Tuesday, December 15, 2009

Senin Pagi


Tamparan bertubi-tubi datang
Hingga perasaan memar-memar
Begitu ngilu
Untuk segala hal di Senin pagi itu
Yang begitu membuatku jatuh
Pecah semuanya
Terserak begitu saja
Aku tak lagi bisa membohongi diri lagi
Aku begitu panas di ruang yang dingin itu
Aku merasa kalah
Untuk segala halnya di Senin pagi itu
Hingga aku menjadi orang yang tidak peduli di pagi itu
Aku lepaskan semuanya
Lihatlah balon yang berwarna-warni itu
Biarkanlah mereka terbang menyambut angkasa
Lepaskanlah ikatannya dan biarkan bergelora
Bebaskan mereka sampai menghilang di pucuk-pucuk udara

***
Suatu tarikan nafas panjang mungkin bisa membakar sedikit api semangat
Dari suluh-suluh yang penuh harapan tentang esok hari


(Picture is limited edition art print from artist Robert David Bretz of a Little Girl, Her Balloon Heart and Her Puppy. Source web : www.tildaintheburbs.com)

Thursday, December 10, 2009

Aku dan Kasur Lipat

Cerita ah.. cerita yuu..

Kemaren pagi aku liat bus-nya anak-anak TK udah siap dari subuh. Sepertinya akan ada outing class bagi para anak TK tersebut. Beberapa ibu-ibu sudah bergerombol sambil membawa gembolan perbekalan untuk sang anak dan tentu saja dirinya. Entahlah, mungkin memang sudah menjadi suatu kebiasaan yang lumrah di Indonesia, para ibu-ibu ikut menemani anak-anak mereka yang masih TK tersebut outing class. Pasti yang membaca tulisan ini merasa janggalkan? Lah memang sudah sepatutnya para ibu menemani anak mereka.

Mmm maaf ya (ala dennisyah, anak rohis di sekolah ku yang ingin jadi sunan kesepuluh, ZONK!), begini, bukan maksud ingin membandingkan. Tapi aku jadi inget (dan sedikit kangen) masa-masa ku waktu TK di Jepang dulu. Cuma setahun sih, dan waktu itu aku masih kecil banget (umur sekitar 4-5 tahunan). Dulu waktu aku TK di sana ada outing class juga. Rutin malah. Dan yang di sebut outing class, benar-benar dalam konotasi yang sesungguhnya (jadi denotasi gitu loh). Outing class, belajar diluar ruangan. Benar-benar diluar ruangan. Di taman, di kebun ubi, di gunung. Tak terbatas musim.

Kita mulai dari musim salju. Duingiiin buanget.. pada musim ini mamah memberiku pakaian extra yang berlapis agar anaknya yang punya genetika bengek alias asma ini tidak terlalu kedinginan. Lapis pertama daleman, lapis kedua kaos dan celana panjang (kadang pake sejenis kaos kaki tapi panjang kayak stoking), lapis ketiga sweater dan kaos kaki, lapis keempat jas salju yang hanya dipakai luar ruangan. Tambahannya sepatu boat, sarung tangan, syal, kadang topi yang menutupi telinga. Oke. Jangan harap setiap musim salju tidak ada aktifitas diluar ruangan. Kita anak-anak TK dengan cairan hidung yang bercucuran akibat udara dingin dilepas di suatu lapangan yang lumayan luas untuk ukuran anak-anak. Di lapangan itu seperti memang sudah di sediakan untuk musim dingin ini. Kalau suka nonton doraemon mudah-mudahan bisa mempermudah gambaran ini, di lapangan ini ada beberapa pipa-pipa (seperti gorong-gorong bekas) yang ditumpuk begitu saja. Nah jika salju turun pipa-pipa ini akan membentuk sebuah bukit kecil yang kemudian kita bisa berseluncur diatasnya. Semua anak harus ikut bermain. Semua anak harus berani mencoba berseluncur dari atas pipa itu dengan papan seluncur mini yang disediakan. Woow, asiknyo. Udara dingin seakan menampar muka dan gigi. Kadang saat-saat lelah aku suka mengambil segepok salju lalu aku makan. Segarnyoo. Tapi kalau ketahuan sensei, "dame nee.." sambil menyilangkan kedua tangannya.

Semi. Daun-daun sakura bermekaran. Kemudian beterbangan tertiup angin, menghujani orang-orang yang terlepas dari belenggu salju. Ini dia paling asoy. Musim semi musimnya jalan-jalan. Ke gunung, ke kebun, kemana-mana... Dan sumpah, kami sama sekali tidak ditemani orang tua saat berusaha mendaki bukit kecil itu. Anak-anak kecil yang hanya di temani para senseinya mendaki bukit itu. Bawa ransel sendiri, bekal sendiri, sampai tikar sendiri. Meskipun gempor juga jalan menanjak terus, tapi ada suatu semangat untuk tetap terus mendaki sampai ke puncaknya. Kalau kita sudah terduduk di aspal itu senseinya datang hampiri kita. Memberikan sebuah wejangan yang entahlah membuat kita bangkit lagi... Para sensei, gaya mereka seperti bukan seorang pengajar sekolah yang memakai pakaian formal lengkap (setidaknya informal) tapi seragam mereka hanya kaos dan celana training biasa plus sepatu kets, santai banget. Dan sama seperti kita mereka juga membawa ransel, bekal, dan tikar lipat. Sesampainya dipuncak bukit. Wiih, udara segar... kami mulai membuka perbekalan. Tikar lipat (di Jepang ada tikar lipat kecil khusus anak-anak, lucu deh) yang kami bawa segera terbentang. Kami pun menikmati semi dipuncak bukit ini.

Gugur. Musim ini angin berhembus agak kencang. Jadi anak-anak TK itu hanya diperbolehkan bermain disekitar taman saja. Musim gugur itu musim yang dramatis. Dikanan kiri semua berwarna jingga kemerahan. Orang-orang mulai mempersiapkan diri akan datangnya salju. Nah di Jepang, musim ini penuh dengan berbagai festival (sebenarnya di setiap musim pasti ada festival. Benar, sesibuk-sibuknya orang Jepang entah mengapa di negaranya sering sekali mengadakan festival yang sebenarnya menguras waktu juga. Dan festival tersebut tidak hanya untuk golongan atau kelompok tertentu saja tapi memang disuguhkan untuk seluruh warga Jepang, khususnya Urasa, kota kecil tempat aku tinggal waktu itu).

Summer. Woow, saatnya liburan...

Tapi bener loh kalau kata orang, orang Jepang itu pekerja keras. Aku yang pendatang disana mau tak mau harus mengikuti kebiasaan mereka. Seperti saat menggelar tikar (saat naik bukit) adalah hal yang agak sulit buat ku. Menata tikar sehingga enak untuk diduduki, membereskan bekal-bekal sendiri. Atau saat waktu mengganti sprei tiba (di Jepang anak-anak sekolah sampai sore, termasuk anak TK. Khusus anak TK ada waktu dimana mereka harus tidur siang, jadi anak-anak itu punya futong--kasur lipat--masing-masing yang disimpan di sekolah). Aku cuma dibekali mamah sprei baru yang wangi dari rumah--dormitory. Sisanya aku harus susah payah menyarungkan futong itu sendiri. Awalnya berantakan, sangat berantakan, kadang aku sampai mau nangis apalagi melihat teman-teman yang telah menyarungkan futong masing-masing dengan rapi dan lurus.

Yaah, cuma sekilas cerita gara-gara ngeliat ibu-ibu yang repot bawa perbekalan tadi pagi..


HOHOHO

Friday, December 4, 2009

Desember Ini


Aha! Akhirnya ketemu juga. Rasa-rasa yang salah. Yang membuat semuanya menjadi salah. ZONK!

Desember itu selalu dingin didaerah para koloni subtropis. Tapi bagi ku Desember ini menjadi terlalu melankolis. Agak abu-abu.

Sepertinya perasaan galau lagi banyak hinggap di kanan kiri. Si A, si B, Si C... Semua beraura galau. Sampai-sampai aku pun terbawa suasana.


Dingin menyergap Desember ini
Ketika salju yang lembut itu turun
Seorang anak kecil berlari menyambut kapas-kapas langit itu
Menyentuhnya, menampungnya dalam tangan kecil
Dingin menyekap Desember ini
Menyibak galau yang mengusik hari-hari
Membawanya beku
Memasukannya dalam kotak harapan
Yang suatu saat tak pernah diingatnya lagi

Thursday, November 19, 2009

Tugas Bahasa Indonesia -- Berbalas Pantun


Note: Sagitta dan Devi
Dirumput ada belalang
Seekor tikus datang menyapa
Sore hari telah menjelang
Hai Devi sedang apa?
Hari Minggu beli baju baru
Sambil bertemu orang yang suka menyangkal
Saya disini sedang menunggu
Tukang bakso yang sering mangkal
Ibu dan Ani saling menyangkal
Saling berebut kue kismis
Tukang bakso yang sering mangkal
Apakah itu si Pak Kumis?
Diatas pohon hinggap kera
Keranya lari mengejar Saya
Memanglah betul yang Kau kira
Si Kumis langganan Saya
Hujan datang restoran bubar
Yang masak sambil berjalan
Wahai kawan dengarlah kabar
Si Pak Kumis tidak jualan

Beli buah di Pasar Cikini
Gak ada ojek akhirnya jalan
sedih rasanya hati ini
Dari tadi belum makan
Lihatlah berarak-arak awan
berlarilah para orang kaya
Kasihan sekali nasibmu kawan
Mari makan di rumah Saya
Ada sepatu dimana-mana
Yan jelek gak tau punya siapa
Rezeki datang entah darimana
Terimakasih kawan atas tawarannya

Gara-gara pantunnya dibuat hanya dalam sepersekian menit langsung dapet nilai bagus waktu praktek nya. HOHOHO....
Inspirated by 'Pak Cipro matematika'

Wednesday, November 18, 2009

GIGI--Sang Pemimpi

Soundtrack film Sang Pemimpi udah rilis duluan nih. Tapi ini cuma sekedar buat share doang yaa..

Note Biar lebih jelas denger lagunya, lagu backsound di blog ini di matiin aja dulu. Turun terus ke paling bawah, trus stop aja okee...



Sekalian aja gw borong 'behind the scene' nya







Sumber: Youtube

Wednesday, November 11, 2009

untitled (2)

hooo... Keadaan mulai berubah. Ujung-ujung nasib mulai menampakan perannya.
Beberapa orang keluar dari sekolah
Beberapa orang telah memilih karir
Beberapa orang ikut homeschooling
Beberapa orang menyiratkan tak melanjutkan sekolah setelah lulus
Beberapa orang pindah keluar negeri untuk waktu yang lama
Beberapa orang.....

Banyak yang harus diperjuangkan tahun ini.... Semoga semuanya barjalan dengan baik dan sebagaimana mestinya

Tuesday, November 10, 2009

Terisolir


Mendengar cerita atau berita tentang daerah-daerah terisolir di Indonesia pasti sangat bersahabat di telinga. Rata-rata orang berpikiran daerah terisolir itu adalah daerah terpencil yang sulit kendaraan dan berbagai fasilitas umum. Ya, sama. Saya pun berfikir dan mengira begitu sampai waktu itu saya ngobrol sama mamah.

Mamah kan sering keluar kota atau lebih tepatnya ke luar Pulau Jawa. Entah itu ke Pekan Baru, Balikpapan, Samarinda, sampai Bunaken, Kupang, Toraja, bahkan daerah perbatasan seperti Tarakan. Gara-gara itu pula saya menjadi tahu sedikit tentang kondisi di daera-daerah tersebut.

Lalu tiba-tiba saja ada sebuah pernyataan batin sederhana muncul begitu saja. Layaknya Ki Joko Bodo dapat wangsit. Ah, saya orang Jakarta, setidaknya lahir dan besar di Jakarta. Jakarta adalah ibukota negara. Berbagai fasilitas sangat lengkap disini. Teknologinya. Tapi saya belum pernah keluar area Pulau Jawa ini. Mungkin sekali sih pernah, tapi hanya sebatas Sumatera. Itupun duluuu dan terblok di suatu kota saja.

Kalimantan. Pasar terapungnya. Pernah dengar sih dan lihat di tivi.
Bunaken. Taman lautnya yang bening. Pernah liat sih di tivi.
Toraja. Adatnya yang unik dan mistis. Pernah denger sih dari mamah
Tarakan. Kota yang daya beli dan taraf hidupnya sangat baik di perbatasan dengan Malaysia. Pernah denger sih dari mamah.
Bangka Belitung. Pernah denger sih. Di novel.
Intinya saya merasa menjadi yang terisolir.

Sadar atau tidak kadang penduduk ibukota negara inilah yang terisolir dari negaranya sendiri. Seperti saya yang hampir tidak sadar bahwa Indonesia tidak hanya sebatas Parung, Ciputat, Lebak Bulus, Blok M, Sudirman, Bandung, Bali....
Jakarta sebagai mesin negara yang terus memutar roda-rodanya sering membuat tidak sadar para manusianya. Keterbatasan waktu, kepadatan jadwal, atau dunia kerja yang terus memaksa orang untuk tampil semaksimal mungkin.
Justru itulah yang membuat para penghuni Ibukota terisolir di dalam dunianya sendiri.