Orang yang gampang tidur, kayak saya dan sepupu saya yangmasih tidur disebelah ini, mungkin kalo bermimpi bertingkat-tingkat ya.
Kadang disatu sesi tidur kemuadian saya terbangun. Sadar gak ada yang harus dilakukan, kemudian saya menyelinap lagi dibalik selimut. Dan mencoba tidur kembali. Mencari mimpi kembali.
Atau ketika saya terbangun dengan mimpi yang masih setengah beres, saya akan mencari celah untuk tidur lagi. Berusaha menyambung mimpi itu dan membereskannya.
Mungkin saya ini penikmat mimpi. Serasa menjadi aktris di film Tim Burton. Ya, entahlah, kenapa mimpi saya sering kayak film-film thriller. Dikejar ular, mencari harta karun, atau terjebak di rumah hantu. Dan diposisi seperti itu saya kan seperti Lara Croft yang dengan gemas nonjokin lawannya. Atau seperti Holmes, menyambung bukti sepanjang perjalanan mimpi. Tapi saya bisa jadi arsitek di mimpi saya sendiri. Ini mimpi saya dan saya harus selamat. Yah, semacam motto lah hahaha...
Jadi kadang-kadang di saat terdesak saya membalikkan situasi, yah namanya juga mimpi. Kan asalnya dari pikiran kita sendiri juga.
Meskipun saya masih belum menegerti dengan ilmu mimpi. Bagaimana mimpi itu sebenarnya...
Monday, January 2, 2012
Saturday, December 3, 2011
Seikat Mawar
Sunday, November 27, 2011
Runtuh
Runtuh begitu saja. Hilang dan tenggela. Tersisa aku disana. Menatap ombak yang bergulung-gulung. Meninju udara panas pantai diatasnya. Mengeluarkan buih-buih para peri laut.
Reruntuhan itu menguap. Meninggalkan aku yang masih saja terisak pada harapan keji itu. Benci sekali rasanya. Aku menggaruk tanah. Membuangnya seakan ada seseorang yang terkena lemparan pasir itu. Benci sekali.
Namun aku enggan untuk kembali berjalan. Terlalu lelah, kau tau. Terlalu bosan. Ingin ku diam sementara disini. Tak bergerak kemanapun. Ditemani lagu-lagu kegelapan yang merdu ini.
Sungguh. Aku kehilangan asa. aa yang terbang terbawa langkah waktu. Sial. Sungguh. Kembali pada realita pun aku malas. Karena realita terlalu kejam menghardik keadaanku. Dan pasti. Kembali. Melahirkan bayi-bayi harapan yang kembali nanti akan aku enyahkan lagi. Sial. Sedang sial nampaknya aku ini.
Padahal lagu ini begitu ikhlas. Dan aku mencoba bijak dan ikhlas. Kemudian terlelap. Kecapaian sendiri.
Reruntuhan itu menguap. Meninggalkan aku yang masih saja terisak pada harapan keji itu. Benci sekali rasanya. Aku menggaruk tanah. Membuangnya seakan ada seseorang yang terkena lemparan pasir itu. Benci sekali.
Namun aku enggan untuk kembali berjalan. Terlalu lelah, kau tau. Terlalu bosan. Ingin ku diam sementara disini. Tak bergerak kemanapun. Ditemani lagu-lagu kegelapan yang merdu ini.
Sungguh. Aku kehilangan asa. aa yang terbang terbawa langkah waktu. Sial. Sungguh. Kembali pada realita pun aku malas. Karena realita terlalu kejam menghardik keadaanku. Dan pasti. Kembali. Melahirkan bayi-bayi harapan yang kembali nanti akan aku enyahkan lagi. Sial. Sedang sial nampaknya aku ini.
Padahal lagu ini begitu ikhlas. Dan aku mencoba bijak dan ikhlas. Kemudian terlelap. Kecapaian sendiri.
Berkah
Udah sering aku menulis tentang berkah Tuhan. Dan kini lagi.
Anggap saja mereka adalah berkah-berkah kecil yang terselip diantara keruwetan hari-hari ku. Kecil dan manis. Tuhan memang kelewat romantis.
Anggap saja mereka adalah berkah-berkah kecil yang terselip diantara keruwetan hari-hari ku. Kecil dan manis. Tuhan memang kelewat romantis.
Wednesday, November 23, 2011
Good Place
Aku suka tempat ini. Banyak yang berlalulalang namun dalam tenang. Tetes air wudhu jatuh ke lantai cokelat. Membuat dingin lantai. Menjalar dari ujung tulang ekor sampai ke kepala. Meregangkan syaraf-syaraf otak yang panas dan kusut.
Aku lupa pertama kali bertemu dengan tempat ini. Lokasinya begitu memojok dari peradaban. Tapi aku masih bisa melihat peradaban dari sini. Menjadi diluar dari peradaban itu sendiri. Menjadi seperti hantu yang tersingkir dari kehidupan. Gak apa-apa. Sekali-kali aku menikmati terlempar dari pusat-pusat panas itu.
Ah, iya waktu itu. Pertama kali aku bertemu tempat ini. Dan selalu ketika aku buntu dam suatu hal. Kemudian aku pergi kesini, ke tempat yang dingin ini.
Mungkin karena banyak doa di tempat ini sehingga begitu dingin. Dan seperti aku sekarang ini yang terus memanjatkan doa. Sampai doa yang aku tidak bisa lafalkan sekalipun. Doa yang hanya hati dan Tuhan yang tau. Tuhan tau aku hampir menangis, dengan tekanan yang secuil ini. Tapi aku tetap terlalu ringkih untuk menjalaninya. Bahwa aku bukan apa-apa.
Aku cuma anak kecil yang mencoba besar. Tapi tak punya daya kuasa untuk menjamah keadaan. Semoga Tuhan mengerti dari kekacauan lafal doa ku. Karena aku sampai tak bisa melafalkannya lagi. Semoga Kau mengerti ya Tuhan...
Ridhoilah usahaku Ya Allah....
Aku lupa pertama kali bertemu dengan tempat ini. Lokasinya begitu memojok dari peradaban. Tapi aku masih bisa melihat peradaban dari sini. Menjadi diluar dari peradaban itu sendiri. Menjadi seperti hantu yang tersingkir dari kehidupan. Gak apa-apa. Sekali-kali aku menikmati terlempar dari pusat-pusat panas itu.
Ah, iya waktu itu. Pertama kali aku bertemu tempat ini. Dan selalu ketika aku buntu dam suatu hal. Kemudian aku pergi kesini, ke tempat yang dingin ini.
Mungkin karena banyak doa di tempat ini sehingga begitu dingin. Dan seperti aku sekarang ini yang terus memanjatkan doa. Sampai doa yang aku tidak bisa lafalkan sekalipun. Doa yang hanya hati dan Tuhan yang tau. Tuhan tau aku hampir menangis, dengan tekanan yang secuil ini. Tapi aku tetap terlalu ringkih untuk menjalaninya. Bahwa aku bukan apa-apa.
Aku cuma anak kecil yang mencoba besar. Tapi tak punya daya kuasa untuk menjamah keadaan. Semoga Tuhan mengerti dari kekacauan lafal doa ku. Karena aku sampai tak bisa melafalkannya lagi. Semoga Kau mengerti ya Tuhan...
Ridhoilah usahaku Ya Allah....
Saturday, October 15, 2011
Born This Way
It doesn't matter if you love him, or capital H-I-M
Just put your paws up
'Cause you were Born This Way, baby
My mama told me when I was young
We are all born superstars
She rolled my hair and put my lipstick on
In the glass of her boudoir
"There's nothin' wrong with lovin' who you are"
She said, "'Cause he made you perfect, babe"
"So hold your head up, girl and you you'll go far,
listen to me when I say"
I'm beautiful in my way,
'Cause God makes no mistakes
I'm on the right track, baby
I was Born This Way
Don't hide yourself in regret,
Just love yourself and you're set
I'm on the right track, baby
I was Born This Way
Ooo, there ain't no other way
Baby, I was Born This Way
Baby, I was Born This Way
Ooo, there ain't other way
Baby, I was Born-
I'm on the right track, baby
I was Born This Way
Don't be a drag, just be a queen
Don't be a drag, just be a queen
Don't be a drag, just be a queen
Don't be!
Give yourself prudence
And love your friends
Subway kid, rejoice your truth
In the religion of the insecure
I must be myself, respect my mouth
A different lover is not a sin
Believe capital H-I-M (Hey, Hey, Hey)
I love my life, I love this record and
Mi amore vole fe yah (Love needs faith)
I'm beautiful in my way,
'Cause God makes no mistakes
I'm on the right track, baby
I was Born This Way
Don't hide yourself in regret,
Just love yourself and you're set
Saturday, October 1, 2011
Hai
"hai.."
"hai.. iya kamu"
"kamu.. Siapa?"
"siapa kamu?"
Ditatapnya dalam, monitor komputer di warnet yang mengucilkan keberadaannya. Pengunjung silih berganti menempati box komputer disebelahnya. Ia masih menatap, agak berharap, sebuah pesan muncul dilayar yang monoton itu. Lampu tanda chat masih menyala dari orang diseberang sana. Seseorang yang Ia tunggu. Yang Ia ingin tau siapa dia. Namun Ia tetap diam. Menunggu, berharap, namun sambil menampar-nampar angannya agar segera sadar. Sampai lampu itu mati.
Ia mengakhiri penantian semunya. Bergegas ke kasir untuk membayar sewa internet yang Ia pakai. Lalu sesosok berdiri disebelahnya. Juga membayar sewa internet dikasir. Dia... Hai...
***
"hai.."
"hai.. iya kamu"
"kamu.. Siapa?"
"siapa kamu?"
Orang itu bejalan sendirian. Ia menatapnya. Andai Ia bisa, dipanggilnya nama orang itu. Andai Ia bisa. Namun kerongkongan terlalu kering untuk menggetarkan pita suara. Andai Ia berani, berdiri, menyapanya. Andai Ia berani. HAI...!!!!
"hai.. iya kamu"
"kamu.. Siapa?"
"siapa kamu?"
Ditatapnya dalam, monitor komputer di warnet yang mengucilkan keberadaannya. Pengunjung silih berganti menempati box komputer disebelahnya. Ia masih menatap, agak berharap, sebuah pesan muncul dilayar yang monoton itu. Lampu tanda chat masih menyala dari orang diseberang sana. Seseorang yang Ia tunggu. Yang Ia ingin tau siapa dia. Namun Ia tetap diam. Menunggu, berharap, namun sambil menampar-nampar angannya agar segera sadar. Sampai lampu itu mati.
Ia mengakhiri penantian semunya. Bergegas ke kasir untuk membayar sewa internet yang Ia pakai. Lalu sesosok berdiri disebelahnya. Juga membayar sewa internet dikasir. Dia... Hai...
***
"hai.."
"hai.. iya kamu"
"kamu.. Siapa?"
"siapa kamu?"
Orang itu bejalan sendirian. Ia menatapnya. Andai Ia bisa, dipanggilnya nama orang itu. Andai Ia bisa. Namun kerongkongan terlalu kering untuk menggetarkan pita suara. Andai Ia berani, berdiri, menyapanya. Andai Ia berani. HAI...!!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)
