Afgan sebagai salah satu soundtrack film ini.

Pada akhirnya, membuat film biopic itu butuh penanganan yang khas, apalagi tokoh yang berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Karena sejarah tetap sejarah yang turun berdasarkan cerita-cerita lisan ataupun tulisan yang ditulis seseorang berdasarkan sudut pandangnya masing-masing. Sejarah tetap sejarah yang punya berbagai versi, mau yang dilegalkan seperti pada buku-buku sekolah maupun versi "bisik-bisik"nya. Dan film tetaplah film, tergantung bagaimana sineas di film itu memilih dan meramu cerita mana yang akan divisualisasikan.
Biar sejarah yang membersihkan nama kita...

Oiya, saran aja sih, karena ini filmnya agaknya berdasarkan sejarah bebas, bukan seperti pada Habibie dan Ainun yang berdasarkan cerita asli tokohnya sendiri, jadi kayaknya penonton harus mengingat-ingat sejarah Indonesia lagi nih. Apalagi plot cerita di film ini yang loncatnya cukup cepat, jadi penonton harus sadar apa yang terjadi pada plot itu, kalau enggak nanti bingung. Seperti saat pembentukan PUTERA dan kemudian muncul PETA, nah kan (kayak waktu saya nonton di bioskop, akhirnya anak-anak yang nonton di belakang saya malah rusuh karena bete kayaknya. Pengen jitak deh...).

Yah, begitulah, semoga film ini bisa jadi pemicu film-film biopic lainnya di tanah air. Ya siapa tau ada kelanjutannya hehe... Eh beneran loh, kisah couple Soekarno - Hatta itu cukup potensial, atau mungkin ada kisah Soekarno dari sisi lain, kalau kata kuis nya Uya Kuya sih, bisa jadi!.


Detail
Gendre: History, Biopic, Drama
Running Time: 137 menit
Rating (LSI): R (Remaja)
Language: Bahasa (Indonesia)

Production: MVP Pictures, Dapur Films, Mahaka Pictures
Producer: Raam Punjabi
Screenplay: Ben Sihombing, Hanung Bramantyo
Director: Hanung Bramantyo
Cast: Ario Bayu, Lukman Sardi, Maudy Koesnaedi, Tika Bravani, Tanta Ginting, Ferry Salim, Agus Kuncoro, Sudjiwo Tedjo, Emir Mahira.
Music by: Tya Subiakto
Cinematography by: Faozan Rizal
Editor: Cesa David Luckmansyah


Intermeezzo
Entah tiba-tiba saya jadi kepikiran sama film-film tentang Hitler. Salah satunya Inglourious Basterd garapan Quentin Tarantino. Film konyol itu (yah bagi saya begitu) masuk dalam jajaran nominasi dan pemenang di Golden Globe, padahal disitu, masa Hitler meninggalnya di gedung bioskop, astaga kasian yang gak tau sejarah kayak saya gini, ketipu mentah-mentah (siapa suruh gak tau sejarah ya -_-).