Wednesday, April 15, 2009

Langit Hari Ini

Langit jadi begitu indah di kesepian hari.
Entahlah
Mungkin hanya aku yang menjadi penikmatnya
Diantara harapan yang terlalu melanglang
Dengan berat hati aku harus kembali berharap
Harap adalah candu untuk ku
Padahal seringai kecewa terlalu sering membingkai
Lagi...Lagi...
Langit menjadi indah di kesepian hari
Lukisan sempurna yang tak tersentuh
Menjadi latar keringkihan dunia
Menyadarkan bahwa masih ada sepotong kasih sayang
Tangan-tangan hangat yang memeluk kesedihan
Dan
Mengangkat harapan bersama gelembung-gelembung awan

Tuesday, April 7, 2009

Minggu Tidur

Minggu ini menjadi terlalu ngantuk.
Minggu ini tak ada sosialiasasi yang terlalu basa basi.
Menjadi penghuni perpustakaan tak ada salahnya.
Berkutat lebih lama dengan kesusastraan atau koran-koran kompas yang belum aku baca.
Perpustakaan itu menjadi hawa segar di tengah hiruk pikuk kegiatan sekolah yang mendesak ke sagala arah.
Menjadikan Aku agak malas berkomunikasi terlalu lama. Kenapa? entahlah, tapi mulut ini terasa sulit dibuka dan otak ini terasa malas berpikir tentang objek hitam yang dibicarakan.
Terlalu buang waktu di saat lelah seperti ini.
Dan tidur adalah saat-saat nikmat di kala ini.
Atau di rumah sambil berselonjor kaki beralas ubin kotak-kotak yang dingin.
Menonton TV yang ramai-ramai ingin di perhatikan pemirsa nya.
Haah... Minggu ini terlalu ngantuk...

Sumber gambar: http://www.inspireco.com/sleep.jpg

Friday, April 3, 2009

Pesta Teh rasa Buah di Sore yang Panas

Sore itu habis hujan. Tapi hawa hujan menguap ke udara malah bikin panas suasana.
Kita, anak sekolah yang masih kelelahan ujian blok yang baru lewat kemarin di tahan sekolah karena ada acara yang diadakan perusahaan minuman ringan 'Fruit Tea'...


Meskipun acaranya jadi tidak terlalu meriah karena rata-rata anak-anak sekolahan itu sudah terlalu capek. Sama seperti aku yang sambil menunggu gerbang sekolah dibuka, duduk-duduk dilantai atas sambil mengambil beberapa foto.
Beberapa anak berusaha meminta izin agar bisa keluar dari lingkungan sekolah dan pulang ke rumah. Tapi semakin dicari, sang Ibu pemilik izin makin susah ditemui. Ia seperti menghindar dari para perajuk-perajuk muda yang memelas minta izin pulang duluan dengan berbagai alasan yang kadang tidak masuk akal. Termasuk beberapa murid di foto atas.
Satu-satunya yang membuat acara ini seru karena aku bisa foto sama Fauzi Baadilah... HUOHOHOHOHO... dengan kenekatan yang amat sangat Aku dan Atika melacak dimana dia berada. Berhasil mendapatkan informasi dari sumber terpecaya Aku dan Atika berhasil 'foto bareng' sama bintang tamu acara ini...

Thursday, April 2, 2009

Pemerhati Bintang dan Harmonikanya

Lintang.
Dia bukan si bocah cerdas Laskar Pelangi.
Dia hanya si pengagum bintang.
Bintang.
Benda yang berpendar sederhana di langit malam.
Suatu kesederhanaan yang membuat segalanya menjadi berarti.
Penunjuk arah abadi bangsa Maya Kuno. Penggerak nahkoda berputar haluan diambang batas laut.
Bersama harmonikanya Lintang bernyanyi bersama malam. Suara harmonika yang lantang. Berat. Anggun.
Seperti para pengembara yang mencari keindahan puteri raja yang terkurung dalam kastil.
Di tatapnya lekat-lekat langit gelap itu.
Ketika bulan bersinar begitu terang. Malah menambah indah si perupa langit.
Dirasakannya hawa dingin yang menurutnya sejuk itu.
Dihirupnya dalam-dalam. Dan di buangnya jauh-jauh beban yang mengikat.

Seorang tua tertarik pada alunan melodinya.
Dari balik jendela yang masih terbuka dipejamkan mata.
Seorang tua. Merasa bertemu yang Ia sayangi. Dulu, ketika Ia masih gadis. Masih sibuk mengurusi tentara perang yang terluka.
Tiba-tiba hatinya terharu. Ingin menangis. Tapi tak ada air mata yang keluar.
Di masa kini. Ia menjadi merasa bodoh. Tapi tidak ketika melodi harmonica Lintang bertautan.
Syukur. Itu yang kini Ia rasakan.

Menyadari ada yang menikmati. Lintang menoleh.
“Eeeh, Nek! Belum tidur? Awas rematik…” teriak Lintang
“Lah, kamu sendiri?” jawab nenek
“yeeee… yaudah tidur..tidur..” Paksa Lintang
“Kamu juga masuk sini!! Awas rematik!!” teriak nenek dengan suara yang hampir parau
“Hah??” bingungnya Lintang.

Suara harmonica masih terdengar.
Tapi jauh disana.
Karena para bintang adalah penyimpan sejarah. Termasuk hari ini.
Dialunkannya musik.
Bukan dari harmonica milik Lintang.
Tapi milik alam…

Sumber Gambar: tukangkopi.wordpress.com

Sawangan, 2 April 2009
9:29:03 PM

Wednesday, March 25, 2009

Libur Lebih Awal

ekhmm...
Dengan nekatnya dari selasa kemaren aku gak masuk. Padahal aku tau minggu depan ada ulangan blok-2 udah nyegat. Tapi berhubung masuknya siang jadi aku makin males masuk sekolah, walaupun itu sebenernya gak boleh di jadiin alasan.

Kalau mau berfilosofi sedikit, aku sering berfikir masuk jam setengah duabelas dan pulang jam setengah empat menjadi gak efisien untuk belajar di sekolah yang sekarang ini telah terbiasa dengan 9 jam belajar. Kalau ada yang mau bilang ini 'pembenaran', monggooo...

ekhmm...
mulai liburan dengan jalan-jalan naik transjakarta (bukan bus way--jalan bus--yaa) ada oke nya juga. Selain bisa sambil olahraga dengan aktivitas pindah shelter sampai beberapa kali, aku bisa menikmati indahnya sore di Jakarta. rrr... Ada gak tuh orang Jakarta yang bisa menikmati kotanya 'cari uang'. Mungkin ada.. Ya kalau bukan orang-orang pendatang atau pengangguran kayak aku hari ini.

hmm...

Maap ya Pak, Bu.. Jum'at aku masuk kok.. : ) : ) : )

Sunday, March 22, 2009

Penikmat Gelap

Gia bingung apa yang mau Ia tulis. Darimana Ia harus mulai dan bagaimana endingnya nanti. Ending? Itu bukan bahasa Indonesia. Agak menyesal Ia memakai kata tersebut. Tapi tak ada kata yang lebih anggun dari kata itu.

Dunia itu terdiri dari siang dan malam. Dan malam adalah waktu untuk beristirahat. Tapi dunia juga seperti roda. Berputar. Sampai kadang membuat pusing makhluk didalamnya. Hari mempunyai tujuh plot untuk manusia membaginya menjadi bagian-bagian kecil kehidupan. Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, Sabtu, dan Minggu. Bagi mereka yang percaya, setiap hari mempunyai makna sendiri sehingga mempengaruhi karakter bayi yang dilahirkan pada hari tertentu. Senin adalah bunga dan Minggu adalah awan, itu segelintir yang Gia tahu.

Gia cinta dengan hari Jum’at. ‘Thank’s God tomorrow is Friday’, kalimat Ibu Guru yang sangat disetuji Gia, meskipun kembali Gia menyesal mengapa bukan bahasa Indonesia. Sekali lagi, Gia cinta hari Jum’at. Karena Gia tak perlu menyalakan lampu kecil remang-remangnya karena Ia tak harus melihat jam wekernya subuh-subuh. Mata Gia sudah terlalu lelah untuk seminggu penuh. Dalam gelap Gia bisa men-istirahatkan matanya. Dalam gelap angan Gia bisa melambung jauh sekali. Dalam gelap Gia bisa bertemu teman-temannya. Dalam gelap kehidupan lain bisa terbentuk hampir sempurna.

Sesekali kilat cahaya lewat menembus kaca. Yang Gia tahu itu adalah pantulan lampu mobil yang lewat didepan rumahnya, Tapi mungkin itu adalah cahaya lain. Dalam kamarnya yang kini gelap, Gia biasa menikmati suasana malam lebih lekat. Bunyi daun ‘krasak krusuk’ tertiup angin, suara ‘ting…ting…ting’ yang Gia kira adalah satpam memukul mukul tiang listrik, kadang kalau musim hujan tiba bunyi ‘ngok..ngok..’ tanda si kecebong telah tumbuh dewasa pun bersahut sahutan.

Direbahkannya tubuh diatas kasur dan kepalanya diatas bantal bulu angsa yang mahal itu. Ditariknya selimut untuk menutupi tubuhnya dan Gia mulai mengkerut dibalik selimutnya.

“Pergi!!” teriak Gia pada teman alam bawah sadarnya.
Temannya hanya menatapnya tajam kemudian berubah menjadi terlalu lirih dan Ia menghilang meninggalkan Gia. Gia sebel dengannya. Temannya itu hanya perhatian padanya disini saja. Namun begitu kini Gia sendiri di alam bawah sadarnya. Gia terduduk hingga tak berapa lama ada lampu sorot yang mengarah padanya. Kini Ia seperti mister Bean yang baru jatuh dari lampu sorot.

Gia menjatuhkan air matanya. Tiba-tiba dekapan halus mengikat tubuhnya. Ibu mengajaknya pergi dari bawah lampu sorot itu. Tak lama tubuhnya menjadi lebih hangat.

Angin meraung raung marah diluar rumah Gia. Hujan menyipratkan semburannya dengan liar. Daun bergoyang disko kesana kesini. Namun Gia semakin terlelap dalam kegelapan kamarnya yang semakin sejuk…

Sawangan, 22 Maret 2009
15:45:03

Friday, March 20, 2009

D.I.A

Dia bersarang disitu. Ssst... jangan berisik. Karena kalau berisik nanti si empunya marah. Dan Ia akan sangat kecewa pada si penampung rahasia. Apa sih Dia? Dia itu sensitif. Indah. Akan banyak dilumuri air mata. Makanya biarkan menjadi rahasia diantara kita saja.

Dia berkembang biak dengan cepat. Sampai si Empunya kelabakan sendiri untuk mencegahnya. Ingin rasanya si empu membuangnya tapi Dia terlalu dirindukan untuk dibuang. Sayang, Dia milik satu orang. Makanya Dia dirahasiakan oleh si empu.

Dia bukan orang. Bukan makhluk hidup. Tapi Dia ada di dalam makhluk hidup. Dia adalah rasa. Didalam hati. Paling dalam. Yang terdalam. Kemudian tertutup awan-awan cumulus tebal disini...

Sawangan, 20 Maret 2009