Saturday, November 9, 2013

Why Loki?

Loki… Loki… yah, ini Loki versi Tom Hiddleston ya.

Jadi, akhir-akhir ini Loki sedang booming sekali dikalangan cewek-cewek. Kenapa? Saya juga bingung. 
Ada yang bilang karena karakter badboy nya, ada yang bilang karena karakternya sulit ditebak dan sebagainya. 
Tapi kemudian, ada semacam gagasan di pikiran saya, dua spekulasi. Hahaha…
1. Loki ini awalnya adalah tokoh antagonis di film Thor (Thor 1, The Avenger, dan Thor 2). Namun kemudian ada mata jeli yang melihat kemenarikan tokoh Loki ini, yah, cewek-cewek ini (termasuk saya ahiw…). Dan jangan-jangan, booming nya Loki ini diluar dari ekspetasi para pembuat filmnya. Jadi semacam, laris yang tak diinginkan. Iyalah, masa lebih laku tokohvillain daripada superhero nya. 
2. Kemungkinan kedua adalah memang tokoh Loki dibuat untuk digemari. Itu mungkin dalam kamus Hollywood. Industri film besar yang sudah dipastikan tau mengenai resep-resep box office. Ingat tokoh Joker? yap, hampir sama seperti Loki, Joker ini juga villain yang banyak pecintanya. Cuma bedanya, kalau Loki agak manis, Joker lebih sarkastik. Meski keduanya mempunyai senyum yang khas, haha… 
Loki dalam Film
Sebenarnya tokoh Loki ini sudah pernah diangkat dalam film. Salah satunya yang saya ingat, di film The Mask (1994) yang dibintangi JIm Carrey. Di film itu memang Loki tidak muncul secara intensif, tapi tetap menjadi awal mula kekacauan dengan jatuhnya Mask of Loki ke dunia manusia. 
Dan karakter Loki ini bisa jadi modal awal kalau-kalau Hollywood mau bikin prekuel dari Thor misalnya. Bisa aja, Loki di-film-kan secara personal. Begitu kan biasanya bisnis film yang satu ini hehe…

Friday, November 8, 2013

Sokola Rimba (book)

Hmm... mulai darimana ya? Saya juga bingung harus mulai darimana karena terlalu banyak yang bisa diceritain. Tapi mungkin kalau diceritain semua akan nyampur sama sisi emosional saya ketika baca buku ini, hehe... maklum deh, suka kelewat melankolis.

Oke...

Buku ini pertama kali diterbitkan tahun 1997 oleh Insistpress, Yogyakarta. Kemudian kembali dicetak oleh Penerbit Buku Kompas pada Mei 2013. Buku ini juga udah ada versi Inggrisnya, dengan judul Jungle School. Hmm... sebenarnya saya sudah lama tau mengenai Sokola Rimba ini semenjak kuliah. Yah, berhubung jurusan kuliah saya sama dengan tema kegiatan ini.

Memang kegiatan. Sokola Rimba ini bisa dibilang merupakan upaya pendidikan untuk Masyarakat Rimba di Bukit Dua Belas, Jambi. Saya juga awalnya tau cuma sekelebat doang, dan enggak tertarik. Sampai beberapa minggu lalu ada seminar yang diselenggarakan Palawa Unpad, temanya Perempuan dan Petualangan. Salah satu pembicara nya, ya, Butet Manurung ini. Entahlah, di seminar kali ini Butet bercerita lebih gamblang, ketimbang waktu saya ketemu beliau di Pembukaan Inisiasi (semacam ospek jurusan gitu) dua tahun yang lalu. Lalu saya memutuskan untuk beli bukunya di seminar kali itu.
Hehe... Ke makan omongan yak gue :p.

Buku ini bercerita tentang perjalanan Butet Manurung di komunitas Orang Rimba. Kala itu beliau merupakan staf pengajar dari sebuah LSM konservasi di daerah Jambi. Butet menjelaskan awalnya fokus utama upaya literasi (baca-tulis-hitung) kepada Orang Rimba adalah bagian dari upaya konservasi hutan Bukit Dua Belas. Saya suka cara ceritanya, tidak berusaha untuk terlihat intelek, dan itu segar sekali. Diceritakan awalnya beliau sampai di hutan, kehidupan dihutan, sampai pada pemikiran-pemikirannya tentang hakikat pendidikan untuk Orang Rimba yang sebenarnya.

Butet Manurung mengutip kata-kata Parsudi Suparlan tentang pendidikan untuk masyarakat adat,
"Mengubah dan mengarahkan kehidupan suatu masyarakat tidak mungkin berhasil jika mereka tidak mersakan keuntungan dari perubahan tersebut" -- Parsudi Suparlan
Jadi, bagi Butet cara-cara belajar yang sesuai untuk anak-anak Rimba adalah yang dapat berefek langsung pada kehidupan sehari-hari mereka. Misalnya, awal nya anak-anak itu diajar cara baca-tulis-hitung. Namun kemudian ketika dirasa perlu mereka mengetahui tentang geografi, seperti untuk mengetahui luas tanah mereka, maka diajarkanlah itu. Dan kebutuhan pelajaran di tiap rombong (kelompok Orang Rimba) itu berbeda-beda, ada yang lebih intens cara menghitung, baca, dan sebagainya. Tergantung kebutuhan tiap rombong tersebut. Ini menarik, ketika belajar bukanlah mejadi suatu keharusan melainkan menjadi suatu kebutuhan hihi... Ya kita mungkin terbiasa dengan konsep harus belajar bukan butuh belajar. Dari SD sampai tua begini saya juga familiar dengan konsep pendidikan yang legek begitu.

Selain cerita tentang urusan belajar, di buku ini juga menceritakan tentang kehidupan Orang Rimba. Bagaimana pola hidup mereka, adaptasi mereka dengan orang terang (sebutan Orang Rimba untuk orang kota), interaksi mereka dengan para transmigran, dan situasi disekitar Bukit Dua Belas yang bisa dibilang cukup politis ya. Jadi, di sekitar Bukit Dua Belas ini banyak terjadi illegal loging yang gerakannya halus sekali. Juga tentang status Bukit Dua Belas sebagai Cagar Biosfer dan tetek bengeknya. Biasa deh, urusan kebimbangan pemerintah. Ada yang menarik tentang pernyataan Butet mengenai posisi perempuan pada Orang Rimba. Penuh aturan dan pamali, namun alih-alih protes atau respon kebanyakan perempuan kini tentang aturan adat, Butet melihat hal ini jauh lebih dari sekedar aturan dan pamali. Baginya, hal semacam ini adalah upaya Orang Rimba untuk menjaga perempuannya. Ya, di salah satu bagian dari buku ini menceritakan tentang tabu untuk menyebutkan nama anak gadis mereka kepada orang asing.

Butet juga mengenalkan murid-muridnya di buku ini. Lucu-lucu deh hehe... Diperkenalkan secara jenaka, lucu, dan hangat tentang karakter masing-masing "aktor" ini. Nah, ternyata belajar baca-tulis-hitung tidak bisa dibatasi sampai situ saja. Dalam buku ini diceritakan tentang kemajuan anak-anak Rimba setelah mengenal huruf dan angka, mereka kemudian mulai bertanya tentang hal-hal yang mungkin saja bisa menohok kita. Misalnya pertanyaan mereka tentang para penebang kayu yang menjadi pemandangan sehari-hari mereka.

"Menjaga hutan memang sulit sekali, orang pemerintah saja tak bisa. Apalagi saya yang baru bisa baca, tulis, hitung..." -- Peniti Benang
Buku ini juga penuh pandangan-pandangan Butet tentang "tesis-antitesis" posisi
Orang Rimba kini. Mereka seperti dikelilingi perubahan yang sering dibilang modern. Diantara berubahnya kondisi sosial, bahkan ekologis, mereka sudah pasti beradaptasi. Misalnya dengan sudah memakai baju atau mempunyai motor (begitu Butet menggambarkannya di buku ini). Namun, apakah salah jika Orang Rimba memiliki motor atau memakai baju? mereka juga bukan "orang susah" seperti yang banyak digambarkan media-media kini. Mereka memang hidup dengan caranya sendiri.

Akhirnya, saripati dari buku ini yang saya terima adalah tentang bagaimana pendidikan bukan saja untuk menjadi pintar tapi untuk berdaya. Pendidikan menjadi alat bagi Orang Rimba yang terperangkap perubahan modern untuk tetap bisa eksis sebagai dirinya sendiri. Selain itu, bagian lain yang lebih menginspirasi saya adalah tentang seorang guru. Sederhana ya...

Disini, di buku ini, jelas, murid-murid yang menjadi hebat ini lahir dari guru yang tangguh. Guru yang tidak memaksa anak-anaknya untuk menjadi apa, tapi ia membuka jalan untuk anak-anaknya. Maka dengan begitu, guru sebenarnya bukan hanya menjadi pengajar atau pendidik, bahkan mereka lebih mulia dari itu.

Udah, hal itu yang bikin saya berkata, WOOOW....

Dimana Hutan Bukit Dua Belas?

Taman Nasional Bukit Duabelas adalah taman nasional yang terletak di Sumatra, Indonesia. Taman ini merupakan taman nasional yang relatif kecil, meliputi wilayah seluas 605 km².
Taman Nasional Bukit Duabelas merupakan perwakilan bagi hutan hujan tropis di provinsi Jambi. Bagian utara taman nasional ini terdiri dari hutan hujan primer, sementara sisanya merupakan hutan sekunder, sebagai akibat dari penebangan hutan.
Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) adalah taman nasional yang terletak di Provinsi Jambi, Indonesia.(wikipedia)

Di-film-kan...

Tadaa... Miles Films itu peka sekali ya sama cerita-cerita semacam ini. Setelah Atambua 39°, kembali mengangkat kisah tentang anak negeri. Rilis pada 21 November 2013. Hmm... menarik ya


Lihat wawancaranya disini


Detail Buku
Judul: Sokola Rimba
Penulis: Butet Manurung
Editor: Tim Sokola
Desain Sampul: Cindy Alif
Foto Samput: Aulia Erlangga
Halaman: xxviii + 348 hal
Tebal Buku: 14 cm x 21 cm
Terbit: Mei 2013
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
ISBN: 978-979-709-711-0

Sunday, November 3, 2013

Thor: The Dark World (2013)

Hayoo... ada yang nunggu film ini enggak, hehe.. Well, ini udah masuk musim apa sih? Fall? yah kalau salah mohon maaf ya, maklum amatiran haha.. Fall, autumn, biasanya banyak diisi oleh film-film horror tapi kalau memang benar ini masuk Fall, berarti Thor ini unik ya, semacam menjadi pilihan lain.

Ini sekuel dari film Thor (2011) pertama, emm, yah saya gak nonton jadi gak bisa cerita banyak. Tapi masih diperankan oleh aktor-aktor lamanya. Kali ini Thor (Hemsworth) harus menyelamatkan 9 dunia dari serangan Malekith (Eccleston) yang ingin mengambil cahaya dari dunia dan mengembalikannya pada kegelapan. Well, cerita akan sangat klasik jika tidak diberi bumbu lain. Disisi lain, dalam internal keluarga kerajaan Asgard sedang terjadi pergolakan, yah bisa dibilang gitu deh. Odin (Hopkins), menginginkan Thor menggantika posisinya sebagai raja, namun sebaliknya Thor tidak menginginkannya.

Oke, Hollywood memang tahu celah membangun cerita sehingga dapat diterima di berbagai selera penonton. Dan bagi saya, justru cerita menjadi menarik ketika tokoh Loki (Hiddleston) muncul, ahay!. Loki yang penuh ilusi begitu marah ketika tahu bahwa ibunya tewas. Loki menjadi karakter yang sulit ditebak, sehingga memunculkan twist-twist di beberapa plot. Meski pada akhirnya Loki tetap dibiarkan pada posisinya yang abu-abu (atau antagonis?).

Loki: What makes you think you can trust me?
Thor: I don't

Penggambaran Asgard, yah, bisa diterima dengan segala bentuk bangunan yang semi-futuristic itu, juga kapal-kapal perang Malekith yang justru mengingatkan saya pada Star Trek. Lah, dua-duanya sama-sama di luar angkasa, cuma bedanya Star Trek itu ceritanya di masa depan, dan Thor berasal dari mitologi Nordik.

Ehem, lucunya film ini kedatangan cameo dari salah satu The Avanger (sorry, spoiler). Dan banyak hal-hal jenaka lainnya khas kisah-kisah pahlawan Marvel. Yap, Marvel tetap menjaga tipikal film-film pahlawannya yang 'ceria'.

Overall, lumayan buat tontonan segar diakhir minggu. Dan kalo gak salah ada 3D nya, boleh dicoba. Ngomong-ngomong untuk film superhero macam gini diberi rating 88 % dari Rottentomatoes cukup diluar ekspetasi ya. So, dijamin kan hahaha... Selamat menonton.

Nb. Tunggu sebentar setelah film selesai, ada potongan scene yang bisa diliat ;)

Thor dan Mitologi

Thor merupakan dewa petir dalam mitologi nordik. Mitologi nordik sendiri berkembang di wilayah Eropa Utara. Mitos-mitos ini ditulis dalam Edda berupa prosa dan puisi. Thor merupakan anak Odin dan ibunya adalah raksasa wanita bernama Jord. Senjata andalan dari dewa ini adalah Mjolnir, semacam godam yang dipercaya sebagai lambang perlindungan pada masyarakat Viking.

***
Detail
Running Time: 120 min
Rate (MPAA): PG-13
Language: English
Gendre: Action, Fantasy

Producer: Kevin Feige
Production: Walt Disney Pictures, Marvel Studios
Director: Alan Taylor
Screenplay: Christoper Yost, Christoper Markus, Stephen McFeely
Based on: Thor by Stan Lee, Larry Lieber, Jack Kirby
Music by: Brian Tyler
Editor: Dan Lebental, Wyatt Smith
Cinematography: Kramer Morgenthau
Cast: Chris Hemsworth, Anthony Hopkins, Tom Hiddleston, Natalie Portman, Christoper Eccleston, Idris Elba, Rene Russo.



HALOHA!

AHA! LOHA! udah berapa lama ya saya gak ngisi blog ini. Gila emang social media makin banyak aja, bikin kerjaan baru aja hahaha... Selain itu juga tugas-tugas kuliah makin tega. Oke, rencana awal nya malam ini saya mau mulai nyusun topik penelitian buat skripsi alias UTP, tapi biasa deh, gak fokus. Penyakit lama. Mamah sih udah sering nanya-nanya soal skripsi saya, tapi jawaban saya ya, mengecewakan gitulah...

Baiklah, topik tulisan malam ini kita bikin di kertas yang berbeda aja yah, anggap aja ini sebagai prolog salam jumpa setelah beberapa lama gak bertemu ya hahaha... :)

Sunday, September 8, 2013

Galunggung Time

Sebenernya udah lama mau posting ini, tapi begitu masuk kuliah terlalu stres karena langsung di todong soal UTP.
Oke, ini sekelumit cerita dari banyak cerita pas saya kkn (kuliah kerja nyata) di Tasikmalaya beberapa bulan yang lalu. Nah, ceritanya mumpung lagi di Tasik agaknya kurang kalau tidak mengunjungi gunung terkenal di Tasik, Galunggung.

Singkat cerita jalan lah kita kesana. Jujur aja, saya jalan-jalan ke Galunggung tanpa modal. Segala tetek bengek 'peralatan jalan' yang biasanya saya bawa kalau kuliah lapangan diliburkan semua di kosan. Cuma modal, ransel hasil minjem Uwi (teman sejurusan), sepatu crocs cantik, dan jaket kkn. Yah, mana tau kalau mau naik ke Galunggung hahaha....

Duh gak jelas ya gambarnya. Liat bagian tanah yang hitam nya? Nah, menuju kawah Galunggung kita turun lewat situ. Dan ngomong-ngomong itu bukan tanah tapi pasir. Licin lagi. Bayangin sepatu crocs imut-imut saya, rusak langsung selesai itu.

 Nah, kalo yang ini kawah Galunggung diliat dari puncaknya.

 Ini Uwi yang berjasa minjemin ranselnya buat saya hahaha...

 Bersihin sepatu di air kawah. Eh, air kawahnya dingin. Tapi soal belerangnya, hmm, saya kurang tahu. 

 Nah jadi tempat saya cuci kaki tadi itu semacam aliran air yang bermuara di kawah. Soal darimana airnya, jangan tanya yah, saya juga gak ngerti. 

 Oke, sebenernya yang mau saya gambarin itu kondisi cuaca di gunung Galunggung. Berkabut sepanjang hari. Hujan beberapa menit sekali. Kondisinya, jaket dan rambut selalu basah. Pokoknya dingin dan lembab.

 Yeay! Ini kita!!

Ini kawah Galunggung kalau dilihat dari dekat. Awalnya warna hijau ini saya pikir karena banyak lumut, ternyata enggak juga. Mungkin karena ada alga hijau *sok tau*

amazing... Air minum saya sampe dingin dan berembun

Ini pas nyampe di puncak Galunggung. Keren banget. Kayak perjalanan menuju kawah Mordor di film Lord of The Rings hohoho...

Taraaaa... ini dia setelah sampai di kawah Galunggung. Selamat menikmati :)


Saturday, June 8, 2013

Emm... Saya lagi gak mau membohongi perasaan.

Dan sedang berpikir, pikiran jelek, dan semoga Tuhan tidak mengabulkannya. Masa-masa ini, saya lebih baik di blacklist ketimbang harus jadi babu tugas. Masih banyak otak-otak yang lebih cerdas dari saya, otak yang lebih brilian dari saya yang sembrono ini untuk berpikir tugas itu baiknya diapakan. Karena dengan IQ yang tidak tinggi ini otak saya jadi cepat panas kalau terus harus diberi tanggungjawab atas beberapa kepala orang-orang brilian tadi.

Jadi yah, jangan andalkan saya pada masa-masa ini. OKE! :)

Thursday, June 6, 2013

Pada akhirnya saya cuma butuh di hargai. Entah bagaimana bentuknya. Setiap orang memang dilahirkan dengan disisipi ego diri. Tapi saya sering menyimpulkan, ego itu bagaimana manusia itu mengolahnya.

Saya sadar itu. Saya tidak mau menyalahkan orang lain. Saya cuma ingin menjadi baik kepada semua orang, karena toh, dalam hidup ini manusia tidak bisa hidup sendirian bukan?

Mungkin saya stres. Kata mamah, kebanyakan ngelamun malah bikin stres. Mungkin saya begitu.

Saya tidak tau apa yang salah. Dan sampai saat ini saya belum menemukan titik temu dari kerumitan ini. Saya berusaha untuk menghargai orang, cuma itu.
Manusia pasti punya kekurangan, cuma orang yang sampai pada titik kebijaksanaan memahami, bahwa melihat kekurangan seseorang manusia tidak berarti itu adalah keseluruhan dirinya. Namun tetap, pada akhirnya manusia itu tidak sempurna, manusia mudah menjuri, termasuk saya, maaf... Ini paradoks dari yang sering dikatakan alim ulama tentang kesempurnaan manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

Sebenarnya ini curhat, terselubung...

Ini klimaks emosi pada semester ini. Membangun semangat itu sulit, meruntuhkannya sangat mudah. Kini, saya sedang menata semangat itu lagi, setelah habis di buldoser pada semester ini.

Saya tidak ingin membenci, tapi saya juga tak bisa memungkiri bahwa saya kesal dan lelah...

Makanya, kali ini saya memaksakan diri pulang kerumah, meski setumpuk pekerjaan dengan manja minta dibawa. Yah, rehat sejenak...

hem...

ketika rasa dihargai menjadi kebutuhan setiap manusia
-sawangan, depok-